Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

13 Februari 2014. Sore dengan hujan deras. Perempuan kurus masuk Bilik Literasi. Wajah semringah, berlatar tetes-tetes hujan. Aku melihat sepintas, berharap bakal ada percakapan hangat. Perempuan itu bernama Elizabeth D. Inandiak. Kunjungan penulis serial Centhini adalah kunjungan cerita. Percakapan bersama 20-an orang berlangsung di ruang belakang. Aku belum terlibat, masih melihat dari balik pintu. Aku tak tergesa untuk memberi telinga: mendengar omongan bernada lembut dari perempuan asal Prancis tapi mengaku telah menjadi Jawa. Oh!

Aku pun bergabung, duduk di belakang Elizabeth D. Inandiak. Urusan bahasa, imajinasi, rasa, perlahan menjadi omongan panjang. Aku mendengar kata-kata mirip lantunan tembang, pelan dan mengena. Perempuan berambut pendek itu memiliki ketenangan saat mengucap: bercerita. Aku melihat mata itu memuat ribuan halaman, berisi puisi dan prosa. Hujan belum usai. Percakapan belum usai. Teh dan gorengan disantap bersama. Elizabeth D. Inandiak sempat memberi idiom ganjil tentang “menulis” atau “bersastra”. Orang menulis adalah “perempuan hamil”, mesti melahirkan dan berbahagia. Hamil? Melahirkan? Ah, aku mulai mengerti meski harus berimajinasi jauh tentang prosesi asmara, seks, kehamilan, anak…. Aku menerima idiom “hamil” berkonteks religius, mengesankan ada ikhtiar dan ketakjuban melakoni panggilan untuk berkisah. Wah!

Novel, puisi, cerpen ibarat sesuatu untuk dilahirkan. Hamil berlanjut melahirkan kata-kata: halaman demi halaman, cerita demi cerita, pesan demi pesan, imajinasi demi imajinasi. Elizabeth D. Inandiak pamitan, bergerak ke TBS, mengikuti peringatan 40 hari kematian Slamet Gundono. Kami bersalaman, di serambi bertaburan kata dan janji. Sekian hari usai pertemuan dan percakapan aku mengigat “hamil” saat membaca buku berjudul Sang Baji Datang: Sebuah Buku untuk Para Istri dan Ibu Muda (Djambatan, 1952) susunan Nj. Dr N. Stokvis-Cohen Stuart. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Nj. Dr H. Subandrio. Aku ingat nama Stokvis, tokoh moncer dalam dunia kesehatan di Indonesia, sejak masa kolonialisme. Di buku setebal 58 halaman, memuat istilah “hamil”, bagian dari lakon keluarga dan kesehatan.

Hamil 1

Halaman pengantar memuat alinea sugestif: “Mendjadi ibu adalah suatu tudjuan jang termulia dalam kehidupan seorang wanita; baru sebagai ibu kewanitaannja berkembang sepenuh-penuhnja; dan setiap wanita jang telah kawin ingin mempunjai anak. Sedangkan mendjadi ibu itu bukan sadja berarti bahagia!” Penggunaan tanda seru mengesankan penegasan dan “kepuasan”. Aku senang kalimat itu diakhiri tanda seru ketimbang tanda titik.

Aku membuka halaman demi halaman. Penjelasan di halaman 5 pantas menjadi kutipan meski orang-orang sudah tahu: “Orang lelaki mempunjai dua buah zakar jang mengandung mani. Mani itu terdiri atas berdjuta-djuta sel mani jang sangat ketjil hingga hanja terlihat dibawah mikroskop…. Tanda bahwa seorang anak muda telah mendjadi dewasa ialah pantjaran mani jang kadang-kadang terdjadi.” Aku ingat penjelasan ini saat sekolah. Guru menjelaskan, aku mendengar sambil berimajinasi tentang persetubuhan. Di buku pelajaran, aku membaca dan melihat ilustrasi: seks. Dulu, aku masih remaja. Sekarang, aku sudah dewasa. Tanda paling jelas adalah “pantjaran mani” Ha! Aku memang dewasa, terbukti dengan “pantjaran mani”.

Hamil 2

“Pantjaran mani” bisa mengakibat perempuan hamil. Lho! Ah, tak usah kaget. Aku sajikan kutipan lanjutan: “Keadaan wanita mengandung djanin ini bagi wanita disebutkan hamil dan ini pada umumnja 40 pekan atau 10 bulan lamanja. Selama waktu hamil kandung itu menjediakan untuk djanin segala zat jang dibutuhkan untuk hidup dan tumbuh.” Aku bertemu istilah hamil tapi berbeda dengan pengisahan Elizabeth D. Inandiak, menggunakan “hamil” sebagai metafora.

Lelaki tak bisa hamil. Aku tentu tak bisa hamil. Urusan hamil itu milik perempuan. Di halaman 13 ada uraian proses hamil: “Bagaimanakah orang perempuan itu dapat mengira, bahwa ia hamil? Pada umumnja tanda jang pertama ialah berhentinja haid. Tanda jang kedua, jang biasanja tampak pada permulaan hamil, akan tetapi hilang dengan sendirinja sesudah beberapa bulan, ialah merasa tidak enak dan mau muntah, terutama waktu pagi, djika baru bangun.” Pelajaran tentang ibu hamil pasti penting bagi kaum perempuan dan lelaki. Mengapa kaum lelaki perlu mengetahui urusan hamil? Lelaki mesti bisa tanggap dan meladeni segala keperluan ibu hamil, mengerti perasaan dan perubahan tubuh.

Hamil 3

Buku Sang Baji Datang tentu diperlukan oleh kaum perempuan di Indonesia agar tak salah dan gegabah. Bagiku, kehamilan bukan peristiwa biasa. Kehamilan adalah bukti dari kemanjuran doa dan ikhtiar, menerima berkah Tuhan. Perempuan hamil bisa mengisahkan “asal” kehidupan manusia, berdalil agama dan ilmu. Aku menganggap kehamilan adalah bukti kuasa Tuhan, dikisahkan melalui janji suci antara lelaki dan perempuan, berlanjut dengan ibadah senggama.

Buku ini memberi gambaran berkonteks Indonesia: “Memang benar di Indonesia itu kerapkali amat sukar untuk mendapati pertolongan bidan, terutama didesa-desa. akan tetapi dalam hal ini kiranja mungkinlah diusahakan, agar supaja bidan-bidan jang berdiam di kota-kota mengundjungi desa-desa disekitar tempat kediamannja, misalnja sekali seminggu, pada hari jang tertentu, untuk memberi kesempatan pada penduduk jang hamil akan meminta nasehat-nasehat…” Buku selalu mengikutkan situasi zaman. Di Indonesia, buku ini berkisah tentang episode kebijakan kesehatan bagi ibu hamil saat Indonesia sedang menapaki zaman “bermasalah”, akibat revolusi dan impian demokrasi. Begitu.

Iklan