Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Di Bilik Literasi, 19 Januari 2014, Heri P., sejarawan dan kolomnis Solo tempo doeloe, mengoceh tentang film dan sejarah Solo. Heri memang rajin membaca buku-buku sejarah Solo, rajin menonton film-film romantis. Lho! Sekian hari lalu, Heri mengabarkan diri ada di kursi bisokop, menonton film Tenggelamya Kapal Van Der Wijck. Pesan pendek disetor padaku: romantis, menggugah perasaan. Semula, aku berniat menonton film tapi batal setelah membaa resensi di koran dan majalah. aku belum ingin resepsiku atas novel Hamka berantakan oleh film.

Aku ingin lekas mendegar ocehan Heri, tak cuma urusan film dan sejarah Solo. Heri juga harus menjelaskan selera dan efek film-film romantis. Aku merasa tak sengepop Heri, tak mengerti film romantis. Bohong! Eh, aku tak berbohong, malu mengaku saja. Aku juga penikmat film meski… Ah, tak usah sibuk mengurusi film romantis. Aku bakal selalu ingin melihat film televisi picisan: pagi, siang, malam. Film-film itu hiburan bersama adegan-adegan membaca dan menulis.

Aku ingin berurusan dengan majalah film, terbitan Solo. Ha! Dulu, ada penerbitan majalah bernama Star News, dihadirkan oleh Badan Penerbit Star News, beralamat di Widuran 61, Solo. Majalah penggemar film diterbitkan di Solo, masa 1950-an? Ampuh! Harga eceran Rp 2.

Film 1

Aku ingin memberi kutipan-kutipan isi dari Star News No. 12 Tahun III, 1955. Aku mulai dari rubrik “Tulis Pembatja”. Ada kiriman tulisan dari Bawuk (Solo), berisi rasa mengasihani: “Dengan tidak usah malu-malu saja mengakui bahwa saja adalah seorang penggemar film serial. Tjuma jang saja herani, setiap menjaksikan film serial saja belum pernah melihat scene-scene orang makan, pula jang lebih mengherankan lagi para pemain tidak pernah ganti pakaian, sedang pada tiap-tiap habis perkelahian tidak pernah nampak ada jang luka-luka atau berdarah misalnja. Kasihan, kapankah mereka mereka itu diberi makan?”

Waduh, Bawuk itu tak cuma mengasihani tapi memberi serbuan kritik. Aktor dalam film tak pernah makan dan berganti pakaian? Kuruslah! Mampuslah! Mereka tentu berbau kecut, apek, penguk. Wah, tak berganti pakaian seperti gelandangan saja. Sutradara tentu sering khilaf dan penata kostum tak memiliki sekarung pakaian bekas untuk para pemain. Tukang masak alias departemen konsumsi tentu sedang melakukan pengiritan anggaran akibat kenaikan harga…

Film 2

Di majalah, ada ulasan tentang Frank Sinatra. Aku mengenali dan menggandrungi Frank Sinatra sebagai pelantun lagu-lagu lawas menurut telingaku. Aku mengoleksi 5 atau enam kaset pita, album-album Frank Sinatra. Dulu, aku sering menikmati lagu-lagu Frank Sinatra sambil gemremeng, berlagak turut melantunkan lirik lagu. Aku mengenal Frank Sinatra sejak sering menguping radio milik bapak. Gandrungku semakin membesar saat jadi pedagang kaset-kaset bekas. Oh, Frank Sinatra… Heri mungkin belum pernah mendengar lagu-lagu Frank Sinatra. Aku tentu bakal menganjurkan agar Heri menikmati Frank Sinatra agar semakin menjadi lelaki terlalu romantis. Oh!

Aku perlu mengutip pemberitaan Usmar Ismail saat berpidato di Jogjakarta, bertema sensor film. Ada gejala kebijakan sensor diperkeras dan diperketat. Kutipan berita: “Menjedihkan, karena sipengambil resolusi tidak mempeladjari soalnja terlebih dahulu, dan karena itu dengan tidak setahunja menjiret lehernja sendiri, mempersempit ruang buat berpikir dan memutuskan jang mengenai diri, menjerahkan kekuasaan jang besar kepada orang lain untuk menemukan apa jang baik dan apa jang djelek buat diri sendiri dan tidak pertjaja kepada kemampuan sendiri untuk mentjiptakan nilai-nilai jang tjotjok buat pertumbuhan kepribadian sendiri, karena itu mengchianati diri sendiri dalam arti jang sebenarnja….” Si penulis berita pasti sedang kenthir! Kalimat melelahkan dan menimbulkan haus-lapar. Kasihan pembaca…

Film 3

Sensor film masih muncul di rubrik “Serbaneka”. Aku harus belajar sejarah sensor di Indonesia agar tak bersikap emosional mendapati kebijakan-kebijakan mutakhir dari pemerintah atau institusi seni, agama, politik, pendidikan. Ada informasi tentang perbedaan pelaksanaan sensor di daerah dan pusat. Simaklah: “Untuk menghilangkan salah faham, perlu diterangkan bahwa sensur film daerah  ini tidak berhak memotong atau mengurangi bagian-bagian film, tetapi hanja diperbolehkan merobah tahun-tahun pembatasan umur dan kalau dianggap perlu djuga diperbolehkan menolaknja sama sekali.”

Dulu, aku sering penasaran dengan bagian-bagian sensoran. Adegan menonton film-film panas Indonesia di masa 1990-an tentu bakal berkurang nafsu jika ada sensor adegan-adegan… Saru! Aku dulu sering mringis dan merem sejenak jika melihat film-film panas Indonesia. Bohong! Aku memang merem tapi lebih lama melek, kebingungan berimajinasi berahi. Aduh! Masa itu berlalu.

Eh, di sampul belakang majalah Star News ada sekian iklan dan pengumuman. Ada lowongan pekerjaan: “Ditjari seorang pemuda untuk didjadikan kader redaktur madjalah.”  Kader? Aku cuma tahu kader melekat ke partai politik. Goblok! Keinginan jadi kader mesti memenuhi ketentuan: “gemar dan tahu soal film; Dapat menjalin dari bahasa Inggris; Mempunjai bakal dan minat dalam soal kewartawanan; Umur kurang dari 25 tahun.”

Majalah Star News terbit di Solo. Siapa pembaca dan pengaruh ke penikmat film? Apakah Star News penting bagi penelitian kemunculan majalah film di Indonesia? Ah, aku tak tahu. Begitu.

Iklan