Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Sebulan lalu, aku dolan ke Ngablak, Magelang. Aku mengoceh tentang desa dan kota di hadapan puluhan mahasiswa IKIP PGRI Semarang. Ocehan digenapi dengan memamerkan buku lawas berjudul Masjarakat Desa di Indonesia Kini (Jajasan Badan Penrbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, 1964), editor Koentjaraningrat. Buku setebal 436 halaman, memuat hasil penelitian dari Masri Singarimbun, Harsja W. Bachtiar, Kampto Utomo, Soeboer Boedhisantoso, Andrea Wilcox Palmer, Peter R. Goethals… Aku menganggap buku ini penting, bacaan untuk mengenang dan mengingat desa.

Buku ini terbit “mendekati” episode keruntuhan rezim Orde Lama. Aku menduga ada pengaruh besar dari pelbagai penelitian antropologi tentang desa mempengaruhi agenda-agenda pembangunan di Indonesia. Laporan penelitian menjadi sumber penentuan kebijakan dan “pengukuruan” keberhasilan atau kegagalan. Pemerintah memerlukan buku dari kerja penelitian, menggunakan metodologi Barat dan referensi-referensi dari para sarjana asing, dari masa ke masa. Aku tak ingkar, desa adalah tema besar dalam hidupku. Sejak lahir, aku terus hidup di desa, sampai sekarang. Ada godaan-godaan untuk bekerja di kota. Aku masih memberi jawab: tidak. Aku telanjur terpikat oleh novel, cerpen, puisi, lagu berkisah desa. Di desa, aku mengalami hidup bersama orang, buku, kambing, tanah, pohon, burung, sungai… Hidup puitis!

Desa 1

Koentjaraningrat mengingatkan bahwa penelitian-penelitian tentang desa bermula dari kerja para penginjil, birokrat, sarjana asing, sekian abad lampau. Mereka datang ke Nusantara, bersebaran ke desa-desa di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua…. Mereka memiliki misi agama, politik, ekonomi, ilmu. Kehidupan di desa dan perangkat keilmuan merangsang mereka membuat penelitian, dari ritual keagamaan sampai urusan kemakmuran di desa. Hebat! Penelitian semakin sering dilakukan sejak pemerintah kolonial memerlukan laporan-laporan berkaitan kebijakan politik, ekonomi, kultural, pendidikan di negeri jajahan.

Hasil penelitian menentukan lakon pembangunan negara. Aku terkejut di ujung pengantar. Koentjaraningrat menulis: “Adapun hasil penelitian-penelitian jang dilakukan diluar universitas-universitas biasanja dipakai langsung untuk keperluan pemerintah atau orgnisasi-organisasi dan partai-partai politik jang bersangkutan. Walaupun demikian kadang-kadang ada pula karangan-karangan ketjil jang diterbitkan dan jang bisa dibatja oleh umum, seperti misalnja karangan D.N. Aidit (1964; 1964a).” Aku tersadar, tulisan-tulisan Aidit belum menjadi referensi dalam esai-esaiku tentang desa. Aidit tentu bakal menulis buku-buku lagi jika mengetahui ada pengesahan undang-undang tentang desa oleh DPR. Ha! Apakah orang-orang di parlemen pernah merasa berhutang dengan pemikiran-pemikiran Aidit? Koentjaraningrat saja membaca dan menghargai buku-buku Aidit. Aku menduga buku-buku Aidit tak ada di perpustakaan DPR.

Desa 2

Aku berharap bisa terus mengumpulkan buku-buku mengenai desa, dari buku lawas sampai buku baru. Ikhtiar ini bisa memicu untuk membuat kamar buku berisi koleksi ratusan buku, kamar belajar bagi para peminat tema desa. Aku cuma mengoleksi buku-buku berbahasa Indonesia dan Jawa. Koleksiku pasti tak lengkap. Konon, buku bertema desa sering terbit dalam bahasa Inggris dan Belanda. Aku tak bisa bahasa Inggris dan Belanda. Aku tentu tampak bodoh jika cuma bersumber dari bacaan berbahasa Indonesia dan Jawa. Biar!

Kampto Utomo dalam artikel berjudul Desa-Desa Transmigran Spontan di Ketjamatan Kaliredjo, Lampung Tengah memberi deskripsi bahwa kebijakan pemerintah kolonial melaksanakan program transmigrasi sejak 1905, dari Jawa ke Lampung, melahirkan “desa-desa kolonisasi masjarakat Djawa di Gedongtataan dan sekitarnja.” Desa-desa terbentuk akibat nalar kolonial, menemapatkan orang Jawa di daerah baru. Desa-desa itu tetap Jawa meski ada di Lampung. Lho! Aku ingin dolan ke Lampung, singgah ke desa-desa warisan program transmigrasi seratus tahun silam. Apakah orang-orang Jawa itu masih “Jawa”? Esai dan resensiku sudah sering dolan ke Lampung, tampil di Lampung Post. Kapan aku dolan ke Lampung?

Desa 3

Keputusan membaca penelitian desa di Minangkabau, Sumbawa, Kalimantan, Makassar, Ambon… menimbulkan gejolak. Wah! Gejolak ingin dolan, bertemu dan singgah di desa-desa, mengajak para penduduk menulis desa. Aku pernah berkeinginan untuk keliling ke desa-desa di Indonesia, bermisi literasi. Desa tak cuma menjadi ruang penelitian bagi para antropolog. Esais juga bisa memenuhi janji literasi, mendatangi desa-desa untuk menerbitkan buku-buku dari kumpulan tulisan warga desa. Tulisan-tulisan itu memuat pelbagai hal.

Buku Masjarakat Desa di Indonesia Kini adalah warisan besar dari masa lalu. Aku membaca dengan takjub, berlagak pamer ke teman-teman agar ada greget belajar tentang desa. Bagiku, desa adalah tema tak usai. Aku bakal mencicil mengumpulkan esai-esaiku tentang desa, menerbitkan menjadi buku kecil. Aku tak bermaksud bersaing dengan D.N. Aidit. Oh! Aku juga tak perlu minder jika buku kecil dibandingkan dengan buku-buku tebal dari disertasi para sarjana Indonesia dan asing. Mereka memang peneliti-peneliti ampuh. Aku cuma menggarap esai, wagu dan tak “ilmiih”. Begitu.

Iklan