Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

19 Desember 2013, aku dan teman-teman bergerak ke Wonogiri. Kami berniat berjumpa dengan guru-guru, berbagi omongan dan buku. Niat ingin diamalkan tanpa ragu. 07.00, di Bilik Literasi mulai adegan sarapan nasi goreng. Perjalanan mesti menghindari perut lapar. 07.30, mobil bergerak menuju Wonogiri. Eh, mampir dulu ke warung soto di Gading. Sarapan lagi saat gerimis dan pagi sendu. Perut kami bisa menjadi perut badut: gendut. Oh! Adegan dua sarapan dilengkapi sarapan kata: 4 koran. Di luar hujan, di dalam mobil hujan kata dari Kompas, Koran Tempo, Solopos, Joglosemar.

Kita berjumpa guru-guru di Wonogiri. Mereka berpakaian rapi, duduk sopan di tatanan kursi. Acara guru tentu formal. Aku memilih duduk di belakang, menonton guru-guru. Lho! Menonton adalah tindakan beradab, membuktikan ada keingintahuan. Acara pun berlangsung aneh. Diskusi tiga buku. Aku harus bersabar untuk menonton para penulis, pembicara, peserta. Lihat, guru-guru cuma duduk dan diam. Mereka tampak mendengarkan dan melihat tanpa hasrat turut berceloteh. Aku pun tampil dengan emosional, mengumbar kata-kata keras dan berkelakar.

Pulang dari Wonogiri, aku terus mencoba memahami pelbagai hal: guru, sekolah, buku, diskusi, menulis, membaca, sertifikat, kurikulum, gelar, kuliah, riset, murid…. Aku memerlukan sekian pengertian, berkeinginan mengerti situasi pendidikan di Indonesia, berbekal kata. Apakah aku harus membuka kamus? Apakah harus membuat perbandingan pengertian, masa lalu dan masa sekarang.

Adi Negoro 1

Aku memilih membuka Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia (Bulan Bintang, Jakarta, 1954) susunan Adi Negoro. Konon, ensiklopedi ini garapan awal di Indonesia, rujukan untuk mengerti pelbagai hal. Penerbitan Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia bernuansa politis. Ada penghadiran petikan pidato Soekarno, 17 Agustus 1953: “Didalam perikehidupan kita sebagai bangsa, kitapun dalam windu-pratamanja kemerdekaan kita itu mengalami kelananja ‘baik’ dan ‘buruk’, kelananja ‘plus’ dan ‘min’, kelananja tenaga-membangun dan tenaga-membinasa, – kadang-kadang berganti-ganti, kadang-kadang tjampuraduk-berbarengan laksana hamuknja elemen-elemen didalam putaran angin-pujuh.” Pidato Soekarno memang berisi perumpamaan-perumpaan, mengajak pendengar berimajinasi dan menggugah nalar.

Muhammad Yamin turut memberi sambutan, menghadirkan kalimat wagu di ujung: “Masjarakat memang membuthkan pendjelasan jang pendek-ringkas serta djelas.” Aku menduga kalimat Yamin representasi dari mentalitas para murid, guru, mahasiswa, dosen di Indonesia, dari dulu sampai sekarang. Mereka belajar dari “jang pendek-ringkas serta djelas.” Aduh!

Adi Negoro 2

Aku segera membuka halaman-halaman. Adi Negoro memberi keterangan tentang sekolah: “tempat beladjar serbadjenis ilmu.” Aku tak menemukan penjelasan tentang guru. Apakah ada penjelasan tentang murid? Tak ada. Aku tak bisa menuntut semua hal ada di buku cuma 404 halaman. Aku termangu saat membaca penjelasan tentang buku. Adi Negoro mengingatkan kebermaknaan buku, dari masa lalu sampai masa sekarang: “Victor Hugo pernah mengatakan, bahwa pendapatan pentjetak B. adalah satu kedjadian jang paling penting dalam riwajat dunia. Kemadjuan manusia dipertjepatnja. Membatja kitab-kitab itu menambah pengetahuan seseroang. Orang jang bersahabat dengan B. bernama bibliophiel.”

Apakah guru-guru di Wonongiri sudah bersahabat buku dan berperan sebagai bibliophiel? Aku tak berhak menjawab. Adegan membagi buku ke guru-guru di Wonogiri menampilkan ekspresi “menginginkan” meski harus menunggu pembuktian jika buku itu dipelajari, mempengaruhi dalam agenda mengajar di sekolah. Guru dan buku? Aku jarang melihat rumah para guru ada rak atau lemari buku. Di rumah, guru jarang hidup bersama buku. Di sekolah? Guru hidup dengan sekian buku pelajaran dan ratusan buku tulis. Wah! Guru tak belanja buku? Aku menduga mereka tak belanja buku dengan argumentasi nasi, pakaian, pulsa, bensin….

Dulu, guru-guru adalah penulis dan pembaca buku. Sekarang, guru tak akrab buku meski gaji melimpah. Gaji pantas menjadi rumah, mobil, sepeda motor, telepon genggam, pakaian ketimbang buku. Aku malah ingin mengajak guru-guru insaf. Ha! Aku mengundang mereka dolan ke Bilik Literasi. Aku dan teman-teman pun bersedia dolan ke sekolah-sekolah, berhasrat menggerakkan agenda literasi.

Adi Negoro memberi keteladanan hidup bersama buku. Puluhan buku telah ditulis oleh Adi Negoro, termasuk buku-buku berkaitan pendidikan. Apakah Adi Negoro menginginkan Indonesia adalah negeri buku? Aku memberi amin. Aku justru sulit menerima keterangan-keterangan M Nuh saat sesumbar Indonesia mesti menjadi “bangsa cerdas”. Capaian mencerdaskan itu jarang bermodal buku. Di sekolah dan kampus, buku adalah benda aneh.

Garapan Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia membuktikan etos literasi Adi Negoro. Buku ini sengaja dihadirkan untuk pengakuan Indonesia sebagai negeri buku. Adi Negoro mengakui: “Kami berharap moga-moga penerbitan petjobaan ini, jang telah menghasilkan satu ensiklopedi Indonesia walaupun ketjil dan banjak kekurangannja, mendjadi dorongan untuk mentjapai keinginan jang tertjantum diatas kepada fihak jang bersedia mengetjam dan mengadjurkan sesuatunja untuk kemadjuan pertumbuhan ensiklopedi Indonesia itu….”

Aku adalah pembaca buku-buku Adi Negoro. Aku berharap bisa menekuni hidup bersama buku: membaca dan menulis. Barangkalai keenggananku menjadi guru juga dipengaruhi oleh stigmatisasi di masa sekarang: guru tak berbuku. Begitu.

Iklan