Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Di Senen, Jakarta, aku bersama Rianto belanja buku. Sabtu, 18 Januari 2014, berharap menjadi hari ajaib, belimpah berkah. Mata melihat buku, tangan memegang buku, mulut memberi harga buku. Di jalan basah, usai hujan semalam, aku berhasil membeli buku-buku sesuai selera, dari sejarah sampai sastra. Kresek-kresek berisi buku dibawa oleh Rianto, si penunjuk jalan. Belanja buku memang sering meluapkan nafsu tak berbatas.

Di kios dengan tumpukan-tumpukan buku, aku melihat buku berjudul Semarang Riwayatmu Dulu garapan Amen Budiman. Aku lekas menawar, ingin memiliki sebagai bacaan pelengkap dari keinginan mengerti Semarang. Buku terbitan Tanjung Sari, Semarang, 1978 itu tak bersampul. Ah, bajumu masih dijemur di Semarang? Apakah ada orang mencuri bajumu agar tak kedinginan merasai malam berhujan di Jakarta? Buku tak bersampul tapi tak kehilangan halaman-halaman isi. Aku pun membeli dengan harga terjangkau.

Semarang 1

Buku itu telah jadi incaranku sejak lama. Aku tak pernah menemukan saat belanja buku di Semarang, Jogjakarta, Solo. Di Jakarta, aku malah menemukan buku tentang Semarang. Dulu, aku sering mendengar judul buku dan ulasan pendek dari teman-teman. Buku itu menggoda, mengantarku ke Jakarta untuk menjemput dan memeluk di hari bersukacita. Wah!

Buku tentang sejarah Semarang termasuk sedikit dalam koleksiku. Buku garapan Amen Budiman pantas jadi bekal membuka halaman-halaman sejarah Semarang. Pengakuan Amen Budiman: “Semenjak tanggal 10 Januari 1975 hingga awal tahun 1977, pada setiap hari Jum’at, harian Suara Merdeka di Semarang telah memuat serial artikel saya yang dengan sengaja telah saya beri judul Semarang Riwayatmu Dulu. Serial artikel mengenai sejarah kota Semarang itu ternyata telah menarik banyak perhatian dari berbagai lapisan masyarakat di Semarang dan dari mereka-mereka yang pernah bertempat tinggal di Semarang, dan tidak sedikit di antara para pemerhati itu telah mengusulkan agar serial artikel saya tersebut bisa segera dibukukan.”

Aku jadi ingat Heri P, sejarawan muda di Solo. Puluhan esai tentang Solo telah sering dipublikasikan di koran-koran meski tak melulu kental sejarah, hadir sebagai uraian sejarah. Percik-percik ingatan tentang Solo pantas dibukukan, jadi bacaan publik. Aku tentu harus mengusulkan agar Heri tak cuma mendongeng tapi sadar pola penulisan sejarah dan menguatkan referensi-referensi. Kumpulan esai Heri bakal jadi incaran, bacaan lezat bagi publik jika ingin mengerti dan “mengalami” Solo. Heri memang berbeda dengan Amen Budiman tapi memiliki rangsangan persembahan tulisan-tulisan sejarah.

Semarang 3

Amen Budiman melakukan kerja serius saat mencari pelbagai referensi, membuat percakapan dengan para ahli, selisik situs-situs. Pengalaman mencari dan mengolah data untuk penulisan artikel membuatku jadi iri. Aku belum pernah nekat melakukan perjalanan-perjalanan, pembacaan teks-teks kuno, percakapan dengan para sarjana agung. Semua itu diniatkan oleh Amen Budiman untuk menggarap serial artikel. Sumber-sumber bacaan memang sangar, dari babad sampai buku-buku berbahasa asing.

Aku tertarik cara pembacaan atas Serat Kandaning Ringgit Purwa dan Babad Nagri Semarang. Dua teks itu digunakan untuk melacak sejarah Semarang dalam larik-larik puitis. Tokoh, tahun, peristiwa, tempat, waktu dibandingkan agar diketahui pola penulisan “sejarah” Semarang dari para penulis dari masa lalu. Kejelian itu digenapi dengan kemampuan Amen Budiman mengumpulkan artikel-artikel dan berita-berita dari pelbagai koran, majalah, jurnal. Amen Budiman mengutip: “Pada tahun 1941 majalah Djawa pernah memuat sebuah artikel dengan judul Djoeragan Dampoehawang karangan R.T.A.A. Probonegoro, seorang bekas bupati di antaranya menerengankan, bahwa nama kota Semarang dalam bahasa Tionghoa adalah Sam Pau-Lung…” Keterangan ini lekas dicari kebenaran melalui perbandingan informasi di buku babon dan informasi para ahli.

Semarang 2

Buku setebal 272 halaman membuktikan ketekunan Amen Budiman, berurusan sejarah tapi disajikan secara informatif. Dari halaman ke halaman, pembaca sering menemukan tumpukan dan koleksi informasi, ditata rapi agar terbaca dengan terang. Informasi-informasi ditampilkan dengan tafsiran-tafsiran. Sajian argumentasi juga ada meski tak selalu hadir di setiap halaman.

Buku warisan dari Amen Budiman mesti mendapat lanjutan agar orang-orang tak kehilangan kehendak mengetahui sejarah Semarang. Aku kadang bingung jika harus mengajukan nama-nama para ahli sejarah dari Semarang atau buku-buku moncer tentang sejarah Semarang. Di Semarang, ada universitas-universitas kondang tapi aku jarang mendapat publikasi artikel atau buku bermutu berkaitan sejarah Semarang. Oh, mengapa? Barangkali ketidaktahuanku saja.

Sejarah pemuatan artikel-artikel Amen Budiman di Suara Merdeka perlu dilanjutkan oleh para penulis-penulis muda, wartawan atau sejarawan. Semarang telah bertumbuh menjadi kota besar dan ramai tapi sejarah tak boleh terpinggirkan. Aku sering dolan ke Semarang, berkumpul dengan para mahasiswa. Mereka tampak sulit mengisahkan Semarang, bemula dari ketidaktahuan atau ketaktersediaan bacaan. Buku Semarang Riwayatmu Dulu pantas menjadi bacaan mereka agar tak lupa dan insaf. Begitu.

Iklan