Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Hari-hari berhuruf. Tumpukan buku masih tinggi, menanti pembaca merampungkan puluhan judul buku. Aku tak jemu membaca buku sambil menimang dan berdoa. Di tumpukan buku, aku melihat buku Padmasusastra, berjudul Tata Cara. Sejak lama mencari, aku tak pernah menemukan di toko buku atau perpustakaan di Solo. Aku malah mendapat buku itu di Blok M, Jakarta. Dulu, aku menulis esai-esai tentang Padmasusastra. Ada esai tersaji di Kompas, mendapat tanggapan dari dosen dan seniman. Aku tak menduga esaiku bisa membuat mereka eling agar tak selalu mengajukan nama Ranggawarsita saat menguak sastra dan peradaban di Jawa. Weh!

Aku berharap bisa menulis buku biografi kecil tentang Padmasusastra, bersaing dengan buku susunan Imam Supardi. Ingin memerlukan ikhtiar dan keajaiban, mulai dari buku-buku sampai perjumpaan dengan orang-orang. Pilihan menulis tokoh berlatar Jawa memang cenderung jadi penebusan masa lalu: aku tak berhasil kuliah di jurusan sastra Jawa. Buku-buku telah disantap: dipelajari dengan kewajaran-kewajaran.

Ingat Padmasusastra, ingat bahasa dan sastra Jawa. Aku pun ingat buku-buku pelajaran bahasa Jawa, medium “mewariskan” atau merangsang bocah-bocah menafsir Jawa, berujung “menjadi” Jawa. Idealitas buku pelajaran tak bakal mengesahkan bocah “menjadi” Jawa: utuh dan sempurna. Isi buku biasa berkaitan dengan pengenalan tata krama, tata bahasa, tata imajinasi…. Buku pelajaran berhubungan dengan pembentukan identitas meski samar. Identitas Jawa ditampilkan melalui materi-materi pelajaran, disempurnakan oleh kompetensi guru dan peran keluarga. Waduh, kalimat-kalimat ini mengandung nasihat-nasihat klise dan wagu. Oh!

Aku tak perlu bernasihat. Aku ingin mengurusi buku Waosan Djawi (Soeroengan, Jakarta, 1954) susunan L. Tedjasusastra. Gambar-gambar dalam buku digarapan oleh M.D. Sumarta. Buku ini disajikan bagi Sekolah Rakjat dan Sekolah Menengah untuk murid-murid “berbahasa Jawa”. Murid dari Inggris, Portugal, Nigeria, Arab Saudi pasti kesulitan membaca Waosan Djawi. Mereka bisa mengutuk diri selama seribu tahun, menatap huruf-huruf Latin berbahasa Jawa: tak bisa dibaca. Aduh!

Djawi 1

Sejak SD, aku merasa sulit mengikuti pelajaran bahasa Jawa. Sekarang, aku masih sulit memahami dan menggunakan bahasa Jawa dalam pelbagai kepentingan dan peristiwa. Aku cuma merasa bertanggung jawab mengurusi bahasa Jawa melalui pembacaan sejarah dan sastra, berlanjut ke pendidikan dan adab. Aku tak ingin melebihi kepandaian guru dan dosen. Aku pun membiarkan para pengamat dan peneliti mengerti Jawa ketimbang diriku. Mereka tentu hebat dan sakti. Lho! Hebat dan sakti mirip pendekar di cerita silat.

Penulis mengingatkan: “Menggah isi ruwin dapukanipun sesaged-saged sampun katata lan kalaresaken kalijan djaman lan kawontenan sapunika. Katah bab-bab ingkang wosipun nggigah utawi adjak-adjak mbangun utawi ndandosi kawontenan-kawontenan ingkan sampun boten tjotjog kalijan djamanipun.” Buku mesti kontekstual, mengajak murid sadar dengan realitas, tak jauh dari pengalaman keseharian. Apakah buku bisa mempengaruhi gagasan dan ulah bocah? Aku menjawab: bisa. Alasan? Ah, tak perlu pamer alasan. Lho!

Djawi 2

Aku berminat mempelajari bab tentang sepur. Dulu, aku sering berimajinasi naik sepur. Terlaksana! Terakhir, aku naik kereta dari Jakarta ke Solo, 18 Januari 2014. Naik kereta dengan bawaan sekardus buku, sekresek buku, tas penuh buku. Sendirian. Di kereta, kedinginan. Malam tak bisa dinikmati dengan tidur. Aku malah membaca buku-buku, dari malam sampai pagi, bermula dari Stasiun Senen sampai Balapan (Solo).

Di buku Waosan Djawi ada percakapan ibu, bapak, bocah saat naik sepur. Perkataan ibu: “Betjike besuk dadi masinis bae Har, dadi ngerti tek-kliwere mesin sepur.: Si bocah menjawab: “Emoh bu, njambutgawe kok dadi masinis, angur dadi penerbang aku gelem, bisa mabur kaja Gatutkaca.” Imajinasi bocah melampauu ibu. Aku pun ingat, bocah-bocah sering menjawab mau menjadi pilot, berurusan cita-cita. Aku malah tak mau jadi masinis atau pilot. Aku memilih jadi penumpang sepur atau pesawat.

Djawi 3

Aku juga tertarik dengan bacaan berjudul “Resikan”. Ada pesan dari aparat pemerintah di depan warga: “Grija kedah resik lan kausar petak, kedah wonten tjendelanipun supados padjar, sorot saged mlebet, hawa saged gontas-gantos, perlunipun widji sesakit boten kraos manggen wonten ing griku, tur manawi kangge ambekan lega boten sesak dateng dada…” Di rumah, aku ingin waras dan berbahagia. Sakit dan derita tak pantas ada di rumah. Pintu dan jendela terbuka, pikiran dan perasaan terbuka.

Bacaan-bacaan itu tak memaksa anak berlagak menjadi intelektual. Pesan-pesan dalam bacaan mengingatkan bocah dengan situasi zaman, pelbagai perubahan kehidupan, dari rumah sampai ruang publik. Pelajaran melalui bacaan membuat bocah girang, bersuka cita tanpa beban ujian dan pemaksaan logika berat. Bocah pun perlahan menjadi pencerita atau pengisah, bermula dari diri ke pelbagai tokoh dan peristiwa. Aku  kangen untuk mendapati tumpukan buku lawas, berisi cerita-cerita sederhana dan bergambar apik meski hitam-putih.

Ah, aku tak bermaksud menjadi bocah lagi. Dulu, aku tak pernah mendapat buku-buku bacaan menggirangkan hari dari simbok dan bapak. Sekolah juga tak memiliki koleksi bacaan. Kasihan. Aku terlambat bercumbu dengan buku, tak mengalami nostalgia wacan bocah. Begitu.

Iklan