Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

21-22 Desember 2013, 2 hari selalu bergerimis dan berhujan. Dua puluhan orang ada di Bilik Literasi, berkeputusan mengikuti 2 Hari Menulis Ibu. Mereka berbekal niat, mewujudkan ingin membuat esai-esai tentang ibu. Detik demi detik berhuruf. Adegan menulis mulai dari pagi sampai malam, sebelum mata dipejamkan. Dingin dan kantuk diladeni dengan menggerakkan pena, menulis di halaman-halaman kosong. Buku-buku bacaan jadi santapan selingan. Ibadah menulis dimuliakan dengan makanan, minuman, lagu, hiburan…. Menulis memang membuat orang-orang keranjingan. Mereka enggan mandi, memilih terus menulis. Bau!

Aku mengajak teman-teman menulis tentang bacaan di buku pelajaran lawas, 1950-an sampai 1970-an. Mereka memilih bacaan bertema ibu atau bertokoh ibu. Koleksi puluhan buku pelajaran membuat mereka kaget alias “nggumun”. Hari demi hari, aku terus mengoleksi buku pelajaran: membaca dan mempelajari. Di kardus-kardus, ada ratusan buku pelajaran. Teman-teman mulai memanfaatkan untuk menggarap esai, bermula dari bacaan. Kerja menulis menjadi rangsangan memori. Sip!

Aku turut mengenang, mencari jejak-jejak pendidikan di Indonesia dalam buku pelajaran dan bacaan. Aku memilih buku berjudul Titian (Noordhoff-Kolff N.V. Djakarta, 1950) karangan R.M. Djamain. Gambar-gambar dalam buku dipersembahkan oleh Sajuti Karim. Buku ini bermaksud sebagai “djambatan antara membatja permulaan dengan membatja lantjar.” Buku disajikan bagi murid-murid di kelas 2 SR (Sekolah Rendah). Penulis dan penerbit memberi keterangan penting di awal: “Kitab ini ditjetak dengan memakai edjaan Republik Indonesia. Djalan ini jang diikuti, supaja tertjapai kesatuan edjaan Bahasa Indonesia.”

Titian 1

Buku ini memuat bacaan-bacaan bertema pendidikan, menampilkan tokoh-tokoh di sekolah dan rumah. Aku tergoda bacaan berjudul Penilik Sekolah. Bacaan cuma 2 halaman, bergambar apik. Lihatlah, guru berpenampilan necis dan penilik sekolah tampil mirip pejabat. Di ruangan, murid-murid duduk tenang dan sopan. Buku-buku ditumpuk di meja guru. Aku kagum melihat ruang kelas tampak “intelektual”. Sekarang, apakah ruang kelas masih bernuansa intelektual?

Guru dan penilik bercakap tentang murid-murid. Percakapan mengesankan ada pembuktian kemampuan belajar. Adegan ini idealitas meski jarang terwujud.

“Pandai-pandaikah murid tuan?” tanjanja. “Adakah murid jang nakal?”
“Tidak,” djawab guru. “Baik-baik semuanja. Mereka sudah pandai membatja dan berhitung.”
Penilik sekolah tersenjum. Ia melihat kepada murid-murid.

Sekarang, percakapan antara guru dan penilik bisa manipulatif. Pihak sekolah sering membuat laporan manis meski bohong. Laporan demi “kebaikan” sekolah di mata pejabat dan publik. Di institusi pendidikan, kebohongan lumrah dilakukan. Kebohongan itu menurun dari para pejabat di pusat.

Titian 2

Senin, 23 Desember 2013, resensiku berjudul Renungan Pendidikan Indonesia 2045 tampil di Suara Merdeka. Aku meresensi buku kumpulan esai dari M. Nuh. Buku itu wagu. Aku membaca dengan pelbagai curiga, dari urusan pendidikan sampai adab. Orang-orang sering berpolemik mengenai pendidikan: kurikulum, ujian nasional, sertifikasi guru…. Aku memang ingin turut mengerti seribu perkara pendidikan. Hasrat membaca tulisan-tulisan M. Nuh menjadi tindakan menilai pemikiran dan kebijakan pendidikan dari sang menteri. Oh!

Esai-esai tentang pendidikan telah aku sajikan ke pembaca. Resensi untuk buku-buku bertema pendidikan juga sudah aku “pamerkan” ke publik. Ikhtiar itu menjadi bekal sugestif saat berhadapan bacaan berjudul Terlambat Sekolah. Adegan murid terlmbat masuk sekolah. Gambar menampilkan guru berdiri dengan berwibawa. Di depan pintu, guru dan murid bercakap berkaitan alasan keterlambatan.

Guru: Mengapa engkau terlambat, Ripin? Sekolah sudah lama mulai.
Ripin: Saja berangkat dari rumah seperti biasa, engku. Ditengah djalan saja
melihat burung elang. Terbangnja menudju kerumah kami. Saja teringat
ajam saja.
Guru: Tidak apa, bukan?
Ripin: Ajam kami baru beranak. Anaknja lepas dihalaman. Saja takut, ia
disambar elang itu.

Ripin terlambat masuk sekolan dengan alasan melihat burung elang. Ha! Guru tak marah. Guru malah memberi perhatian atas tindakan Ripin, mengimbuhi pesan agar tak mengulangi lagi keterlambatan masuk ke sekolah. Apakah Ripin masih ada di zaman sekarang? Murid terlambat sering berurusan dengan guru-guru “galak” atau satpam. Aku berimajinasi bahwa situasi bersekolah di masa lalu menggunakan adab. Kesalahan tak lekas mendapat dampratan atau hukuman. Keterlembatan memerlukan alasan. Murid memiliki hak menjelaskan pada guru. Aku jadi ingat, keterlambatan adalah peristiwa rutin saat aku masih di SD, kelas 1 sampai 3.

Titian 3

Aku berulang membaca buku Titian, pernah aku gunakan sebagai referensi dalam bercerita dan menggarap esai. Aku merasa terpukau berhadapan dengan buku-buku lawas. Ada kehendak membuat ulasan panjang, menghadirkan ke publik sebagai buku memori. Buku-buku lawas mengandung ajakan mengingat zaman berbeda. Aku merasa perlu memberi deskripsi-narasi tentang sekolah, guru, murid, sekolah, orangtua, desa, kota… Ratusan buku pelajaran lawas mesti segera digarap dengan girang. Begitu.

Iklan