Tag

, , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

31 Desember 2013, aku duduk bersama dua mpu. Ada mpu sastra bernama Seno Gumira Ajidarma. Ada mpu musik bernama Rahayu Supanggah. Aku diminta oleh Mbah Prapto (Padhepokan Lemah Putih) untuk menjadi moderator bagi dua mpu dalam acara Srawung Seni Candi. Di Candi Sukuh, gerimis dan dingin. Obrolan di Candi Sukuh adalah selingan siang dari sekian seni pertunjukan dan ritual. Omonganku saat mengantar obrolan tak sedingin udara di Gunung Lawu. Aku sering mengucap kalimat-kalimat sinis, berkelakar mirip wong desa.

Pagi, para pejabat memberi pidato. Aku malas mendengar, ekspresi meremehkan. Waduh! Mengapa aku jarang menerima ocehan pejabat? Mereka berlagak mengerti seni, candi, peradaban. Kalimat-kalimat dilafalkan tanpa greget. Saat berpidato, orang-orang memotret. Usai para pejabat berpidato, orang-orang bertepuk tangan. Tugas pejabat adalah berharap dipotret dan mendapat tepuk tangan. Ha! Aku tampak sinis. Uraian itu sengaja aku sampaikan di awal obrolan bersama dua mpu, berharap situasi emosional dan intelektual. Wah!

Seno Gumira Ajidarma mengingatkan tentang “perlawanan” sebagai siasat dan ejawantah menggerakkan peradaban, dari abad ke abad. Candi Sukuh dan pengisahan di Sudamala adalah bukti dari agenda perlawanan kultural, estetika, kekuasaan…. Rahayu Supanggah memberi renungan santun: “Desa adalah perpustakaan peradaban”. Aku sejenak diam, melihat wajah mpu, mencari jejak-jejak imajinasi desa. Rahayu Supanggar memang manusia desa, berkelana ke pelbagai negeri dan bermata dunia. Dua mpu memberiku bekal untuk menggoda orang-orang turut dalam obrolan, tak menjadi penonton.

Di Candi Sukuh, aku segera ingat buku Prof. Dr. N.J. Krom, berjudul Zaman Hindu (P.T. Pembangunan, 1954). Buku ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Arif Effendi. Buku setebal 260 halaman bisa jadi bekal mengimajinasikan Indonesia di masa silam, mencari latar historis-religius-kultural-politik dari pembangunan Candi Sukuh, abad XV. Ha! Aku membaca buku garapan Krom untuk “mengerti”, tak berlanjut memerankan diri sebagai peneliti atau sejarawan.

Candi 1

Buku ini merangsang orang-orang di masa 1950-an mengaji sejarah. Penerbit memberi keterangan: “Memang telah banjak diterbitkan buku sedjarah di Indonesia ini maupun karangan, maupun terdjemahan, akan tetapi buku ini chusus menguraikan tentang zaman Hindu-Indonesia, jang amat berpengaruh pada perkembangan Indonesia sampai sekarang.” Pembaca tentu berpikiran ada “kehormatan” atas penerbitan buku Krom dalam edisi bahasa Indonesia, referensi bagi para peminat dan sarjana sejarah. Buku ini termasuk buku langka, dicari oleh para kolektor dan peminat sejarah.

Ingat zaman Hindu, ingat candi-candi dan sastra. Aku menganggap buku Zaman Hindu adalah bacaan penting untuk selisik peradaban di Indonesia. Krom sering menguatkan dalil bahwa zaman Hindu menentukan nasib Indonesia sekian abad. Pribumi dianggap mencapai peradaban tinggi setelah berhubungan dengan India, mulai dari urusan religisositas sampai aksara-sastra. Oh!      

Candi 2

Krom menulis: “… Mengenai kebudajaan Hindu jang pertama kita hanja boleh mempertjajai sesuatu, jang karena djenis aksara, langgam kesenian atau tanggalnja, tidak disangsikanlagi sifat dan umurnja. Bahan-bahan keterangan ini menundjukkan tanah asal kebudajaan Hindu, seperti jang kita lihat tadi, pesisir tenggara India, dari udjung selatan sampai dengan muara Kistna dan Godawari.” Aku takjub, mengimajinasikan prosesi kedatangan dan pengaruh dari India ke Indonesia. Krom masih memberi keterangan lanjut: “Tetapi sekarang timbul pertanjaan, dengan sendirinja tetapi tidak semudah seperti jang dilihat sekelibat mata: dengan tjara bagaimana berlakunja pengharuh Hindu itu? Apa sebabnja orang Hindu keluar dari daerah tersebut ke Nusantara atau umumnja ketanah-tanah Timur Djauh dan apa yang mereka tjari disini?” Krom, jawablah sendiri. Aku tak mengerti pelik-pelik sejarah.

Di masa keruntuhan Majapahit, muncul pesaing-pesaing dalam pembentukan peradaban di Nusantara. Islamisasi mulai terjadi dengan pesat, bergerak dari pesisir ke pedalaman. Krom menerangkan: “Djawa jang baru berpaut pada jang lama, wajang tetap terus dan sedikitpun tidak berkurang populernja, walaupun wajang dimainkan dengan lukisan manusia dan bahan tjeriteranja berasal dari kakawin-kakawin kuno. Seni bangunan monumen dan seni hiasan tetap bentuk-bentuk jang tua itu, djuga dapat kita kirakan pada sebuah monumen ciwaisme. Demikianlah orang dapat mengirakan, bahwa agama baru itu, jang amat berkuasa dipantai, menaruh tjabang-tjabangnja sampai kepusat kekuasaan keradjaan, maka hanjalah menanti waktunja sadja lagi, kalau pusat kekuasaan inipun harus mengalah.” Dramatis! Kehadiranku di Candi Sukuh memberi ingatan atas warisan-warisan dari zaman Hindu dan proses “pergantian” kiblat dalam arus peradaban di Nusantara.

Candi 3

Candi sebagai warisan dari masa silam tak cuma tumpukan batu atau relief. Aku pernah menulis esai-esai tentang candi. Aku juga pernah berpidato mengenai candi, waktu, peradaban di Candi Sukuh, setahun lalu. Di Candi Sukuh, 3 tahun silam, aku menjadi pujangga: menulis puisi-puisi religius dan seksualitas. Eh, aku ingat peristiwa percakapan panjang bersama Radhar Panca Dahana, lima tahun silam. Di Candi Sukuh, kami bercakap pelbagai tema, santap bersama dan berkelakar.

Ingat candi, ingat buku. Aku pun ingat Kris Budiman, pengembara dari candi ke candi, dari buku ke buku. Begitu.

Iklan