Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

“Aksi militer ke dua jang dimulai tanggal 19 Desember 1948 telah membawa banjak  korban djiwa dan banjak pula kehantjuran harta benda. Penderitaan jang menimpa rakjat ini ta’ terhingga beratnja.” Kutipan ini belum menimbulkan sedih literasi. Penderitaan biasa berkaitan sandang, papan, pangan sampai urusan kematian. Ada lanjutan kutipan: “Selain daripada itu terdjadi pula banjak kerusakan dan kemusnahan dilain lapangan, jang sangat merugikan kepentingan negara. tumpukan bahan-bahan penting dan berharga, jang tersimpan dalam arsip kantor-kantor pemerintah dan lainnja, berupa tjatatan-tjatatan sedjarah, buku-buku perpustaaan, gambar-gambar dokumenter, tabel-tabel, daftar-daftar administrasi dsb., dalam sekedjap mata telah hantjur atau terbakar. Kerugian jang disebabkan kerusakan-kerusakan dan kehilangan itu sukar mendapat gantinja dan sangat berasa pada waktu ini.”

Aku ingat Indonesia saat menapaki jalan proklamasi, jalan revolusi. Indonesia mengalami kehilangan dan kehancuran pelbagai dokumentasi. Aku diam sejenak, merasai “sakit” dan kesedihan saat para dokumentator harus mengurusi sisa-sisa dari referensi penting mengenai Indonesia. Apakah mereka berairmata? Sedih tak boleh berkepanjangan. Mereka lekas bertindak untuk agenda dokumentasi, kerja demi keselamatan ingatan dan referensi Indonesia.

Kerja itu memunculkan terbitan berjudul Dokumentasi: 17 Agustus 1945 – 1 Djanuari 1946 susunan dan terbitan dari Kementerian Penerangan Republik Indonesia, 1950. Buku ini berisi pelbagai teks penting saat Indonesia ingin tegak sebagai negara. Teks Proklamasi sampai Maklumat Pemerintah ada. Aku menganggap buku sederhana ini mengandung pesan lugas: berindonesia, berdokumentasi. Oh! Imajinasi dan gagasan Indonesia di pelbagai medium perlu “dipelihara”, “diwartakan”, “diawetkan” dengan kerja dokumentasi.

Dokumentasi 1

Aku tertarik memahami Maklumat Kepada Rakjat Indonesia, ditandatangani oleh Soekarno – Hatta, Jakarta, 18 Agustus 1945. Isi maklumat: ‘Dengan ini dimaklumkan bahwa pembangunan Negara Indonesia Merdeka jang dikehendakkan oleh Rakjat sekalian diwaktu ini sedang didjalankan dengan saksama. Beberapa tenaga jang berani bertanggung djawab terhadap Rakjat ikut serta didalam pembangunan ini. Segala hal-hal jang perlu untuk pembangunan Negara Republik Indonesia sedang diselenggarakan dan akan selesai diwaktu jang pendek. Diharap sekalian Rakjat Indonesia dari segala lapisan tinggal tenteram, tenang, siap-sedia dan memegang teguh disiplin.” Maklumat berisi tiga alinea membuatku “bergetar”, mengimajinasikan pesona kalimat demi menggerakkan Indonesia.

Aku paling tergoda dengan penggunaan ungkapan “berani bertanggung djawab”. Keputusan mengartikan Indonesia perlu tanggung jawab. Siapa mau membuktikan tanggung jawab? Presiden, menteri, gubernur, petani, buruh, pengusaha, tentara, mahasiswa? Tanggung jawab menjadi tema besar dan gawat, pijakan untuk menjadikan Indonesia tetap berjalan atau hancur. Ingat tanggung jawab, ingat Soekarno. Di pelbagai pidato dan tulisan, Soekarno sering berseru tentang tanggung jawab. Apakah ungkapan tanggung jawab khas milik Soekarno? Ungkapan itu milik semua orang. Wah!

Dokumentasi 2

Aku malah berpikiran buku setebal 808 halaman berjudul Selalu Ada Pilihan garapan SBY, 2014. Buku itu dibeli dengan uang, 199 ribu rupiah. Sajian buku tentu mengandung maksud bentuk pertanggungjawaban SBY. Presiden tak cuma membaca pidato berisi tanggung jawab di gedung parlemen. Buku boleh dijadikan bukti tanggung jawab. Aku membaca sambil bersedih akibat menderita sakit gigi. Buku tak impresif. Buku berisi uraian diri, pembelaan dan petuah. Aku tak perlu memberi sesal telah membeli buku SBY. Keputusan membeli dan membaca diikhtiarkan untuk memiliki kepekaan kerja dokumentasi. Buku SBY pasti jadi dokumentasi Indonesia, masuk katalog besar.

Keterangan menarik di terbitan Dokumentasi adalah sajian daftar gaji para pejabat di Indonesia, diwartakan dalam Penetapan pemerintah No. 1/O.P. Aku mengutip penjelasan: “Sepandjang pengetahuan kami, diseluruh dunia tidak ada Negara jang Kepala Negaranja menerima gadji hanja f 1000,- sebulan… Pemerintah Republik Indonesia jang berdaulat pertjaja, bahwa para pegawai tidak terikat kepada peraturan gadji, jang dibuat dalam dan untuk suasana kolonial, jang karena itu dasarnja sangat tinggi, untuk mendapat kesetiannja para pegawai kepada pemerintah djajahan…” Ah, aku jadi ingat “curhat” SBY bahwa gaji presiden tak naik. Pengakuan itu muncul sekian tahun silam, memicu polemik dan ejekan. Indonesia diguncang oleh tema gaji. Aduh!

Dokumentasi 3

Apakah Dokumentasi masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan penting di Indonesia dan dunia? Apakah para pejabat, sejarawan, pengamat politik, dosen masih ingin membaca Dokumentasi untuk ingat Indonesia masa lalu? Aku berharap mereka tak melupakan Dokumentasi. Lupa bisa mengakibtakan kita semakin membuat kerja para pengurus dokumentasi menjadi sia-sia. Oh! Warisan Dokumentasi tak terawat dan dibaca oleh kita? Indonesia bakal kena petaka! Aku bersedia meminjamkan Dokumentasi atau menggandakan agar ada cadangan untuk mengingat-mempelajari episode awal Indonesia. Aku memang lelaki baik dan berlimpah kasih. Begitu.

Iklan