Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Awal Februari, koran-koran saling pamer berita dan pengumuman berisi peraihan penghargaan pers. Pengahargaan itu menggunakan nama wartawan dan pengarang lawas: Adi Negoro. Aku membaca koran-koran, merasa ada ketidaklengkapan saat ada berita dan pengumuman tapi tak sajikan pengisahan tentang Adi Negoro meski cuma 3000 karakter. Nama tokoh “dimanfaatkan” sebagai pengesahan penghargaan tanpa agenda mengakrabkan para pembaca koran dan majalah berkaitan biografi dan warisan buku-buku Adi Negoro. Aduh!

Aku lekas membaca ulang koleksi buku Adi Negoro. Sekian buku ada di depanku, persembahan kata dari masa lalu. Imajinasiku bergerak ke Adi Negoro sebagai orang tangguh, berambisi “mengubah” Indonesia dengan pers. Pengelanaan ke negeri-negeri asing semakin membuat misi Adi Negoro terang: bereferensi “ratu dunia” untuk pembentukan Indonesia. Tulisan demi tulisan disajikan ke publik. Buku demi buku diterbitkan sebagai bacaan “kaum berliterasi”. Esai dari pembacaan tentang Adi Negoro aku setor ke Jawa Pos. Minggu, 9 Februari 2014, esaiku tampil sebagai sapaan dan sarapan kata, mengenang dan menghormati Adi Negoro. Lega. Aku sengaja berniat menghadirkan Adi Negoro sebagai tokoh pers untuk peringatan Hari Pers di Indonesia.

Esai itu aku tempel di lemari. Puluhan orang di Bilik Literasi ikut melihat dan membaca. Sekian orang menganggap esaiku jelek. Sekian orang memberi pujian kecil. Ah! Esaiku memang tak sedap dan lezat, memerlukan bumbu imbuhan agar menggugah selera literasi. Aku menulis esai itu saat malam, sela sinau bareng dengan teman-teman di Bilik Literasi. Duduk sekejap, menikmati lagu-lagu sendu dan romantis. Esai tentang Adi Negoro pun selesai, diresmikan dengan senandung lagu Titit DJ: “… kuingin kau jadi milikku…” Oh, malam bertaburan kata dan imajinasi asmara picisan.

Hari demi hari berganti. Aku mulai membuka ulang buku Adi Negoro berjudul Filsafah Merdeka (Pustaka Antara, Jakarta, 1950). Buku ini pembuktian Adi Negoro sebagai esais. Sip! Aku pun mengaku esais. Adi Negoro menulis: “Kitab ini…. Sebagai pelepaskan rasa kebimbangan dalam hati sendiri tentang soal-soal jang mengenai kemadjuan umum dan kemadjuan chusus bangsa kita.” Peringatan keras dan lugas: “Banjak kemungkinan anasir jang indah-indah terkandung dalam alam dan manusia Indonesia, hanja tjara berpikir manusia Indonesia itu masih banjak terkungkung oleh belenggu sisa-sisa penjakit djdjahan lama dan tjara berpikir feodalistis dan dogmatis serta kebanjakan kemasukan sipat lebah atau semut jang suka berkerumun, berkumpul banjak-banjak kalau ada manisan atau gula atau makanan jang didapat oleh salah seekor anggotanja.” Mengapa Adi Negoro memberi kritik bertumpuk dengan ejekan-ejekan kasar? Aku menerima kritik Adi Negoro sebagai “kemarahan” mengalami hidup di masa 1950-an meski kritik itu masih berlaku sampai 2014.

Filsafah 1

Aku sering membaca tulisan-tulisan Adi Negoro, menemukan impresi dan sensasi, bergantung konteks penulisan dan penghadiran buku. Di buku Filsafah Merdeka, Adi Negoro mirip “orator”, berseru demi perubahan tanpa rikuh. Adi Negoro berseru: “Angan-angan adalah musuh bangsa Indonesia, maka tidak lain dari pikiran jang terbentuklah, jang teratur, jang lurus, jang disokong oleh dasar bathin jang terkandung dalam ‘pantjasila’, itulah jang mendjelma kedalam djiwa manusia Indonesia dizaman depan”. Pancasila? Oh, aku jadi mengerti maksud menaruh gambar garuda, simbolisasi Pancasila di sampul depan. Garuda berlatar merah. Sangar!

Filsafah 2

Apakah “pikiran merdeka” di negara berideologi Pancasila? Adi Negoro menjelaskan “pikiran merdeka” mengacu situasi politik dan birokrasi: “Golongan itu harus merdeka, terlepas dari nafsu mentjari keuntungan atau mementingkan keperluan sesuatu golongan…. mereka terlepas dari pentjaharian nafkah dan djuga bebas dari hawa nafsu mau kaja dengan memakai kedudukannja jang penting (zaman sekarang disebutkan makan suap-sogok alias corrupsi).” Ha! Adi Negoro telah berurusan dengan nasib Indonesia dinodai korupsi? Aku jadi ingat ensikopedia susunan Adi Negoro. Ada penjelasan tentang korupsi. Apakah para caleg harus membaca Filsafah Merdeka agar mereka bebas dari hawa nafsu? Ah, mereka sulit menjadi kaum waras. Sejak awal, memberi aib bagi Indonesia. Lho!

Orang-orang berambisi menjadi kaum terhormat di DPR. Ambisi dibuktikan dengan pengotoran nalar dan imajinasi, muslihat di sembarang tempat. Aku sulit memberi maaf bagi mereka, kaum tak memiliki “pikiran merdeka”. Mereka harus ikut kursus Adi Negoro, mempelajari hal-hal berkaitan adab dan demokrasi. Wah! Aku menduga mereka tak pernah mengenal nama Adi Negoro. Mereka pasti cuma mengenal nama sendiri, diumumkan sepanjang hari di pelbagai tempat. Dalil picik: “Ingatlah namaku! Ingatlah fotoku!”

Filsafah 3

Fanatisme diri dan partai politik telah menodai Indonesia. Fanatisme? Politik itu bermodal fanatik. Adi Negoro mengingatkan: “Sifat fanatisme pada manusia tidak dapat dipudji oleh falsafah, sebab bertentangan dengan kemerdekaan berfikir.” Ingat Adi Negoro, ingat buku untuk pedoman berpolitik, berjunalistik, berdemokrasi, berpancasila. Wah! Aku mulai menganggap politik di Indonesia tak memiliki referensi buku-buku. Para politikus berlebihan mengumbar nama, foto, iklan, komentar… Mereka tak bisa diakui “kaum terdidik” atau “kaum pendidik” demi politik beradab. Begitu.

Iklan