Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

“Sebab itu, hai saudara-saudaraku, aku mintalah kamu oleh segala rahmat Allah, mempersembahkan tubuhmu mendjadi kurban jang hidup lagi kudus jang berkenan kepada Allah, maka itulah ibadahmu jang patut.” Perkataan Paulus ini dikutip di akhir tulisan J. Verkuyl. Kutipan berkaitan uraian tentang mahasiswa bertanggung jawab. Predikat menjadi mahasiswa berhubungan dengan kuasa dan kehendak Allah. Mahasiswa harus mempertanggungjawabkan predikat demi Allah, gereja, masyarakat. Oh! Aku mulai mengerti kebermaknaan mahasiswa dan terang ajaran agama, misi mengabarkan ilmu, kebaikan, pencerahan, adab….

Dulu, aku bareng Ramdhon, dosen dan penggagas Kampungnesia.org, mencari buku-buku lawas. Pencarian itu turut dipengaruhi sekian obrolan tentang identitas dan peran mahasiswa. Eh, aku menemukan buku tipis dan aneh. Di sampul buku tercantum judul: Mahasiswa Bertanggungdjawab oleh Dr. J. Verkuyl dan Tjara Membuat Karangan Ilmiah oleh Dr. W. Lempp (Badan Penerbit Kristen, Jakarta). Buku tipis tapi mengejutkan, mengacu ambisiku untuk mengerti pendefinisian di masa lalu. Aku masih sering kesulitan membuat konstruksi kehidupan mahasiswa di Indonesia jika menilik situasi politik, pendidikan, ekonomi, kultural dari masa 1940-an dan 1950-an.

Mahasiswa 1

J. Verkuyl mendefinisikan: “Seorang mahasiswa ialah seorang manusia, jang dari masjarakat, dari bangsanja, dari negaranja, dari geredjanja, dari Allah beroleh izin untuk beladjar dengan tudjuan jang tertentu.” Aku memastikan definisi tak bakal tercantum di kamus-kamus berbahasa Indonesia, sejak masa 1940-an. Aku malah tergoda dengan pengertian “bertumpuk”. Mahasiswa “beroleh izin” dari Allah. Misi kuliah berarti ibadah? Mahasiswa memiliki tanggung jawab religius, etis, keilmuan…. Aku menduga definisi itu dibentuk dari penjelasan firman-firman Allah saat orang melakoni proses belajar sepanjang masa. Wah! Berkuliahlah, beribadahlah. Lha, mahasiswa-mahasiswa sekarang tak lagi merujuk firman Allah untuk kuliah. Waduh! Mereka harus disadarkan, diminta membaca buku J. Verkuyl. Harus!

Aku termenung saat membaca penjelasan mengenai Allah, mahasiswa, waktu: “Allah mempunjai suatu maksud dengan memberikan waktu itu kepada kita sebagai mahasiswa-mahasiswa. Ia mempunjai rantjanganNja dengan itu. ia menghendaki sesuatu dengan waktu itu.” Aku pun ingin membuat sindiran: “Wahai, mahasiswa-mahasiswa, kemalasanmu untuk belajar atau abai waktu belajar adalah bentuk keingkaran atas firman Allah.” Sekarang, mahasiswa-mahasiswa memahami waktu untuk pacaran, pamer diri di mall atau pinggir jalan, tidur, menonton televisi, mendekam di warung internet, pelesiran….. Wah! Mereka bisa mendapat kutukan Allah, merugi sampai akhir zaman.

Mahasiswa 2

Keterangan-keterangan di tulisan J. Verkuyl selalu berkaitan agama. Tulisan ini sengaja diajukan ke mahasiswa theologi tapi bisa dipersembahkan ke mahasiswa umum. Aku menganggap penting, berkaitan pendefinisian mahasiswa dan pendasaran ke religiositas. kebiasaan para peneliti menjelaskan mahasiswa berkonteks politik dan inteletektual memang harus dilengkapi dengan rujukan religiositas.

Aku setuju dengan saran J. Verkuyl agar para mahasiswa menjadi “kaum perpustakaan”. Saran biasa tapi sulit diamalkan oleh mahasiswa dengan seribu alasan tak bermutu. J. Verkuyl menjelaskan: “Tiap mahasiswa harus sudah mulai membentuk perpustakaannja sendiri mulai dari saat ia mendjadi mahasiswa.” Saran ini basi jika melihat keputusan-keputusan besar dari mahasiswa baru. Mereka menghendaki ada pemenuhan kebutuhan: sepeda motor, komputer, baju, uang saku, sepatu, telepon genggam… Agenda membuat perpustakaan tentu tak ada dalam daftar kebutuhan. Oh!

Mahasiswa 3

Aku sering sinis saat mengomentari mahasiswa di zaman sekarang. Aku paling muak saat melihat televisi. Lihatlah, mahasiwa dengan jas almamater ikut jadi penonton patuh di acara-acara tak bermutu. Tugas mereka adalah berteriak, tepuk tangan, berjoget. Aku menduga mereka bangga ikut membuat acara-acara picisan jadi ramai dan sukses. Mereke bepergian dari rumah dan kampus, bergerak ke studio-studio televisi demi menjalankan “tugas mulia”. Ih! Semoga mereka lekas insaf, mengingat firman Allah dan memutuskan untuk menjadi mahasiswa bertanggungjawab. Aku anjurkan bersegeralah membeli dan membaca novel garapan Chetan Bhagat berjudul The Idiots (Qanita, 2013). Promosi? Aku sudah membeli, berharap bisa menjadikan novel sebagai referensi esai sinis dan sengit. Begitu.

Idiot

Iklan