Tag

, , , , , , , ,

Andre Gide di Indonesia

Bandung Mawardi

Alkisah, Chairil Anwar datang ke rumah-sanggar Sudjojono, ingin dilukis. Sudjojono mau dengan imbal balik, Chairil mesti mencarikan cat putih. Mata Chairil Anwar jelalatan.

“Wah, ini bagus Djon!” katanya sambil mengambil Andre Gide-ku.

“Itu jeng Mia dapat dari loakan.”

“Wah, wah! Perempuan yang tahu menyelamatkan Andre Gide dari loakan. Seorang istri ideal Djon!” seru Chairil bersemangat.

Aku tertawa saja mendengar pujian Chairil yang berlebihan. Buat aku biasa-biasa saja. Aku melihat, dan aku tertarik untuk membacanya. Maka aku membelinya. Titik. Mana yang istimewa di sini? Aku tahu, Chairil memang pemuja Andre Gide.

Aku mendapat kutipan pertemuan dan percakapan mereka dalam buku berjudul Sudjojono dan Aku (ISAI, 2013) susunan Mia Bustam. Buku itu aku ambil dari rumah Sanie B. Kuncoro, sore. Aku baca sejenak, malam. Aku bersedih dan terharu. Asmara, politik, seni rupa, kota… bercampur menjadi otobiografi impresif. Aku terlambat membaca buku Sudjojono dan Aku. Semula, aku membaca buku Mia Bustam berjudul Dari Kamp ke Kamp.

Eh, aku tak ingin terlalu larut mengenang Mia Bustam dan Sudjojono. Aku penasaran dengan ulah Chairil Anwar. Di rumah Sudjojono berlagak “meminjam” buku milik Mia Bustam demi memenuhi puja Andre Gide. Aku mengagumi Mia Bustam, pembaca sastra mumpuni. Ah, Chairil Anwar dan Andre Gide. Aku pun ingat buku terjemahan berjudul Pulanglah Dia Si Anak Hilang (P.T. Pustaka Rakjat, 1956).

Gide 1

Chairil Anwar tak cuma pujangga moncer. Chairil Anwar juga penerjemah sastra-sastra dari Barat. Acuan kemodernan membuat Chairil Anwar lahap menikmati sastra-sastra berbahasa asing, acuan mengolah estetika “baru” bagi kesusastraan Indonesia. Chairil Anwar memang memberi goncangan, membuat arah sastra bergerak ke “obsesi” kemodernan.

Penerbitan hasil terjemahan teks Andre Gide berjudul Pulanglah Dia Si Anak Hilang membuktikan kemampuan Chairil Anwar berbagi selera sastra ke pembaca di Indonesia. Judul asli: Le Retour de l’enfant Prodigue. Buku milik Mia Bustam berjudul De Nieuwe Spijzen. Di masa 1940-an, aku menemukan dua orang pembaca Andre Gide di Indonesia: Mia Bustam dan Chairil Anwar. Sangar! Puluhan tahun berlalu, aku pun menjadi pembaca Andre Gide dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia.

Gide 2

Chairil Anwar membaca teks-teks prosa dari Barat. Mengapa Chairil Anwar tak mewariskan novel ke pembaca? Apakah terlalu beriman menjadi pujangga, penggubah puisi-puisi? Aku berharap bakal ada orang menemukan rancangan novel garapan Chairil Anwar meski 10 halaman atau 12 halaman. Chairil Anwar itu novelis? Aku saja berlagak menjadi penulis novel, selingan dari keranjingan menggarap esai dan resensi. Weh!

Adegan dramatis sesuai terjemahan Chairil Anwar.

Tidak sak lagi, dia memang menanti anak jang hilang, sebab dia terus mengenalnja kembali. Maka dikembangkannja tangannja; si anak hilang berlutut depannja dan tangan jang satu menutup mukanja, sedang tangan jang lain diangkat minta ampun, dia berseru: – Bapak!

– Bapak! Bapakku! Besar dosaku terhadap langit dan terhadap bapak; tidak patut lagi aku disebut anak bapak, tetapi biarkanlah aku hidup disalah satu podjok rumah kita sebagai budjang jang paling rendah…

Aku tak bisa bahasa Inggris, Belanda, Prancis tapi merasa penggunaan bahasa Indonesia oleh Chairil Anwar membuatku terpesona. Ah! Kisah apik dan emosional. Aku bisa menikmati jenis bahasa Indonesia “lawas” milik Chairil Anwar, bahasa Indonesia dari masa 1940-an. Terjemahan Andre Gide di masa sekarang tentu memiliki bahasa berbeda ketimbang olahan sang pujangga tak ganteng, penggerak Angakatan ’45.

Apa arti Andre Gide bagi Indonesia? Penerbit memberi penjelasan: “Selama tahun-tahun terachir, lingkungan pembatja jang makin meluas dapat mengagumi prosanja jang klasik; dalam bahasa Indonesia Andre Gide belum dikenali lagi. Maka itu kami sadjikan suatu terdjemahan sebuah karangan Gide jang sudah terkenal sekali: Le Retour de l’enfant Prodigue.” Para pembaca di dunia telah mengenal Andre Gide. Di Indonesia, Andre Gide mulai memberi pikat untuk para sastrawan dan pembaca sastra.

Aku ingin terjemahan Chairil Anwar kelak terbit lagi, digabung dengan model penerjemahn mutakhir. Dua hasil terjemahan diterbitkan dalam satu buku, disertai ulasan perbandingan dan esai tentang kebermaknaan sastra Prancis di Indonesia. Penerbit Serambi atau Kepustakaan Populer Gramedia pantas untuk menggarap buku berisi dua hasil terjemahan, mengajak pembaca melakukan lacak memori pesona bahasa Indonesia dalam terjemahan dan menghormati Chairil Anwar sebagai penerjemah.

Gide 3

Aku termasuk pembaca novel-novel terjemahan dalam bahasa Indonesia. Aku ingin membuat perbandingan selera, kenikmatan, pesona, efek dari penggunaan bahasa Indonesia oleh para penerjemah. Buku Pulanglah Dia Si Anak Hilang adalah rujukan penting untuk mengerti energi bahasa Indonesia. Chairil Anwar tentu bukan penerjemah sembrono. Buku ini bukti dari ketekunan berbahasa Indonesia dalam kerja sastra.

Di rak dan lantai, aku melihat ratusan novel-novel terjemahan. Aku ingin merampungkan semua, mengulas tentang keberlimpahan produksi terjemahan di Indonesia ketimbang novel-novel Indonesia diterjemahkan ke bahasa-bahasa asing. Novel terjemahan terbaru dalam daftar koleksi di rumahku: English karangan Wang Gang, Gramedia, 2013. Terjemahan oleh Barokah Ruziati. Novel ini berkisah tentang pengaruh kamus bahasa Inggris di Cina. Begitu.

Iklan