Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Senin, 20 Januari 2014, pagi gerimis dan tubuh kedinginan. Kopi masih berasap, panas. Aku berniat menikmati pagi dengan lambat, tak perlu cemas. Lelah dari perjalanan Jakarta-Solo belum selesai. Minggu pagi, sampai di rumah, 8 pagi. Aku dan Fauzi bergegas ke Balai Soedjatmoko, bertemu dan bercakap bersama teman-teman Pawon. Kita rapat untuk festival sastra, 22-23 Februari 2014. Rapat? Aku sering geli dengan kata rapat. Eh, temanku malah sering mengganti kata rapat dengan istilah dari bahasa Inggris. Aku pun jadi sebal. Sebelum sampai ke Balai Soedjatmoko, aku belanja ke toko buku, membeli buku berjudul Santo dan Sultan: Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib (Alvabet, 2013) susunan Paul Moses.

Siang, memijat dan menemani simbok. Sekian hari, simbok terbaring sakit. Simbok ingin sering ditunggui si anak ragil alias Kabut. Langit mendung, aku bersedih. Berlanjut istirahat di rumah, membaca tumpukan buku, hasil belanja dari Blok M dan Senen. Aku juga simak koran-koran edisi Minggu: Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Suara Merdeka…. Sore, terkapar di kamar buku: menggigil. Malam, agenda Sinau Sejarah berlangsung di Bilik Literasi. Heri P. mendongeng tentang film dan Solo di hadapan 16 orang. Di atas karpet, terhidang teh, roti bakar, gorengan. Aku tinggal sejenak, mengurusi simbok.

Malam berlalu, pagi datang dengan gerimis. Kabar dari pembaca: resensiku untuk buku berjudul Partai Masjumi: Antara Godaan Demokrasi & Islam Integral (Mizan, 2013) garapan Madinier tampil di Suara Merdeka. Lega. Resensi itu telah aku tulis sejak lama, pembuktian dari kemauan membeli buku tebal dan mahal agar berfaedah sebagai resensi atau esai. Resensiku wagu dan tak memukau. Aku pun ingat buku bertema politik: Kamus Politik, terbutan Pustaka Andalas-Medan, 1949 (cetakan IV). Kamus itu susunan Amir Taat Nasution. Siapa dia? Wah, jadi ingat kuis lawas di TVRI. Oh, siapa dia.

Kamus Politik1

Amir Taat Nasution menulis: “Saja susun kitab kamus ketjil ini, pada pertama kalinja adalah karena didorong oleh hadjah masjarakat jang sangat membutuhi kitab-kitab politik, terutama hendak mengenal kalimat dan pendjelasan politik jang mesti diperkatakan setiap hari dizaman politik ini. Sambutan rakjat terhadap buku demikian, sangat besar, sehingga buku tjetakan pertama jang ditjetak hanja 2000 buku, habis terdjual dalam tempo 50 hari sadja.” Laris!

Kamus Politik ini harus jadi ingatan bersama untuk merecoki ambisi para caleg dan capres. Mereka pintar omong, memakai kata-kata khas dan asing. Pilihan kata digunakan demi pamor, pamer ilmu dan kefasihan berbahasa asing. Bahasa politik di Indonesia berlimpah, dari wajar sampai berlebihan, dari lokal sampai asing, dari bersih sampai kumuh. Aku ingat pilihan kata mereka. Muak! Bosan! Benci! Jijik! Waduh, aku terlalu emosional.

Kamus Politik 3

Amir Taat Nasution berpesan: “Kitab kamus jang seperti ini sangat besar faedahnja bagi orang-orang jang tingkatan rendah tentang pengetahuannja dari segi ilmu politik, dan kitab ini semoga hendaknja mendjadi kitab penolong bagi sipembatja jang saja maksud. Berlainan dengan orang jang sudah menengah ketjerdasannja. Bagi mereka berharga dan tiada berguna lagi.” Aku tak bakal mengabaikan Kamus Politik. Penerbitan kamus di masa 1940-an tetap penting untuk mengerti lakon bahasa politik di Indonesia, usai mengalami kolonialisme. Kamus membekali orang-orang melek politik, berdemokrasi dengan bahasa modern. Wah!

Aku kutipkan pengertian demonstratie. Kata ini sudah masuk ke panggung politik di Indonesi sejak lama meski demonstrasi sebagai peristiwa heboh mulai jadi memori publik sejak 1966-1998. Penjelasan tentang demonstratie, berasal dari bahasa Belanda: “arak-arakan simbol-simbol jang dipertunjdukkan kepada umum, dengan mengandung arti politik. Sekarang, di pelbagai kampus dan kota, demonstrasi adalah peristiwa biasa, kehilangan pikat dan pesan. Kecanduan demonstrasi menimbulkan kritik dan sesalan. Demonstrasi dengan kerusuhan atau bentrok pun mulai membuat jemu. Demonstrasi dalam politik di Indonesia hampir kehilangan jejak sejarah dan penguatan makna. Lho!

Kamus Politik 2

Kata paling sering digunakan saat sekarang adalah presiden. Aku kutipkan pengertian presiden dalam Kamus Politik. Kata ini berasal dari bahasa Latin, president: “ketua atau kepala… kepala negara jang berdasarkan republik jang modern seperti sekarang ini atau negara jang demokratis jang dipilih oleh rakjat sendiri, tidak karena keturunannja.” Arti sederhana tapi diperebutkan orang-orang bepakaian necis, bermodal besar. Ah, para capres itu tentu tak memiliki Kamus Politik, berpikiran arti presiden adalah pembuktian hasrat kekuasaan.

Aku juga tidak bakal mencari keberadaan Kamus Politik sebagai referensi dalam buku Selalu Ada Pilihan garapan SBY. Sang presiden pasti memiliki referensi-referensi mutakhir berbahasa asing dalam membuat buku berlimpah amanat mengenai politik. Buku persembahan SBY tentu laris, melampaui angka penjualan dari Kamus Politik. Aku tak kaget. Aku cuma penasaran, di masa silam, ribuan orang berkeinginan membeli, membaca, memiliki Kamus Politik susunan Amir Taat Nasution. Apakah orang-orang, jelang pemilu, tergoda mencari dan mengoleksi buku Selalu Ada Pilihan susunan SBY? Buku tebal, mahal.

Masa demi masa berlalu. Politik di Indonesia berubah. Garapan kamus membutuhkan perbaikan dan penambahan agar menjadi bekal publik mengerti politik. Kamus Politik terbitan 1946 adalah warisan penting. Aku tak mungkin melupakan. Begitu.

Iklan