Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Sekian hari lalu, aku membeli buku berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (September 1948-Desember 1949) garapan H.A. Poeze. Buku baru, terbitan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta, 2014. Harga 125 ribu. Aku harus membeli, menguatkan kemauan untuk mengetahui pelbagai hal tentang Tan Malaka dan sejarah (politik) Indonesia. Puluhan buku tentang Tan Malaka telah ada di Bilik Literasi. Buku Poeze itu semakin memberi ajakan mengingat Tan Malaka, sepanjang masa. Wah!

Rabu, 19 Februari 2014, esaiku berjudul Monumen Tan Malaka tampil di Solopos. Esai wagu, pembuktian “mengingat” dan “mempelajari” Tan Malaka. Buku dan esai wagu bertaut dengan buku garapan Tamar Djaja berjudul Pusaka Indonesia: Orang-Orang Besar Tanah Air (Badan Penerbitan G. Kolff & Co., Bandung 1951). Buku terbit sejak 1940. Empat kali cetak, sampai 1951. Buku tebal dan laris, referensi bagi kaum pergerakan dan publik mengetahui tokoh-tokoh berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Tokoh berpengaruh? Aku menggunakan istilah “tokoh berpengaruh” tanpa maksud meniru judul buku kontroversial, berkaitan ketokohan dalam sastra.

Pusaka 1

Buku bersampul merah, bergambar burung garuda. Buku khas mengabarkan Indonesia. Muhammad Yamin (1940) memberi komentar: “… hendak menggambarkan beberapa pengandjur Indonesia jang berdjuang dalam beberapa lapangan hidup untuk kepentingan bersama.” Adinegoro (1946) menulis: “Berhubung dengan sedjarah kemerdekaan kita, jang harus diketahui ialah sedjarah orang-orang besar tanah air kita, para pemimpin kita, pudjangga kita, extremisten kita, diplomaten kita, alim ulama kita, jang masing-masing dalam lapangannja, bekerdja, berusaha, berkorban siang dan malam, ada jang dikenal, jang tidak dikenal, jang termasjhur dan jang tidak termasjhur.” Hamka turut memberi pujian: “Tentu sadja ummat kita akan menerima rangkaian gubahan ini dengan djari sepuluh.” Ha! Aku mendapat ungkapan apik: jari sepuluh. Apakah ini simbol penilaian sempurna? Aku tidak tahu.

Tamar Djaja berpesan: “… saja serahkanlah kitab ini kepangkuan perpustakaan Indonesia maha permai, semoga dapat dianggap sebagai sesuatu jang ada harganja untuk masjarakat bangsa kita.” Sejarah Indonesia memang tidak melulu senapan, seragam, gedung, jalan, kereta api… Sejarah juga dibentuk dengan kata-kata, hadir sebagai buku. Kehadiran buku garapan Tamar Djaja di tahun 1940 tentu “opisisi” dari nalar kolonial. Orang-orang besar dimunculkan dan dikisahkan, memberi sengatan untuk nasionalisme dan perlawanan atas kolonial.

Pusaka 2

Tamar Djaja mengisahkan Tan Malaka (1894-1949). Kutipan tentang adegan merantau Tan Malaka ke Jawa. Tamar Djaja menulis: “Tahun 1921, iapun pergi ketanah Djawa. Tan Malaka mendjadi merah dan terus mendjadi komunis. Di Bandung ia mendirikan sekolah….” Tan Malaka memang tokoh pendidikan. Kalangan politik justru sering menganggap Tan Malaka adalah bapak pergerakan ketimbang pendidikan. M. Yamin menjuluki Tan Malaka adalah Bapak Republik Indonesia. Sangar!

Aku pun tertarik membaca pengisahan Tamar Djaja tentang tokoh asal Minangkabau bernama Sjech Muhammad Djamil Djambek (1860-1947). Pujian Tamar Djaja: “Sjech Muhammad Djamil Djambek termasuk djago tua jang meretas djalan (oprichter) dari kemadjuan di Minangkabau. Ia bergerak sebagai ulama, dengan djalan berpidato, mengadjar agama tjara modern, mendirikan perkumpulan dan sebagainja, sehingga Minangkabau berubah mendjadi daerah jang madju bangun dan insaf.”

Dua tokoh berasal dari Minangkabu, membuatku terpukau. Aku sering membaca biografi tokoh-tokoh asal Minangkabau. Aku pernah penasaran membaca uraian Hadler mengenai relasi rumah gadang dan surau bagi biografi intelektual-politik-religius para penggerak bangsa asal Minangkabau.

Pusaka 3

Pilihan orang besar dari Jawa adalah Ranggawarsita (1803-1873). Tamar Djaja menulis: “Ranggawarsita adalah pudjangga bangsa Indonesia jang pertama dalam permulaan abad ke 19. Pudjangga, sebenarnja tidak banjak diperoleh dalam masjarakat bangsa Indonesia pada zaman jang lalu, akan tetapi seorang-seorang timbul menjebabkan nama Indonesia naik karenanja. Pudjangga jang kenamaan, harus ditempatkan dalam leretan orang-orang besar tanah air, karena djasa pudjangga tidak ketjil dalam perjuangan sesuatu bangsa.” Pengakuan atas kontribusi Ranggawarsita patut diumumkan ke publik.

Aku cuma kaget dengan penjelasan Tamar Djaja. Pengakuan sebagai “pudjangga bangsa Indonesia jang pertama dalam permulaan abad ke 19” menggodaku untuk melacak sejarah kesusastraan berlabel “Indonesia”. Tamar Djaja tampak berlebihan, menempatkan Ranggawarsita dalam ruang sejarah besar, memuji tanpa rincian situasi zaman dan arus politik-sastra di negeri terjajah. Waduh, aku berlagak sebagai tukang kritik.

Buku setebal 378 memuat 45 tokoh, dari Dharmawangsa sampai H.H. Hasjim Asjari. Aku menganjurkan para peminat sejarah dan pembaca biografi agar memiliki buku Tamar Djaja. Konon, buku ini termasuk buku langka, berharga mahal. Aku menganggap buku Pusaka Indonesia adalah warisan penting dari penulis buku, sejak masa 1940-an. Kolonialisme diladeni dengan buku, mengisahkan orang-orang besar, berlatar politik sampai seni. Begitu.

Iklan