Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Dulu, aku kadang bertemu dengan Hermanu. Pertemuan saat belanja buku. Bagiku, lelaki bertubuh besar dan bertampang desa itu sosok terhormat, tekun mengurusi buku-buku lawas dan menggarap menjadi bacaan publik. Hermanu memang cenderung mengarah ke urusan seni rupa tapi tak melupakan bacaan-bacaan dari masa lalu saat hadir dalam terbitan buku, produksi Bentara Jogjakarta. Aku ingat Hermanu tak cuma dalam peristiwa belanja buku. Aku pernah rapat bersama Hermanu, Sindhunata, Ardus M. Sawega, Hari Budiono… Dulu, aku sempat turut mengurusi Balai Soedjatmoko, Solo. Hermanu selaku “sang kurator” semakin membuatku iri. Agenda di Bentara Jogjakarta telah berhasil menerbitkan buku-buku ampuh, mulai iklan lawas sampai pit onthel. Sangar!

Di terbitan agenda BB Jogjakarta, Solo, Bali edisi 1 (2014) tercantum informasi Pameran Ilustrasi Ned-Indie Karya C. Jetses “Insulinde”, 21-30 Januari 2014 di Bentara Jogjakarta. Aku berniat hadir di acara pembukaan bersama Fauzi. Niat itu tak terwujud. Aku justru terlena mengurusi buku-buku biografi lawas bersama teman-teman, dari pagi sampai malam, 21 Januari 2014, di Bilik Literasi. Berita tentang pameran itu hadir di Kompas, 26 Januari 2014. Aku membaca dengan penasaran. Ada informasi ilustrasi-ilustrasi garapan C. Jetses dimuat di Beladjar Bahasa Melajoe dan Woelang Basa. Apakah 50 ilustrasi itu tersaji dalam buku? Di Koran Tempo, 26 Januari 2014 ada ulasan buku-buku terbitan Bentara Jogjakarta. Hermanu dan Sindhunata berperan besar dalam agenda pembuatan buku dan edukasi kelawasan ke publik. Oh, mereka memang para “mpu buku”, mengenai masa lalu.

Woelang 1

Di kamar buku, aku membuka koleksi di puluhan kardus. Aku menemukan buku lawas! Buku itu berjudul Woelang Basa I: Matja Titi, Basa lan Tjarita susunan G. Boswinkel dan R. Wignjadisastra, terbitan J.B. Wolters-Groningen Batavia, 1948, cetakan kedua. Buku ditujukan ke “pamoelangan andap”. Apakah ilustrasi-ilustrasi di buku ini garapan C. Jetses? Aku tak tahu. Di halaman buku, tak ada keterangan tentang nama pembuat ilustrasi. Aku berharap ada si pemberi keterangan. Apakah Hermanu mau memberi keterangan padaku?

Aku mesti mengutip dulu maksud dan peran penerbitan Woelang Basa. G. Boswinkel dan R. Wignjadisastra menerangkan: “Menawi dipoen waspaosaken kanti tliti, djangkanipoen boekoe poenika katingal tjeta, bilih ingkang katindakaken, soepados moerid-moerid dipoen gegoelang: (1) saged maos kanti titi; (b) saged njerat basa kanti leres; (c) saged ngangge lan matrapaken tataran oenggah-oenggoehing basa; (d) saged nampeni oetawi ngaliraken raos sarana lesan oetawi kaserat, dateng kawontenan-kawontenan saha lelampah ingkang kepeta ing gambar, oetawi gambar oeroet-oeroetan, poenapa malih ingkang dipoen alami pijambak wonten ing sadengah panggenan. Kadosta: wonten ing kita, doesoen lan sapanoenggalanipoen.”

Woelang 2

Aku jadi teringat buku-buku pelajaran bahasa saat di SD. Aku jarang terpikat, memiliki gairah belajar. Buku pelajaran bahasa Jawa dan Indonesia sering membosankan, membuat takut jika ulangan. Aku jarang mendapat nilai tinggi untuk pelajaran bahasa meski saat besar harus berkuliah di jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Buku tentu berpengaruh untuk merangsang bocah belajar, menerapkan dalam kehidupan, dari urusan sepele sampai urusan besar. Mengapa buku-buku saat aku SD tak pantas diingat sepanjang masa?

Para penulis masih berpesan: “Sedaja woelangan ingkang kawrat ing boekoe poenika, kapilihaken ingkang magepokan kalijan gesangipoen lare. Milanipoen jen dipoen woelangaken saestoe, lare saged gembira manahipoen, satemah wolanganipoen saged toemindak kalijan prajogo.” Aku bisa membuktikan pesan itu di materi bacaan dan gambar. Di halaman 17 , ada gambar dan rangsangan bagi bocah menjawab atau “bercerita”. Ada keterangan judul gambar: “Ana ing pawon”. Tiga perempuan ada di dapur, memasak. Murid diminta memberi jawab, dari peristiwa dan kepentingan masak bersama di dapur.” Murid tentu akrab dengan dapur atau pawon. Murid juga memiliki pengalaman jika ada “ewoeh” atau hajatan bakal ada adegan masak bersama, “rewang-rewang”.

Woelang 3

Di halaman 26, ada gambar mengesankan tentang bocah dolanan, berjudul “Roeminah dolanan seropean”. Gambar tampak memikat, menampilkan tokoh-tokoh lugu, bertubuh dan berwajah desa. Ada simbok menggendong anak. Bocah-bocah perempuan bermain di halaman, gembira. Ada bocah lelaki menggendong si adik berambut kuncung. Wah! Aku ingin bernostalgia Jawa, mengingat bocah dan pelbagai dolanan.

Buku setebal 64 halaman, berisi cerita-cerita dan gambar-gambar. Apakah buku ini bisa membuat bocah-bocah di masa lalu cerdas dan bersuka cita? Aku berharap bisa terwujud jika mempelajari isi buku. Apakah buku ini pernah jadi referensi bagi para penulis buku-buku pelajaran bahasa Jawa di masa sekarang? Aku sangsi para penulis masih memiliki buku-buku lawas, menjadikan sebagai acuan. Oh! Mereka tentu menggarap buku sesuai kurikulum dari pemerintah.

Aku mesti mengumpulkan edisi lengkap Woelang Basa agar sanggup membuat ulasan kecil mengenai buku pelajaran dan situasi pendidikan di masa lalu, berkaitan pengajaran berbasis kehidupan keseharian dan bereferensi Jawa. Aku masih harus berdoa dan rajin belanja buku. Aku pun berharap bertemu lagi Hermanu, bercakap untuk berbagi informasi dan ilmu. Buku lawas tak usai untuk dikenang. Begitu.

Iklan