Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Di Bilik Literasi, 1-14 Februari 2014, puluhan orang berperistiwa dan mencipta cerita. Dari hari ke hari, rumah menjadi ramai: orang-orang membaca, menulis, ngobrol, mencuci, memasak, tidur… Mereka meninggalkan kampus, bergerak dari kota dan desa, bertemu di rumah sederhana beralamat di Tanon Lor, RT 3, RW 1, Gedongan, Colomadu. Berliterasi di rumah, mengajak mereka tak trauma dan jemu dengan ruang-ruang kelas, dari SD sampai kuliah. Wah!

Aku tahu mereka adalah manusia abad XXI, memiliki memori dan impian muluk. Bacaan-bacaan mutakhir memberi imajinasi lekas hilang, tak tersimpan dalam kata dan tubuh. Aku melihat mereka hidup dengan kegamangan meski menjalani hari-hari bersama ribuan buku di Bilik Literasi. Agenda menulis sepanjang hari juga jadi bukti kesulitan “mengalami” masa silam melalui bacaan-bacaan. Aku tak ingin memaksa mereka ingkar atas zaman. Ajakan ke hari-hari silam cuma aku rangsang dengan bacaan-bacaan lawas.

Puluhan tahun silam, terbitlah buku berjudul Tataran I (J.B. Wolters-Groningen, 1952) susunan R. Wignjadisastra. Aku baca di halaman awal, buku ini memiliki keterangan: cetakan ke delapan. Sangar! Bacaan laris di Indonesia. Aku sering berimajinasi tentang kaum pembaca buku di masa lalu. Apakah mereka membaca menurut perintah atau kemauan sendiri? Aku ingin menjawab: membaca adalah kehendak, tak melulu berlangsung oleh perintah-perintah berdalih pendidikan, politik, demokrasi….

Tataran 1

Di buku setebal 48 halaman, aku membaca cerita-cerita dengan tokoh legendaris: Kuntjung dan Bawuk. Dua nama sebagai memori orang-orang lawas. Aku pernah mengajukan dua nama itu ke lelaki tua. Aku mendapat jawaban: “Dulu, orang bersekolah sering memiliki tokoh-tokoh dari buku pelajaran dan buku bacaan.” Kuntjung dan Bawuk adalah nama tenar, melintasi tahun demi tahun, mencipta memori sugestif bagi bocah. Para pembaca di masa lalu terus mengingat tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam bacaan. Ampuh!

Halaman 3, ada cerita dan gambar apik. Aku memandang takjub, ingin mengalami diri sebagai bocah di masa 1950-an: membaca cerita. Lihat, ada bocah bermain di bawah pohon dan ibu menggendong tenggok. Gambaran kehidupan manusia-manusia di desa.

“Kuntjung. Tjung!”

“Apa mbok?”

“E, hara. Botjah diundang kok ora ngrewes. Gilo, tak-keki wungkusan.”

Kuntjung bandjur mak djrantal marani mbokne.

Wungkusan mau nagasari karo mendut, oleh-olehe mbokne saka pasar.

Kuntjung nggone mangan, ketoke enak lan ndemenakake.

Percakapan khas, terjadi di desa. Ibu atau simbok pulang dari pasar, membawa jajanan pasar. Bocah bermain di halaman depan atau belakang. Bocah tak perlu bermain di warnet atau teriak-teriak berisi pisuhan akibat permainan di internet. Kuntjung tampak ceria, menikmati peristiwa biasa tanpa imajinasi teknologis berlebihan. Kuntjung memanggil ibu dengan sebutan khas: Mbok. Aku pun memanggil ibu dengan “mbok”, sejak kecil sampai sekarang. Aku bukan Kuntjung. Dulu, aku sering ditaruh simbok di bawah pohon pisang, bermain sendirian, tak boleh ditemani mas atau mbak. Mereka “dilarang” bermain denganku. Simbok memerlukan mereka untuk membantu pelbagai pekerjaan di rumah. Di bawah pohon pisang, aku sendirian: umbelen dan tak berpakaian komplet. Kasihan…

Tataran 2

Kuntjung memiliki adik bernama Bawuk. Mereka adalah bocah-bocah berbahagia, hidup di rumah sederhana dan beradab desa. Aku tergoda berimajinasi tentang kehidupan Kuntjung dan Bawuk di rumah.

Pekarange pa Wangsa djembar.

Omah tjilik sing katon kae, kandang kebo.

Sanding kandang kebo, kandang wedus.

La kae kandang pitik.

Ngarep omah ana wite djambu. Menawa pinudju awoh, wohe ngemohi.

Kuntjung lan Bawuk kaulan nggone mangan djambu.

Ngiringan omah, ana peleme patang wit…

Dulu, rumah-rumah di desa memiliki pekarangan. Orang-orang desa memiliki adab hidup bersahaja tapi sanggup memaknai rumah dan tanah. Petikan cerita itu membuatku rindu mengalami hidup di desa. Di lingkungan rumah, ada kandang-kandang hewan: kerbau, kambing, pitik. Pelbagai pohon ditanam, memberi keteduhan dan rezeki. Imajinasi rumah desa telah berubah. Sekarang, di desa-desa, aku jarang menemukan gambaran seperti rumah di bacaan lawas: rumah sebagai dunia membahagiakan bagi Kuntjung dan Bawuk.

Tataran 3

Memori sering menimbulkan iri. Aku iri dengan orang-orang dari masa 1950-an. Aku terpikat dengan cerita tentang pasar malam. Cerita mengandung sindiran untuk kebiasaan keluarga-keluarga abad XXI saat berambisi mencari hiburan-hiburan mahal. Aku perlu mengutip agar merasa ada getaran-getaran perasaan dari masa lalu.

Wong tuwane Kuntjung arep ndeleng pasar malem menjang Sala.

Anake telu pisan diadjak.

Bawuk ngandani kakangne, menawa arep diadjak ndeleng pasar malem.

Kuntjung saking bungahe, djogedan.

Bawuk tjelatu: “Aku kelingan sluku-sluku batok…

Ah, bocah-bocah itu bergembira, pergi ke pasar malam: berdendang dan berjoget. Adegan pergi ke pasar malem dramatis. Mereka bepergian naik bis. Oh, gambaran keluarga dari desa, bergerak ke kota mencari hiburan demi kebahagiaan.

Cerita-cerita Kuntjung dan Bawuk selalu menggoda imajinasiku, bergerak ke masa lalu dan enggan mengalami kehidupan mutakhir. Aku membandingkan ada perbedaan besar dalam sajian cerita-cerita untuk bocah, masa 1950-an dan 2000-an. Imajinasi dan penokohan telah berubah, berbarengan gerak zaman tak keruan. Aku tak menolak hidup di abad XXI. Aku cuma iri dan kangen dengan masa lalu. Bacaan-bacaan lawas membuatku memiliki referensi meski tak utuh. Begitu.

Tataran 4

Iklan