Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Malam usai gerimis lembut, tiga lelaki bergerak mencari angkringan di Ngringo, 30 Desember 2013. Aku, Ramdhon, Fauzi sengaja bertemu, mengobrolkan siasat mengurusi website kampungnesia.org. Obrolan kecil, berharap ada etos dan ketekunan: agenda merekam kota dan kampung di Indonesia. Di angkringan, obrolan tak sepanas wedang jahe atau teh. Kami adalah lelaki kalem, bicara pelan dan sopan. Weh! Obrolan tentang kampung dan kota tak mesti berlagak sebagai birokrat. Aku cuma tukang membaca-menulis, Ramdhon adalah dosen dan sosiolog, Fauzi itu peminat filsafat pendidikan. Kami berhak mengurusi kota dan kampung, mengajukan ikhtiar kecil dengan website kampungnesia.org dan BuletinKampungesia.

Sebelum ke angkringan, aku berkata ke Ramdhon dan Fauzi mengenai novel lawas, referensi untuk mengingat Solo. Novel itu bisa jadi suguhan di website kampungensia.org. Aku mengingat pernah menggarap esai menggunakan novel Asmaraman S. Kho Ping Hoo berjudul Geger Solo (CV Gema, 1979). Aku berjanji untuk suguhkan kebermakaan buku itu bagi “sejarah” Solo meski tak “penting”. Esaiku memang cuma mengutip secuil, memberitahu ke pembaca tentang situasi banjir di kampung-kampung. Pengarang sajikan derita tapi memunculkan “kebersamaan” warga dalam bersikap dan bertindak saat banjir melanda Solo, 16 Maret 1966.

Geger 1

Penerbit memberi keterangan arti novel Geger Solo bagi agenda mengenang Solo: “Memang cerita ini hanya khayal belaka, akan tetapi toh latar belakangnya  adalah kejadian yang nyata. Air telah menghancurkan ratusan rumah, menghanyutkan ribuan ternak dan ribuan kepala keluarga menderita hebat akibat mengamuknya Bengawan Solo itu. Kerugian ditaksir ribuan miliar rupiah dan untuk kota Solo sendiri setiap harinya dikerhkan 4000 orang selama 24 jam untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan akibat banjir bandang ini. Empat tanggul jebol, dan yang terpanjang jebolnya mencapai 191 m. Sungguh luar biasa!” Aku sulit mengimajinaskan masa silam Solo saat banjir. Kho Ping Hoo merekam peristiwa, mengolah menjadi novel apik dan deskriptif. Sip! Aku menerima maksud penulis dan penerbit tapi agak risih melihat sampul buku: adegan lelaki berbaju necis dan perempuan…  berpelukan. Gambar itu disuguhkan oleh Joko W. untuk menggenapi pengisahan.

Apakah Perpustakaan Kota Solo dan perpustakaan di Monumen Pers mengoleksi novel Geger Solo? Sekian tahun, aku dolan ke perpustakaan di Solo: tak menemu novel Geger Solo. Apakah pengelola menganggap novel Kho Ping Hoo tak berharga atau dianggap “referensi”mengenang Solo? Ah, aku tentu tak mau memberi jawab sendiri. Di perpustakaan IAIN Solo, UMS, UNS, aku juga belum pernah menemukan koleksi novel garapan Kho Ping Hoo. Perpustakaan di universitas-universitas malah pamer novel-novel Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, 5 cm, Negeri 5 Menara… Para mahasiswa memang tak harus mengingat Solo melalui novel. Mereka mesti bersukacita menikmati novel-novel asmara dan bergelimang motivasi ilusif. Lho!

Geger 2

Deskripsi Kho Ping Hoo saat air bah menghajar Solo: “Whrrr…. Krasak krasak krasak…. Whrrr… whrrr… ! suara air bah yang datang bergulung-gulung, air merah kekuningan yang mengerikan, datang menyerbu kota Solo bagaikan barisan maut yang ganas menyeramkan.” Pembaca pasti teringat dramatisasi mirip adegan-adegan dalam cerita silat gubahan Kho Ping Hoo. Penggambaran situasi mencekam membuat pembaca menginsafi ada “geger” tak tertanggungkan.

Orang-orang memberi ungkapan dramatis: “Seperti suara ombak-ombak Segara Kidul”, “Seperti air Gerojogan Sewu di Tawangmangu”, “Seperti express malam.” Aku kaget dengan ungkapan terakhir: “ekspress malam”. Aku mengartikan air bergerak cepat, bersuara keras. Orang-orang harus berlari sebelum terseret air. Kho Ping Hoo pun melanjutkan bahwa usai gemuruh air bermunculan jeritan-jeritan dan teriak. Tangisan keras terdengar dan keributan membuat suasana semakin tak keruan. Aku berharap adegan-adegan dalam novel Kho Ping Hoo bisa menjadi referensi menggarap sketsa atau film. Aku tak bisa melukis dan membuat film. Aku cuma menanti ada orang memiliki greget untuk mengisahkan Solo. Oh!

Geger 3

Bencana sering menggerakkan bela rasa, simpati, solidaritas sosial. Kho Ping Hoo memberi penjelasan: “Setelah hari menjadi pagi, berbondong-bondong datanglah bala bantuan… Makin lancarlah usaha pertolongan terhadap para korban… Sekolah-sekolah penuh dibanjiri pengungsi, rumah-rumah perkumpulan dan rumah-rumah penduduk yang besar, semua menampung pengungsi tanpa pilih bulu, tanpa pilih kasih dan tanpa hitungan. Tangan-tangan penuh keharuan, penuh perikemanusiaan diulurkan dengan rela dan jujur untuk menolong sesama manusia yang menderita malapetaka.” Aku merasa haru, turut merasai derita dan misi kemanusiaan.

Novel setebal 92 halaman ini adalah warisan penting bagi Solo. Apakah Pemerintah Kota sudah memberi “apresiasi” dan mengenalkan novel Geger Solo ke publik? Mereka tentu tak berpikiran novel atau sastra. Sekian tahun, Solo sengaja dijadikan “kota tontonan” dengan gelaran seni pertunjukan dan festival. Aku memaafkan jika mereka tak mengerti novel, tak menempatkan Kho Ping Hoo sebagai pengisah Solo. Kota ini pernah moncer sebagai kota pustaka dan kota pujangga tapi perlahan hilang dari ingatan publik. Ikhtiar Kho Ping Hoo menggarap novel Geger Solo, rampung ditulis 21 April 1966, representasi dari rasa memiliki Solo dan menanggung derita warga saat mengalami bencana banjir. Begitu.

Iklan