Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Jumat, 10 Januari 2014, esaiku tentang shalat dan politik Indonesia terbit di Solopos. Aku mengingat Soekarno, A. Hassan, M. Natsir. Mereka berurusan dengan shalat dan perkembangan politik Indonesia, masa 1930-an. A. Hassan dan M. Natsir menulis buku peshalatan. Soekarno adalah pembaca buku, pembelajar agama saat mengalami pembuangan di Endeh.

Aku menulis esai itu dengan penasaran, mengimajinasikan penerbitan buku-buku agama di masa silam. Apakah buku-buku itu menjadi bacaan kaum pergerakan politik, kaum intelektual, kaum awam? Apakah pemerintah kolonial membuat sensor dari penerbitan buku-buku Islam? Apakah alasan penulis menggunakan bahasa Jawa, Melayu, Belanda? M. Natsir menulis buku tentang shalat dalam bahasa Belanda, beralasan buku itu menjadi bacaan kaum terpelajar. Natsir menganggap mereka fasih berbahasa Belanda ketimbang bahasa Melayu akibat model pendidikan kolonial. Oh! Aku membaca buku Natsir dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia.

1950, bertepatan 12 Maulud 1360, terbit buku berjudul Demokrasi Islam dalam Teori dan Praktek (N.V. Masa Baru, Bandung) karangan Al-Hadj R.A.A. Wiranatakusumah. Semula, buku ini terbit dalam bahasa Belanda. Penerjemahan ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Muhammad Tahrir Ibrahim. Siapa Al- Hadj R.A.A. Wiranatakusumah? Aku tidak pernah berjumpa atau bercakap tapi mendapat keterangan dari si penerjemah buku. Dulu, penulis itu cuma dikenal sebagai R.A.A. Wiranatakusumah, pernah menjadi bupati, Menteri Dalam Negeri RI, Wali Negara Pasundan. Wah, orang terkenal! Sekarang, orang-orang masih mengenal R.A.A. Wiranatakusumah?

Demokrasi 1

Buku ini penting untuk mengingat Islam dan demokrasi di Indonesia. Al-Hadj R.A.A. Wiranatakusumah berseru: “Agama jang oleh saudara-saudara Muslimin dipeluk, tidak mengenal kapitalisme Barat dengan individualismenja jang tidak berdisiplin. Agamamu mengakui harganja individu dan mendisiplin kepadanja untuk memberikan segala kepunjaannja dalam pengabdian terhadap Allah dan manusia, pertama-tama tentu sekali terhadap bangsanja sendiri. Kemungkinan-kemungkinan dari agama itu djauh daripada kehabisan: masih ia dapat mentjiptakan suatu dunia demokrasi sedjati jang baru.”

Aku tergoda membuat esai, berisi ingatan tentang relasi Islam dan demokrasi di Indonesia. Buku-buku harus lekas dikumpulkan dan dibaca. Keinginan ini masih mengandung sangsi jika ingin mendapat koleksi lengkap karangan Al-Hadj R.A.A. Wiranatakusumah. Buku-buku karangan dalam bahasa Belanda: Muhammad de Profeet, Vrede door gebed, Muslim’s gebed, Islamitishe mena, Mijn reis naar Mekka… Siapa mengoleksi buku-buku R.A.A. Wiranatakusumah? Apakah para peneliti asing malah sudah menggarap artikel panjang mengenai sosok dan pemikiran R.A.A. Wiranatakusumah?

Demokrasi 2

R.A.A. Wiranatakusumah menjelaskan: “Agama Islam memelihara pula adanja keseimbangan dalam kenegaraan, dalam arti kata, bahwa bukan sadja kaum Muslimin diharuskan tunduk kepada mereka jang memegang kekuasaan, tetapi jang achir inipun diwadjibkan bermusjawarat dengan jang lain, sebelum mereka menerima sesuatu usul undang-undang atau mengeluarkan perintah.” Aku merasa ajaran Islam memang sering ditafsirkan secara beragam saat para penggerak bangsa mencoba memilih sistem demokrasi di Indonesia. Perdebatan selalu bekepanjangan, memunculkan pemberontakan atau permusuhan. Tafsiran Islam dan demokrasi menjadi samar dan tak selesai diurusi sampai sekarang saat orang-orang berkeinginan memenangi Pemilu 2014, menggunakan pamrih nasionalis atau agamis.

Aku sajikan penjelasan R.A.A. Wiranatakusumah: “… pengertian demokrasi didalam Islam itu bukan hanja sampai hak pemilihan umum atau pemerintah dari rakjat, oleh dan untuk rakjat sadja. Tidak pula tjukup, bahwa kita telah berdjiwa kejakinan dari kenjataan, bahwa kita manusia sebagai machluk jang berakal itu sama dan bahwa orang seorang itu hanja dapat mengembangkan dirinja dengan mengabdikan diri terhadap sesama manusia.”

Demokrasi 3

Aku tak ingin menaruh kalimat-kalimat itu dalam spanduk, bersaing dengan pameran foto dan slogan kebohongan dari para caleg. Aku juga enggan mengingatkan para caleg agar insaf bahwa berpolitik itu mengamalkan ajaran-ajaran agama. Mereka sudah keterlaluan dan tersesat. Ha! Di spanduk, mereka mencantumkan “H” alias gelar haji, membuat tulisan: “mohon doa restu dan dukungan”. Apakah mereka sengaja mengajak publik dengan pameran simbol agama?

Buku ini boleh dipinjam oleh para caleg atau pengamat politik. Mereka perlu membaca buku lama, mengingat masa lalu dan merefleksikan untuk masa sekarang. Buku setebal 36 halaman tentu tak memerlukan waktu membaca selama sebulan. Buku ini berkhasiat, mengajak orang mengerti perdebatan tafsir Islam dan demokrasi, dari masa ke masa. Siapa mau membaca?

Ingat R.A.A. Wiranatakusumah, ingat intelektualitas para tokoh bangsa di masa lalu. Mereka memang mengerti politik, memiliki jabatan di pemerintahan. Mereka tak cuma ada dalam konteks kekuasaan tapi tampil sebagai pemikir atau penulis buku, dari urusan agama sampai politik. Mereka mewariskan buku-buku. Sekarang, caleg dan capres membuat buku biografi dulu sebelum bertarung dalam Pemilu 2014. Buku dijadikan sebagai bujukan ke publik agar kagum dan memilih. Di toko, puluhan buku mereka aku lihat dengan tatapan mata sinis. Begitu.

Iklan