Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

17 Januari 2014, 11 siang, suara perempuan di telepon mengharuskan diriku pergi ke Jakarta. Mengapa aku harus ke Jakarta? Apa inginku mendatangi kota sedang dilanda banjir. Harus! Aku pun minta bantuan ke Sanie B. Kuncoro, membeli tiket pesawat dan berhutang ongkos. Gerimis mengantarku ke bandara, duduk di pesawat menuju Jakarta. Sejam berlalu. Hai, Jakarta! Hujan, hujan, hujan.

Aku ingat setahun lalu. Bepergian ke Jakarta, sendiri. Aku diajak rapat oleh pengarang-pengarang kondang. Rapat? Wah, rapat adalah agenda mengerikan. Ha! Aku sering takut dalam rapat, merasa tak memiliki otoritas. Dulu, Kurnia Effendi mengajak aku menginap di rumah, membantuku menuju Blok M. Belanja buku! Aku bernafsu belanja buku ketimbang rapat. Lho! Aku mendapat buku Zeffry Alkatiri, Post Kolonial & Wisata Sejarah dalam Sajak (Padasan, 2012). Buku menggoda! Buku itu mengajak diriku kelak kembali ke Jakarta.

Alkisah, pulang dari urusan rapat dan belanja buku di Jakarta. Aku duduk santun di Bandara Soekarno-Hatta, berperan menjadi pembaca. Sejak dari Solo, aku mencicil membaca novel Pulang (Kepustakaan Populer Gramedia, 2012) garapan Leila S. Chudori. Novel itu rampung aku baca di bandara, detik-detik menunggu adegan masuk pesawat. Sejenak diam, usai halaman akhir. Sedih, air mata menetes. Di luar tidak gerimis atau hujan. Menangis. Bersedih sendiri tentu wagu. Aku pun berkirim pesan ke Sanie B. Kuncoro tentang aku dan Pulang. Novel itu mulai aku baca di Solo, berakhir di Jakarta. Sedih di Jakarta. Novel itu kelak memintaku kembali ke Jakarta.

Jumat tak jelas, aku berada di Jakarta, 17 Januari 2014. Dua buku telah memberi undangan untuk aku masuk ke Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. 7 malam,  di panggung ada Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, Katrin Bandel. Usai mereka berpidato, aku diminta naik ke panggung. Malu. Malu. Malu. Berdiri wagu di panggung di hadapan tatapan mata ratusan orang. Oh! Dua medali dikalungkan di leherku. Mengapa ada medali dan tepuk tangan? Dua esaiku mengenai buku puisi garapan Zeffry Alkatiri dan Pulang menjadi pemenang unggulan 1 dan dua dalam Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013. Alhamdulillah.

Dua buku mengantarku kembali ke Jakarta. Keesokan hari di toko milik Jose Rizal Manua, aku belanja buku Djakarta dalam Puisi Indonesia (Dewan Kesenian Jakarta, 1972) susunan Ajip Rosidi. Buku ini aku idamkan sejak lama, rujukan mengingat Jakarta. Aku memerlukan puisi dari para pujangga untuk membuat diriku tak selalu linglung dan gamang selama di Jakarta.

Jakarta 1

Ajip Rosidi menerangkan: “Apabila seorang penjair menjebut atau menjanjikan tentang suatu kota atau tempat dalam sadjaknja, nistjaja karena ada atau pernah terdjadi hubungan, paling tidak pertemuan, antara si penjair dengan kota atau tempat itu.” Mengapa ada kerja mencari dan mengumpulkan puisi-puisi tentang Jakarta, dari 1930-an sampai 1970-an? Apakah sajian puisi-puisi tentang Jakarta penting untuk pembaca, berdalih selebrasi imajinasi kota atau hasrat mengenang kota? Ajip Rosidi menulis: “Banjaknja sadjak jang ditulis tentang Djakarta itu menundjukkan segi lain dari persoalan manusia Indonesia jang sedang membangun nasionnja. Pada tahun-tahun pertama setelah pengakuan kedaulatan, agaknja telah terlalu banjak harapan digantungkan di Djakarta; tetapi pada tahun-tahun berikutnja terbukti bahwa harapan-harapan itu kebanjakan hanjalah gantangan asap belaka.” Wah, istilah lawas!

Jakarta 2

Rendra dengan puisi berjudul Tjiliwung jang Manis (1955) memberi sindiran ke Jakarta. Sindiran bermula dari sungai, mengarah ke cara manusia mengalami kota. Jakarta pun menjelma “kota kasihan”.

Tjiliwung mengalir

dan menjindir gedung-gedung kota Djakarta

kerna tiada bagai kota jang papa itu

ia tahu siapa bundanja.

Tjiliwung bagai lidah terdjulur

Tjiliwung jang manis tundjukkan lenggoknja.

Puisi dari masa 1950-an itu masih patut dibaca saat Ciliwung menjadi tanda seru bagi Jakarta, saat hari-hari berhujan. Jakarta belum usai mengalami banjir. Banjir belum mau sirna, dari tahu ke tahun. Orang-orang sering ingat banjir, ingat gubernur. Mereka tak ingat puisi? Hidup di Jakarta memang tak mengharuskan orang mengenal dan mengingat puisi. Waduh!

Jakarta 3

Hari-hari berhujan di Jakarta. Hujan sudah ada sejak dulu. Hujan ada tanpa harus ikut urbanisasi, dari desa ke kota. Jakarta hujan itu biasa saja. Sapardi Djoko  Damono menulis puisi sendu, berjudul Djakarta Di Bawah Hudjan (1964).

djakarta di bawah hudjan, lampu demi lampu laksaba dalam impian

sunji hatiku seperti bukit, orang-orang bergerak bagai mainan:

ketika semakin reda tersembul aneka suara

terdjebak dalam sadjakkku, suasana dalam sebuah suasana

50 tahun silam, Sapardi Menulis Puisi tentang hujan di Jakarta. 17 Januari 2014, di panggung Sapardi Djoko Damono berkata tentang kritik sastra. Pujangga itu telah menua tapi tak kehilangan kata-kata untuk merangsang sastra di Indonesia. Pidato itu ada bersama hujan. Aku masih ingat wajah dan tubuh kurus si pujangga saat melihat hujan dari dinding kaca. Hujan. Hujan. Hujan. Puisi!

Puisi tentang Jakarta juga disuguhkan oleh Wing Kardjo. Puisi berjudul Nevermore (1959). Wah, pakai bahasa asing. Judul asing tapi puisi tetap bisa terbaca oleh mata berbahasa Indonesia.

Ini hari, ini kota, ini djalan

aku telah menempuhnja lewat mata

pulangnja tinggal riwan

bajangan derita.

Puisi-puisi tentang Jakarta sering duka dan sedih. Ah! Para pujangga tak memberi kabar baik atau girang bagi pembaca. Mengapa mereka menulis Jakarta dengan kata-kata …. Aku pun merasa sering gamang saat ada di Jakarta meski tak berpuisi. Begitu.

Iklan