Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Keputusan membeli buku tak mesti bergantung harga dan ketebalan. Aku terlanjur melihat dan memegang buku aneh, berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia PalingBerpengaruh (KPG, 2013) susunan Tim. Semula, buku ini aku anggap panduan bagi pelajar atau mahasiswa. Buku setebal 734 halaman ada di hadapan. Keputusan harus terjadi dalam 5 detik, tak usah merenung lama. Aku pun membeli buku bersampul lukisan Hanafi. Aku berniat membaca sebagai murid di SMA agar tak terlalu “menuduh” atau memuji. Seharian buku telah selesai dibaca. Aku membaca dengan pengandaian mau ikut ujian. Membaca harus cepat. Oh! Aku sudah berulang membaca biografi-biografi para tokoh di buku. Ada sekian tokoh aku kurang mengenali: Denny JA dan Helvy Tiana Rosa. Aku kurang mengakrabi buku-buku mereka.

Aku segera menaruh buku baru di depan komputer, diniatkan untuk digarap jadi resensi. Aku mendiamkan selama sekian hari. Semoga tak lupa. Aku malah bersemangat membaca ulang buku Prof. Dr. A. Teeuw, Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru (Jajasan Pembangunan, 1953). Lho! Aku sudah membaca dan mengoleksi buku ini sejak SMA tapi tak bosan membaca ulang. Dulu, buku ini sering aku jadikan referensi dalam garapan-garapan tugas kuliah, berlanjut untuk garapan esai-esai kecil. Buku-buku A. Teeuw perlahan jadi koleksi pilihan, bersanding dengan buku-buku garapan H.B. Jassin dan Umar Junus.

Tokoh 1

Di awal buku, kritikus sastra asal Belanda mengakui: “… pilihan jang saja lakukan mengenai kesusasteraan sesudah tahun 1942 itu agak sesuka-suka sadja. Karena dengan pemilihan setjjara demikian itu, saja tentulah sekali-kali tidak bermaksud memperlihatkan suatu daftar tingkatan jang tetap sifatnja atau memperlihatkan suatu pemisahan, bahwa apa jang diperkatakan itu harus dianggap sebagai jang terpenting dan apa-apa jang tidak dibitjarakan sebagai jang tidak penting.” Aku berterima dengan pengakuan A. Teeuw ketimbang lekas memberi tuduhan “tak adil”, “diskriminatif”, “selera sepihak”. Aku bakal ingat patokan: “agak sesuka-suka sadja.”

Sekian pilihan tokoh sudah aku akrabi. Aku memilih menekuni sekian tokoh. Aku memang sudah mengenali dan membaca buku mereka tapi merasa nama-nama mereka kurang berkibar di langit sastra Indonesia. Mereka jarang jadi perbincangan atau soal dalam ujian sekolah. Aku membaca ulasan mengenai Hamidah. Nama indah dan membuatku memiliki gambaran tentang perempuan anggun, cerdas, modern, cantik.   Aku mengikuti sajian dari A. Teeuw: “Tentang Hamidah tak ada jang lain saja ketahui selain daripada bahwa dialah jang mengarang sebuah buku ketjil Kehilangan Mestika (1935). Sebuah buku ketjil jang sesungguhnja bukan karena rupanja atau karena hal-hal lain menarik perhatian kita, tetapi karena sifatnja jang chusus dan jang dalam banjak hal penting djuga.” Waduh, maksudmu? Aku diajari bersabar, menanti kehadiran buku biografi utuh Hamidah sebelum orang-orang melupakan. Aku tak ingin “Kehilangan Hamidah”.

Tokoh 2

Aku beralih ke Rivai Apin. Nama dan puisi gubahan Rivai Apin muncul dalam novel Pulang garapan Leila S. Chudori. Rivai ingin diajukan kembali sebagai tokoh penting, “diperantarai” oleh novel. Dulu, A. Teeuw sudah membahas meski pendek. Di alinea awal, A. Teeuw memberi penilaian: “Sebagai penjair, terang bahwa dia kurang daripada Chairil, dan tak pula ada ilham Chairil padanja, – tak ada padanja tenaga untuk mengatakan barang sesuatu setjara puisi seperti jang diperlihatkan Chairil Anwar dalam sedjumlah sadjaknja – hampir tak pernah dia mengatasi dirinja sendiri, baik dalam karangan-karangannja dahulu maupun dalam tulisan-tulisannja jang agak paling baru.” Kalimat A. Teeuw selalu membawaku ke “zaman bahasa ragu” dan “zaman bahasa bersolek”. Wah! Chairil Anwar terlalu tokoh ketimbang Rivai Apin? Ah, pilihanmu hampir membuatku ingin bertanding tuduhan.

Buku garapan A. Teeuw adalah masa lalu, tak mengalami cetak ulang sampai 2014. Aku jadi menduga jumlah pembaca buku Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru, sejak masa 1950-an. Apakah melampaui jumlah seribu pembaca? Aku membaca buku ini bermisi belajar sastra Indonesia. Buku dari masa lalu sering mendekatkan diriku dengan latar ruang dan waktu, digenapi imajinasi sembarangan. Aku terpesona buku-buku lama. Ingat buku itu, aku merasa ada perbedaan dengan kehadiran buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Tokoh 3

Aku merasa terpilih untuk memiliki dan membaca buku susunan A. Teeuw. Buku ini turut memberi petunjuk dalam memberi perhatian ke tokoh dan buku. Sejak lama, aku berencana membuat buku apresiasi, mengulas biografi tokoh dan ulasan-ulasan atas buku. Keinginan itu masih ada dalam kardus, belum aku buka. Ha! Buku-buku sastra sudah menumpuk di rumah. Eh, aku belum segera mulai. Pemalas! Aku mengurusi garapan esai-esai kecil, belum mengarah ke buku.

Dua buku itu memilih tokoh-tokoh sama: Muhammad Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Armijn Pane, Chairil Anwar, Hamka, Idrus…. Tokoh pilihan terakhir dari A. Teeuw adalah Usmar Ismail. A. Teeuw tak melanjutkan serial buku sampai 10 jilid. Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh mencantumkan tokoh paling akhir adalah Helvy Tiana Rosa, sesuai sajian halaman di buku.

Aku tak pernah bertemu A. Teeuw. Aku cuma membaca buku-buku A. Teeuw dalam terjemahan bahasa Indonesia. Apakah aku bakal dolan ke Belanda, berziarah ke makam A. Teeuw, berharap bisa berdoa dengan esai. Aku ingin mengucap terima kasih  atas warisan-warisan A. Teeuw, mengurusi sastra di Indonesia selama puluhan tahun. Buku Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru tak boleh dilupakan oleh Indonesia. Begitu.

Iklan