Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Hari demi hari bertaburan kata. Perjumpaan dengan orang-orang adalah perjumpaan kata. 18 Desember 2013, usai mencuci, aku bergerak ke UNS. Aku memenuhi undangan untuk berjumpa dengan para dosen dan mahasiswa dari STAI Darussalam, Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka dolan ke Solo, menginginkan perjumpaan dengan pengarang. Aku dianggap pantas untuk berkhotbah, mengisahkan diri dan sastra. Mereka pasti khilaf saat memilihku jadi pengkhotbah. Ha! Aku bukan pengkhotbah dengan rangkaian kata lembut dan santun. Omonganku sering kasar, jelek, wagu.

Undangan mencantumkan keterangan bahwa acara obrolan berlangsung di lantai 6. Pukul 9, aku lekas bergerak untuk sampai ruangan. Pak satpam menganjurkan agar aku naik “kotak naik-turun”. Aku mengangguk tapi memilih naik ke lantai 6 lewat tangga saja. Tingkat demi tingkat berhasil kutempuhi. Sampailah ke lantai 6. Kosong… Sepi… Aku tersesat dan salah tempat? Aku tak menjawab. Duduk bersandar di tembok, membaca novel berjudul Dua Belas Pasang Mata (Gramedia Pustaka Utama, 2013) karangan Sakae Tsuboi: berkisah kehidupan guru dan para murid di Jepang. Aku terharu tapi tertawa. Lho!

Ada panggilan, permintaan agar aku turun ke lantai 2. Acara telah berlangsung di  lantai 2. Aduh! Novel ditutup meski imajinasiku tentang nasib guru belum redup. Tubuh bergerak, turun ke lantai 2. Masuk ruangan: meja dan kursi tertata rapi. Aku melihat wajah-wajah semringah meski lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Aku dipersilakan berkhotbah. Omonganku tak keruan, berisi aib dan bualan-bualan murahan. Wah! Aku berharap mereka tak mendengar dengan saksama. Eh, mereka justru sering tertawa dan tepuk tangan. Mereka tak tahu, aku sering menghindari adegan tepuk tangan.

Aku bercerita tentang masa SD sampai sekarang. Ada selingan kelakar: aku berkuputusan enggan menjadi guru dan dosen. Mereka memberi tawa. Aku hampir lupa, mereka adalah mahasiswa di jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Mereka tentu bermimpi jadi guru. Aku malah mengajukan pesimisme: “Tak usah jadi guru.” Terbukti! Omonganku berisi ngawurisme, membuat orang “tersinggung” dan “tersungging”. Ha! Maksudku, mereka tersinggung tapi mesem dan tertawa keras, bercampur tepuk tangan. Aku menduga itu ekspresi ejekan dan balasan kritik atas omonganku. Aku memang pengkhotbah tak bermutu!

IMG

Mereka dan khotbah amburadul mengingatkanku pada buku tipis berjudul Guru adalah Pembangun Masjarakat (Departemen Penerangan R.I.), memuat pidato Soekarno dalam Kongres Guru Republik Indonesia, 26 November 1962. Aku suka mengoleksi buku-buku pidato Soekarno, dari pidato tentang cangkul sampai Amerika Serikat. Pidato tentang guru justru menjadi pengikat memori perjumpaan dengan para dosen dan mahasiwa dari Banyuwangi.

Awalan pidato berisi pengakuan: Soekarno adalah anak guru. Kehidupan di keluarga guru di masa kolonialisme jarang memberi jaminan kemakmuran. Soekarno mengenang model penghematan dan penguatan misi pendidikan di keluarga melalui sosok ibu: “Ibu saja tidak berani membeli beras. Saking mahalnja beras… ibu saja membeli padi dan tiap pagi padi itu ditumbuknja sendiri, supaja mendjadi beras dan saja sebagai anak ketjil membantu ibu pada waktu ibu menumbuk padi. Tapi kok, ja kok, saudara-saudara, anehnja saja ini kok djadi orang djuga.”

Ingatan itu ingin mengesankan bahwa Soekarno hidup di keluarga miskin tapi berhasil menjadi pemimpin tenar di Indonesia. Hebat! Aku belum tahu, adegan menumbuk padi mungkin tampil di film baru berjudul Soekarno: Indonesia Merdeka? Aku belum ada niat menonton film garapan Hanung B. Aku masih berkeinginan belanja buku-buku tentang Soekarno ketimbang duduk di bioskop. Aku memilih buku! Wah, sombong.

Aku memberi persetujuan untuk seruan Soekarno: “Djikalau guru-guru Indonesia memang guru-guru jang gemblengan, adjarannja tentu djuga adjaran jang gemblengan. Djikalau guru-guru Indonesia djiwanja, – seperti dikatakan oleh Vivekananda, karung basah, saudara-saudara –, adjarannjapun berdjiwa karung basah.” Omongan itu sindiran bagi guru-guru di masa 1960-an. Apakah aku masih pantas menggunakan seruan Soekarno untuk memperkarakan guru-guru di Indonesia abad XXI? Aku sering keterlaluan jika memuji dan mengejek guru. Aku berulang menulis esai-esai bertema guru, tersaji sebagai bacaan wagu. Aku pun masih berkeputusan bakal menulis esai panjang tentang sejarah penggunaan ungkapan “guru” dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ambisius!

IMG_0002

Soekarno juga menganjurkan: “Guru adalah pembangun djiwa, bukan sadja pembangun djiwa daripada anak-anak, tetapi djuga pembangun daripada masjarakatnja sendiri…” Anjuran mengandung optimisme berdalih revolusi Indonesia. Aku tentu tak mau menggugat Soekarno. Aku pengagum Soekarno meski tak harus pamer simbol, bendera, slogan.

Pidato Soekarno selalu menggoda publik, memberi percik dan bara untuk mengubah nasib Indonesia. Pidato tentang guru memuat pelbagai hal, mengingatkan peran guru sebagai “tiang bangsa”. Aku memang masih enggan menjadi guru tapi bergairah menulis esai-esai wagu bertema guru.

Puluhan buku tentang guru sudah menjadi bacaan dan koleksi di Bilik Literasi. Aku masih terus berambisi membaca ratusan buku guru, mengerti pelbagai hal berkaitan guru, dari masa ke masa. Guru adalah tema tak bakal usang, ada untuk direnungkan tanpa jenuh. Begitu.

Iklan