Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Pengisahan tokoh tak harus berasal dari politik, hiburan, ekonomi, seni. Tokoh-tokoh dari desa pantas jadi bab berbeda saat orang-orang sibuk mencari informasi tentang pejabat, artis, atlit. 22 Desember 2013, Jinah datang ke Bilik Literasi. Perempuan berusia 75 tahun, berpakaian khas orang desa. Duduk tenang, bercerita tentang diri, saat masih bocah sampai tua. Pelbagai hal diberikan sebagai kisah (tak) biasa ke teman-teman dalam 2 Hari Menulis Ibu. Jinah pun sanggup mengisahkan asmara dan kemiskinan. Memori terbuka, memicu kesedihan dan tawa. Aku turut mendengar di ruang sebelah, menahan air mata. Aku sudah sering mendengar tapi selalu terharu. Perempuan bernama Jinah itu simbok: ibuku.

Ada episode-episode kehidupan saat mbok Jinah mendapat kebaikan dari para tetangga dan saudara. Agenda menghidupi 7 anak tak mudah, rawan dengan frustrasi, hutang, sedih…. Mbok Jinah bisa melewati masa-masa berat. Sekarang, mbok Jinah melihat para anak melakoni hidup dengan pelbagai terang dan samar. Semua sudah bekerja, mendapati julukan “resmi”. Aku belum mendapat pengakuan meski mbok Jinah sudah mulai memahami hidupku: membaca dan menulis.

Lakon keluarga pantas jadi ingatan, bereferensi mbok Jinah. Aku pun mulai mengerti tentang ikhtiar mbok Jinah mendapat doa dan sokongan dari orang-orang baik. Aku ingat ungkapan “ilmu jiwa sosial”. Ungkapan ini aku comot dari judul buku garapan Adi Negoro, Ilmu Djiwa Sosial dan Seseorang, Balai Pustaka, 1950. Buku kecil, 112 halaman, berisi hal-hal psikologi. Wah! Seingatku, Adi Negoro biasa menulis tentang sastra, jurnalistik, politik…. Adi Negoro berpetuah dari tulisan lawas di Apollo, Yunani: “Kalau kamu kenal dirimu, kamu selamat dalam hidupmu, kalau kamu tidak mau mengenal dirimu, bahaja akan menimpa kamu, sebab jang memuliakan kamu, bukan orang lain, tapi kamu sendiri. Dewa, Tuhan dan orang lain, hanja memuliakan orang jang tahu memuliakan diri sendiri dan dia memperlindungi barangsiapa jang berusaha mempelingi diri sendiri.” Ah, cerewet dan ruwet!

Senewen 1

Mbok Jinah ingin dan berikhtiar memuliakan hidup. Orang-orang pun turut memuliakan meski ada di situasi miskin. Ajakan mengenali diri mirip seruan para motivator. Aku bisa memahami kehadiran kalimat-kalimat Adi Negoro di masa 1950-an. Pengertian ilmu jiwa, individu dan sosial, memiliki pengaruh penting bagi proses kemajuan atau modernisasi di Indonesia. Kesadaran tradisional mulai mendapat imbuhan berjuluk ilmu psikologi. Orang-orang “intelektuil” perlahan menggunakan teori-teori psikologi untuk membaca Indonesia. Sip!

Penjelasan klise tapi aku perlu mengutip: “Orang pulau, lain djiwanja dari orang benua, orang ditepi pantai lain djiwanja dari orang dipegunungan, sehingga sering mendjadi pertentangan antara ‘orang pesisir’ dengan ‘orang darat’. Orang jang hidup disatu kampung jang tanahnja tidak subur, untuk bertanam padi, sempit-sempit ladangnja, lain bentuk djiwanja dari daerah jang kaja tanah jang subur dan lapang-lapang ladang dan tempat perumahannja.” Aku berjanji tak bakal mengulangi uraian Adi Negoro jika aku berkhotbah atau menulis. Ya! Uraian biasa tapi mulai tak memiliki greget di masa sekarang saat berlimpah para sarjana dan kaum berlagak “ilmiih”.

Senewen 2

Aku sulit mengimajinasikan para pembaca buku Adi Negoro. Apakah mereka lulusan sekolah-sekolah modern? Buku itu menjadi bekal untuk mengalami hidup di Indonesia, negeri goncang oleh politik, ekonomi, kultural. Buku itu pernah ada, hadir sebagai bacaan bermutu ketimbang buku-buku motivasi di toko buku. Berbekal buku kecil aku bisa mengimajinasikan interaksi mbok Jinah dengan orang-orang untuk memuliakan hidup. Adi Negoro menjelaskan: “Rasa kemasarakatan…. jaitu misalnja, tjinta antara anggota-anggotanja, rasa tolong-menolong, rasa suka tunduk kepada anggapan masarakat, dan takluk pada adat-istiadat.”

Seingatku, Adi Negoro jarang muncul di buku-buku pengantar psikologi. Apakah para penulis tak pernah mendapat perkuliahan psikologi dengan rujukan Adi Negoro? Aku maklum jika orang-orang tak harus membaca atau menganggap ada pengaruh buku garapan Adi Negoro bagi perkembangan psikologi di Indonesia. Barangkali buku Adi Negoro tak mengalami cetak ulang, dibaca oleh puluhan orang. Membaca lalu lupa. Lho! Aku pun bisa lupa meski mengaku sebagai kolektor buku-buku Adi Negoro.

Mbok Jinah mengajariku menjadi lelaki tak minder atau pemalu, berkaitan kondisi hidup dan biografi keluarga. Simbok ingin aku memiliki gairah hidup, tampil sebagai lelaki wajar tanpa siksa opini dari publik. Ajaran mbok Jinah mirip penjelasan dari Adi Negoro: “Umumnja apabila seorang jang merasa serba rendah dan serba kurang, bertindak dalam pergaulan dan pertjaturan hidup dengan tidak mendapat penghargaan, melainkan tjemooh dan rintangan, maka makin besar tjemooh dan rintangan, maka makin besar pula usahanja untuk memperlihatkan kelebihannja dan kekuasaannja, maka kadang-kadang seluruh masarakat itu mendjadi atau dianggapnja musuhnja, sehingga djiwanja bertambah lama bertambah terdjepit dan dia menghadapi krisis djiwa atau kemelut djiwa, dia senewen dan achirnja harus berobat dibawah tilikan seseorang ahli sakit djiwa.” Hah! Satu alinea cuma satu titik. Adi Negoro tak bisa sengaja kalimat terengah dan berkeringat.

Aku mulai agak tak menggubris  buku Adi Negoro jika ingat tatapan mataku saat ke kios kiron, 23 Desember 2013. Senewen! Mataku melihat ada foto A. Soebandono dan lelaki ganteng di sampul tabloid Nyata. Aku lekas membeli, membaca di emperan rumah sambil bersedih. Lho! Jiwaku tergoncang… Mengapa? Aku merasa ada “kemelut jiwa” akibat memilih A. Soebandono sebagai artis idola. Begitu.

Iklan