Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Buletin sastra bernama Pawon membuat acara peringatan untuk perjalanan 7 tahun. Festival Sastra Solo (22-23 Februari 2014) diselenggarakan dengan niat dan kebersamaan, mulai urusan acara dan ongkos. Dari hari ke hari, rapat-rapat membahas kesanggupan merampungkan penggarapan buku-buku: puisi, cerkak-geguritan, katalog. Aku merasa perlu membuka koleksi buku dan majalah di Bilik Literasi, bermaksud menemukan puisi-puisi tentang Solo. Puisi-puisi lawas diterbitkan bersama puisi-puisi baru, kiriman dari para pujangga di Solo, Jakarta, Jogjakarta, Madura…. Pencarian puisi laws mesti dilakukan di sela mengurusi Residensi Literasi: 14 Hari, Sinau! Sekian puisi ditemukan. Lega.

Puisi lawas tentang Solo ada di majalah Indonesia (September 1958, Tahun IX, No. 9). Pujangga bernama Armaja menulis puisi berjudul Sriwedari (Solo, 1957). Puisi berisi enam bait, mengundangku untuk berimajinasi Sriwedari masa 1950-an.

Rerumputan hidjau sedjuknja menggapai diri musim

lapang sriwedari rumah rumah jang lengang

malam tua beradu didada hidup lepas

terasa denjut malam menebah diri dalam dalam

Haripun rebah dipintu malam keasingan diri

suar lampu senda tawa lengkap diteras malam

nganga kehendak sriwedari manis mengusap wadjah

gemerisik tjemara langit biru tamasjah malam tua

Rendra dan Wiji Thukul juga pernah menulis puisi tentang Sriwedari. Mereka memiliki idiom berbeda dengan Armaja. Aku paling suka dengan ungkapan Armaja: “tamasjah malam tua”. Aku bisa mengimajinasikan kunjungan ke Sriwedari saat malam telah larut. Adegan itu berbeda dengan Hidjo saat pelesiran ke Sriwedari. Pelesiran terjadi dalam novel Student Hidjo garapan Marco Kartodikromo. Aku malah sibuk mengenang Sriwedari.

Indonesia 1

Sekarang, urusanku dengan majalah Indonesia, majalah lawas dan keren. Majalah ini diterbitkan oleh Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional (BMKN), Jalan Nusantara 28, Jakarta. Dewan redaksi: Trisno Sumardjo, Oesman Effendi, H.S. Gazalba, B.A. Di masa 1950-an, Indonesia bisa didapatkan dengan harga Rp 4,50. Apakah murah atau mahal? Aku tak tahu. Aku cuma tahu ada buletin sastra dibagi gratis, bernama Pawon. Buletin wagu, terbit setelah puluhan tahun dari Indonesia.

Ada esai panjang, dicomot dari skripsi, berjudul Sitor Situmorang sebagai Penjair dan Pengarang Tjerita Pendek oleh J.U. Nasution. Aku telah memiliki edisi buku, terbitan Gunung Agung. Aku juga kolektor buku-buku Sitor Situmorang: puisi, cerpen, drama, esai. Ingat Sitor Situmorang, ingat JJ Rizal: sejarawan dan pengagum-peneliti tulisan-tulisan Sitor Situmorang. Komunitas Bambu sering menerbitkan buku-buku Sitor Situmorang, bukti kegandrungan JJ Rizal untuk mengumumkan bahwa Sitor Situmorang adalah pujangga tangguh.

Indonesia 2

J.U. Nasution menulis: “Kemudian perlu saja njatakan disini bahwa untuk menelaah pengarang ini saja merasa ragu-ragu. Hal jang menjebabkan keragu-raguan saja itu karena kita belum dapat menjatakan bahwa pengarangnja telah selesai, dalam arti ia tidak menghasilkan lagi karangan-karangan lain.” Keraguan itu dijawab oleh Sitor Situmorang dengan menulis terus sampai abad XX berakhir. Wah! Sitor Situmorang memang pujangga sepanjang masa. J.U. Nasution tentu kelelahan jika melanjutkan tulisan-ulasan dengan menanti “masa pensiun” sang pujangga.

Pujangga menulis sampai mati? Nafas terakhir sang pujangga mungkin adalah huruf-huruf ajaib, pesan tak gampang ditafsirkan. Ingat kematian, aku ingat tulisan terakhir Rendra sebelum meninggal. Aku juga memerlukan mengutip puisi berjudul Kematian (Jakarta, 1957) gubahan NH Dini.

Angin jang bergumam melimpahi tepi sendja

pada rindunja tangannja dimerahi warna bunga

datanglah dia bersapa dengan hati bertautan

gairah mata kutjerminkan wadjah dukanja

Dulu, NH Dini menulis puisi. Pembaca cenderung mengenal NH Dini adalah pengarang cerpen dan novel. NH Dini akrab dengan puisi meski sering menggarap cerpen dan novel. Aku sering ingat halaman-halaman awal di buku-buku NH Dini. Ada petikan puisi-puisi, sering mengutip puisi Rendra. Apakah NH Dini pengagum dan pemuja Rendra saat masih muda? Ah, aku memerlukan jawaban dari para saksi di masa lalu.

Indonesia 3

Aku perlu membuat esai kecil, bermaksud mengetahui motif dan peran kutipan puisi Rendra di buku-buku NH Dini. Gejala menaruh kutipan puisi di halaman awal juga dilakukan sekian pengarang. Apakah esaiku pantas diajukan ke koran dan majalah? Aku berharap ada redaktur mau berkeputusan memuat esaiku meski wagu dan berisi ragu.

 Urusan menulis, mengirim tulisan, pemuatan adalah mekanisme lazim bagi penulis. Sekarang, aku mengirim esai dan resensi menggunakan email. Adegan datang ke warung internet adalah adegan mengirim sekian tulisan. Adegan itu berbeda dengan adegan di masa lalu, mengacu ke penjelasan redaksi Indonesia: “Para penjumbang jang tidak diminta redaksi, diharap mengirimkan pula prangko guna balasan suratnja.” Tulisan berkaitan surat, amplop, kantor pos, alamat…. Ah, nostalgia para penulis dengan surat tentu mengena ketimbang para pengirim tulisan dengan email.

Sejak lama, aku telah berikhtiar mencari, membaca, mengoleksi majalah-majalah lawas. Maksudku untuk melakukan dokumentasi sastra di majalah-majalah, berlanjut ke garapan esai. Koleksi itu bisa jadi bandingan dari kebermaknaan buletin sastra bernama Pawon saat sudah menempuh perjalanan selama 7 tahun. Aku tidak bermimpi Pawon bakal jadi buletin paling berpengaruh di Indonesia. Aku justru menginginkan Pawon adalah persembahan sastra bersahaja, melintasi titian waktu tanpa ragu, diwariskan untuk anak dan cucu. Begitu.

Iklan