Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Di Bilik Literasi, Jumat, 24 Januari 2014. Empat orang menjadi penafsir novel-novel Marga T dan Ashadi Siregar. Aku memilih novel Frustrasi Puncak Gunung (Ashadi Siregar). Priyadi menafsir Terminal Cinta Terakhir (Ashadi Siregar). Setyaningsih mengurusi Karmila (Marga T). Fauzi mengoceh tentang novel Gema Sebuah Hati (Marga T). Mutim jadi penonton awal. Ngadiyo jadi pendengar setia. Di akhir, turut memberi cuplikan cerita dari novel India, mengisahkan tokoh-tokoh mahasiswa. Malam tafsir bersama wedang jahe, roti, bakmi. Sekardus gorengan dari Pak Agus, sore, telah disantap dengan ekspresi kelaparan oleh Mutim dan Setya. Ha!

Sejak siang gerimis dan hujan. Pilihan peristiwa membaca dan menafsir novel-novel terbitan 1970-an memberi sensasi imajinasi. Aku merasa ada kemauan mengimajinasikan kehidupan para mahasiswa di masa lalu. Bab kuliah, buku, organisasi, pakaian, asmara, keluarga, musik…. menjadi perhatian perhatianku, bermaksud membuat perbandingan dengan masa-masa berbeda. Novel Frustrasi Puncak Gunung (Cypress, Jakarta, 1978) memang berlimpah informasi kehidupan mahasiswa di Jogjakarta. Aku membaca edisi cetakan ke-3.

Ashadi 1

Orang-orang sering mengenali Ashadi Siregar melalui novel Cintaku di Kampus Biru, Terminal Cinta Terakhir, Sirkuit Kemelut. Ashadi Siregar memang pengarang terkenal, mempengaruhi selera cerita bagi publik di masa 1970-an. Konon, Ashadi Siregar dianggap pengarang ngepop tanpa meninggalkan bobot. Lulusan UGM itu tampil sebagai pengarang, menghibur dan mengamanatkan pelbagai hal dalam suguhan-suguhan cerita memikat. Aku menjadi pembaca novel-novel Ashadi Siregar meski terlambat.

Alkisah, orang-orang berkumpul dalam pesta meriah, diadakan organisasi mahasiswa lokal. Acara penting bagi mahasiswa adalah pesta dan piknik, usai represi penguasa atas kasus Malari, 1974. Ambarwati berperan sebagai pimpinan. Herman hadir sebagi tamu, ikut teman tapi tak termasuk anggota organisasi. Perempuan dan lelaki itu bertemu di pesta dalam suasana kaku, bercuriga-penasaran. Ambar ingin mengetahui Herman meski harus bermain siasat. Herman bersikap dingin, tak betah ada dalam pesta. Pertemuan mata sekejap dengan kata-kata sedikit, dua orang bakal menjalin asmara.

Ashadi 2

Kutipan tentang penasaran Ambarwati: “Lantas Ambarwati yang kuliah ketiga di psikologi itu mencoba-coba mengadakan analisa akan kecenderungan-kecenderungan para petualang. Lelaki muda ini pendaki gunung. Nah, setiap pendaki gunung sudah pasti menyukai petualangan. Tapi, ah, tidak setiap pendaki gunung punya rasa rendah diri. Ambar ingat almarhum So Hok Gie….” Herman adalah pendaki gunung, tak suka berorganisasi.

Ambar perlahan mencintai Herman. Rasa itu tak lekas diperlihatkan, malu jika diketahui oleh teman-teman. Ambar itu dikenal perempuan sangar, menganggap lelaki adalah kaum terperintah. Watak penguasa ada dalam diri Ambar. Watak itu berubah saat bertemu dan berhadapan dengan Herman. Cinta. Cinta. Cinta. Oh…

Aku juga tertarik mengetahui sosok dosen dalam pandangan Ambar. Dosen itu bernama Susanto. Ambar dijodohkan dengan Susanto. Ambar tak cinta tapi mesti menuruti kemauan ibu. Kasihan. Oh, Ambar, perempuan cantik dan cerdas… Mengapa engkau dijodohkan dengan Susanto? Aduh, Ashadi Siregar sungguh tega. Terlalu!

Ashadi 3

Siapa Susanto? Ambar memperkenalkan dengan ejekan: “… dia sama sekali tak tahu siapa Rendra. Waktu seorang koleganya bicara tentang Arif Budiman dan Gunawan Mohammad, dia seperti mendengar nama seorang di Saudi Arabia yang jauh saja. Lalu jangan ajak dia bebrincang-bincang tentang Remy Sylado, betapapun tenarnya nama itu di kalangan anak muda. Tak bakalah dikenal Susanto.” Waduh! Susanto dosen, bermobil dan parlente, tak mengetahui urusan sastra, politik, pembangunan….

Ambar mengejek Susanto. Di pertengahan cerita, Ambar dinikahi Susanto, tak berbahagia. Cinta telanjur diberikan ke Herman. Cinta itu belum terang. Herman memang tak gamblang mengungkap perasaan. Dua tokoh itu berpisah dengan memendam cinta dan kesedihan. Ambar hidup sebagai mahasiswa dan istri. Herman bergerak ke pedalaman, Timor: berperan sebagai dokter, menikmati kesepian dan lara.

Novel itu kadang membuatku tertawa, bercampur sedih dan kasihan. Aku tak pernah hidup di masa 1970-an. Aku memerlukan pelbagai keterangan agar bisa mendeskripsikan mahasiswa, dosen, universitas, pemerintah. Aku juga harus mencari referensi tentang tokoh-tokoh dalam perkataan Ambar, menilai pengaruh mereka bagi mahasiswa atau kaum muda di Indonesia. Penghadiran tema dan tokoh, dari politik sampai asmara, bukti dari pemberian bobot novel pop. Novel Frustrasi Puncak Gunung tak membuatku frustrasi tapi iri. Lho!

 Di akhir cerita, Herman berubah. Semula, sosok tak berurusan realitas sosial-politik, beralih menjadi peka isu. Herman menjadi demonstran, menggugat penguasa. Herman masuk penjara di Jakarta. Ambar masih terus mencintai Herman. Ada peristiwa kunjungan Ambar ke penjara. Herman kaget. Ambar pun merasa aneh dengan perubahan karakter Herman. Ambar berjanji ingin hidup bersama Herman, meninggalkan Susanto. Di perut Ambar, benih percintaan dengan Herman bakal menjadi bukti. Oh! Kapan Ambar dan Herman bersetubuh? Adegan-adegan bersetubuh ada dalam halaman-halaman novel, termasuk adegan Herman dengan istri camat. Wah! Aku sengaja tak mengutip… Malu meski tak panas. Begitu.

Iklan