Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

14 Februari 2014, aku dan Pri bergerak ke negeri Blambangan, ujung Jawa Timur. Aku dan Pri memilih naik sepur, berniat mengalami perjalanan mengesankan. Pagi hari, hujan abu-pasir akibat letusan Gunung Kelud. Apakah masih terus ingin bergerak, meninggalkan Bilik Literasi menuju Pondok Pesantren Darussalam di negeri Blambangan? Aku putuskan tetap bergerak untuk “berkhotbah” dan bertemu para santri. Perjalanan ke Stasiun Jebres (Solo) diantar Fauzi dan Tipu Muslihat. Abu-pasir berterbangan sepanjang jalan. Suram. Tubuh dan pakaian kotor. Di stasiun ada badai. Kereta api terlambat untuk pemberangkatan… Sampailah di negeri Blambangan, 11 malam. Selamat.

15 Februari 2014, pagi di Pondok Pesantren Darussalam, aku berkhotbah tentang sastra. Celana panjang kotor, sejak perjalanan dari Solo. Aku pun mengenakan celana kolor pendek. Adegan masuk pesantren dan kantor tampak wagu. Para santri berpakaian rapi. Guru-guru berpakian rapi dan necis. Aku bercelana pendek, bergerak dari ruang ke ruang. Apakah pakaian menjadi urusan penting bagiku dan para penghuni pondok pesantren? Aku tak tahu. Dari pagi sampai sore, aku dan Pri ngoceh dengan girang dan lega. Sore, bergerak pulang ke Solo naik bis. 16 Februari 2014, sampai Bilik Literasi. Di Bilik Literasi, usai Residensi Literasi: 14 Hari, Sinau! Ada tinggalan sarung, celana, kaus, celana dalam, celana…. Teman-teman sengaja meninggalkan pakaian di Bilik Literasi? Ah, mereka mungkin mengejek diriku bakal menjadi pedagang pakaian bekas. Ha!

Pakaian? Aku jarang berpikir pakaian. Keluarga dan orang-orang sering melihatku jarang bisa berpakaian pantas. Aduh! Aku memang seksi dan ganteng tapi tak memiliki ilmu berpakaian. Kasihan. Di pelbagai acara atau peristiwa, aku sering tak bisa tampil parlente. Ah, pakaian itu urusan sepele. Wah, pikiranku mulai…

Aku tak ingin mengurusi pakaianku. Buku berjudul Toko Pakaian Kurnia (Ganaco, Bandung) susunan Oejoeng S. Gana dan Kadar justru pantas jadi pembahasan ketimbang diriku. Lho! Buku setebal 40 halaman tanpa keterangan tahun menggodaku untuk mengetahui kebermaknaan pakaian dan usaha perdagangan pakaian di masa lalu. Aku sengaja membaca dan mengoleksi buku-buku tentang pakaian agar ada pengetahuan tentang sejarah pakaian di Indonesia, dari masa ke masa. Di halaman awal, ada keterangan: “Pada umumnja murid (orang tuanja?) mengharap akan mendjadi pegawai, lebih baik pegawai negeri, sesudah dia tamat beladjar, djuga dimasa sekarang ini.” Penerbitan buku Toko Pakaian Kurnia dimaksudkan jadi pedoman bagi “murid-murid kelas tertinggi Sekolah Rakjat dan murid-murid kelas pertama Sekolah Dagang.” Buku ini jadi bekal mereka menjadi “pengusaha” ketimbang terlalu bermimpi menjadi pegawai negeri. Hidup bermakna tak tergantung dengan keberhasilan menjadi pegawai negeri. Aku setuju!

Pakaian 1

Gambaran tentang letak dan kemonceran Toko Pakaian Kurnia: “Nama jang disebut diatas tentu tidak asing lagi bagi penduduk kota ini. Tiap-tiap orang mengenal toko besar jang berdiri dimuka pintu gerbang pasar ditengah kota itu. Toko itu adalah satu diantara toko-toko jang terbesar dan terkenal dikota ini. Langganannja banjak, sebab orang tahu, bahwa pekerdjaannja tjepat, beres, sempurna dan pakaian buatannja itu enak dipakai. Upah membuatnja tidak mahal, tidak lebih dari pada ditoko-toko jang lain. Hampir semua pegawai negeri berlangganan disitu.”

Ada tokoh bernama Kurniadi di buku Toko Pakaian Kurnia. Kurniadi adalah lelaki tekun, memiliki ambisi besar. Pembelajaran menjahit menuntun impian menjadi pengusaha. Sip! Alinea berisi ambisi: “Kurniadi ingin mendjadi tukang djahit dan mempunjai toko pakaian seperti jang dilihatnja dikota itu. Ia jakin dengan kemauan jang keras, ia akan mentjapai tjita-tjitanja itu. Ia tidak lupa akan apa jang dikatakan oleh gurunja dahulu, waktu ia duduk dikelas enam sekolah rendah…” Sang guru berpesan: “Tjita-tjita jang tinggi, maksud jang mulia, jang disertai oleh hati jang keras untuk mentjapai tjita-tjita itu, dapat meninggikan deradjat seseorang dan dapat meninggikan deradjat sesuatu bangsa.”

Pakaian 2

Aku jadi ingat propaganda pemerintah dan para pengusaha besar di Indonesia. Mereka berkolaborasi membujuk siswa dan mahasiswa menjadi pengusaha. Materi menjadi pengusaha diajarkan di sekolah dan universitas. Seminar dan diklat diadakan agar muncul ribuan pengusaha. Orang-orang mulai bermimpi jadi pengusaha, berbeda dengan ikhtiar Kurniadi. Aku pun sinis. Pemerintah dan pengusaha besar berlagak untuk mengubah Indonesia, menjadikan orang-orang berpikiran uang dan kesuksesan. Aku saja jenuh dan muak dengan istilah “kesuksesan”. Istilah ini milik kaum pemimpi. Aduh! Mereka bicara sudah latah, menggunakan istilah-istilah bisnis dan motivasi. Tuhan, lindungilah aku dari “ketololan” dan “kesombongan mereka”. Amin.

Aku menduga buku Toko Pakaian Kurnia termasuk bacaan awal menumbuhkan jiwa pengusaha di Indonesia. Aku patut memberi apresiasi, buku berisi cerita dan gambar disajikan ke publik. Buku menjadi pedoman menjadi pengusaha, bujukan agar orang-orang tak berebut jadi pegawai negeri. Situasi Indonesia masa 1950-an tentu mengandung persoalan-persoalan besar dalam urusan ekonomi, politik, sosial. Buku telah turut mengubah Indonesia.

Pakaian 3

Kabar cita-cita Kurniadi? Sambungan cerita: “Karena pekerdjaannja jang senantiasa memuaskan orang-orang jang berlangganan dengan dia, nama Kurniadi tetap harum sampai sekarang. Pakaian dari tokonja adalah jang paling terkenal, jang terbaik potongannja, jang tertjepat selesainja, jang ter…” Buku ini pantas dicetak ulang untuk dibaca kaum pemimpi: berbekal bacaan menjadi pengusaha. Begitu.

Iklan