Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Dua hari, tiga lelaki hidup di Bilik Literasi. Apa bakal terjadi? Mereka berlagak menjadi intelektual, berperistiwa membaca, menulis, bercakap, makan, tidur… 2 hari, kehidupan bertaburan huruf. Aku bersaing menulis esai-esai. Naga dan Fauzi juga menulis esai, pengesahan dari pengakuan sebagai esais. Oh! Sabtu, 28 Desember 2013, esaiku berjudul Pemiskinan tampil di Koran Tempo. Esai kecil dan wagu, ikhtiar melacak pengertian miskin berkonteks kekuasaan dan korupsi. Naga dan Fauzi aku persilakan membaca. Mereka tampak memberi pesan, esaiku kurang greget.

Hidup bersama tapi memilih tema berbeda dalam bacaan dan garapan esai. Kami memang harus bersombong, memberi sengatan untuk literasi. Detik demi detik beputar, aku terus berhasrat menggarap esai-esai wagu. Malam pun berlalu. Minggu, 29 Desember 2013, esaiku berjudul Waktu… tampil di Jawa Pos. Pagi, aku dan Fauzi bergerak ke Manahan, berniat belanja buku. Naga tentu masih tidur, esais dan peneliti dalam mimpi. Wah!

Fauzi mendapat sekian buku-buku agama. Aku tak membeli buku atau majalah. Uang di kantong justru aku belanjakan celana, 30 ribu mendapat dua celana pendek, berwarna hitam dan coklat. Hore! Aku senang dan terharu, sanggup mengenakan celana pendek baru dan murah. Terima kasih Tuhan, memperkenankan diriku bercelana. Pulang, tiga lelaki sarapan nasi dan kata-kata. Kami terus berliterasi. Eh, esaiku berjudul Waktu dan Imajinasi tampil di Koran Sindo. Resensiku berjudul Seks dan Revolusi di Mesir tampil di Lampung Post. Dua hari aku ingin mengingat esai dan resensi, bukan dua lelaki miskin dan berlagak “intelektuil”. Lho! Gojekan.

Aku mesti insaf tentang teknik dalam menulis esai agar tak ada repetisi kebahasaan dan rangsang makna. Ingatanku mengarah ke buku berjudul Teknik Mengarang (Balai Pustaka, 1950) susunan Mochtar Lubis. Buku ini mengajak pembaca belajar mengarang cerpen dan roman. Tak ada materi tentang mengarang esai. Waduh! Aku sengaja mengingat buku lawas itu saat ada kegandrungan menulis puisi dan cerpen, sejak SMA. Dulu, aku belum bergairah menulis esai. Buku Teknik Mengarang jadi bacaan pilihan meski aneh dan kadaluwarsa. Ingat kata teknik, aku ingat masku: kuliah di jurusan Teknik Sipil UMS.

Berhasrat 1

Mochtar Lubis memberi penjelasan tentang alasan pembuatan buku: “Pikiran untuk menjusun buku ini timbul, ketika penulis dalam pekerdjaannja sebagai pemimpin redaksi madjalah Mutiara, hampir setiap hari menerima surat-surat, kartu pos dan sebagainja dari pengarang dan orang-orang jang berhasrat mengarang dari seluruh podjok Indonesia. Dan dalam surat-surat mereka bertanja, bagaimana kami harus mengarang?”

Aku kaget, surat dan kartu pos dijawab dengan buku. Sip! Mochtar Lubis tentu orang baik, memberi jawaban panjang agar orang-orang tidak dilanda kebingungan selama ribuan tahun. Aku tak hidup di masa 1950-an, sulit menduga kegirangan para pengirim surat dan kartu pos. Mereka bersukacita? Mereka semakin berhasrat mengarang cerpen dan roman? Indonesia di masa 1950-an mengabarkan selebrasi literasi. Sekarang? Aku sungkan memberi perbandingan dengan fakta-fakta buruk. Wah, aku bisa menulis “fakta”.

Berhasrat 2

Buku setebal 124 halaman berisi tulisan-tulisan dari Mochtar Lubis, Badaruzzaman (M. Dimyati), S. Tasrif, Utuy T. Sontani, Achdiat K. Mihardja. Mereka adalah pengarang kondang, mewarisi tulisan-tulisan apik untuk kita. Aku termasuk ahli waris tulisan-tulisan mereka tapi belum lengkap. Dulu, aku tidak menjadi keluarga. Jatah warisan jadi tidak berlimpah. Ha!

Petuah dari Badaruzzaman: “Bila orang merasa dirinja benar-benar menaruh minat dalam dunia karang-mengarang, bila orang merasai bahwa dalam djiwanja betul mendebur darah seni dan sastra, maka baiklah ia meneruskan usahanja beladjar karang mengarang dan hendaklah mempunjai kepertjajaan pada diri sendiri, sanggup beladjar sendiri dan mengatasi segala kesukaran dengan hati teguh, beladjar berpikir sendiri. Pendeknja, segalanja membutuhkan tenaga sendiri, karena mengarang tak dapat dipeladjari dibangku sekolah dan dikursus-kursus.” Klise… Klise… Aku menganggap klise. Dulu, aku tak bisa menganggap klise.

Berhasrat 3

Ingatanku bergerak ke masa SMA. Aku biasa menulis dengan bolpoin di kertas-kertas bekas, hasil pengumpulan dari dagangan kertas milik masku. Aku kadang menulis menggunakan mesin tik. Aku sanggup membeli mesin tik setelah bertekad “mencuri”. Aduh! Berdosakan aku? Buku-buku sastra di perpustakaan aku santap dengan penasaran. Di sekolah dan rumah, belajar menulis puisi dan cerpen. Hasil tulisan sering ditaruh di bawah tumpukan pakaian, di lemari. Lembaran-lembaran itu berhasil dibaca oleh masku, mahasiswa jurusan Teknik Sipil di UMS. Ada pujian meski meragukan. Sekarang, masku terus mengurusi teknik sipil atau bangunan, bekerja dan berumah di Jakarta. Aku pun terus berlagak menjadi arsitek kata tanpa harus kuliah di jurusan “Teknik Kata”.

Utuy T. Sontani urun tulisan, mengisahkan proses menggarap drama Suling. Pengisahan untuk merangsang pembaca sadar dengan pengalaman dalam menguatkan kehendak mengarang. Ingatan dari utuy T. Sontani: “Seperti djuga orang lain, dizaman permulaan Djepang mendarat di Indonesia, akupun sering mendengar pidato-pidato dalam rapat umum atau dibawah tjorong radio umum. Dan seperti djuga kebanjakan dari mereka, bagiku djuga jang menarik perhatian itu pidato dari pemimpin-pemimpin besar: Bung Karno, Bung Hatta, Kiai H. M. Mansur dan Ki Hadjar Dewantara…” Kekhidmatan mendengar pidato memunculkan imajinasi menggarap tokoh-tokoh dalam drama Suling mengacu ke para penggerak bangsa. Aku justru tergerak untuk sadar pengalaman untuk menggarap esai-esai berbekal pesan dari si pengarang kondang tapi “terasing” di negeri Lenin. Begitu.

Iklan