Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Dulu, aku berkuliah di kampus aneh. Aku sulit akrab dengan para mahasiswa, akibat tuduhan-tuduhan kasar: mereka itu mahasiswa jadi-jadian. Lho! Aku tak bisa menganggap mereka adalah kaum buku, kaum pemikir, kaum sastra, kaum diskusi, kaum politik. Pekerjaan harian adalah mendatangi kampus, mengenakan pakaian necis, merokok, jajan, bergerombol…. Ah, malas melihat mereka! Di kampus aneh, aku cuma memenuhi urusian masuk kelas: kuliah. Usai peristiwa rutin di kelas, berkelana ke perpustakaan.

Aku mulai bisa akrab dengan sekian orang. Mereka mengaku sebagai seniman di teater dan sastra. Ada lelaki ceking, agak gondrong. Adegan merokok memberi bukti keseniman. Lelaki itu kuliah di jurusan agama tapi gandrung teater dan sastra. Di kampus, lelaki itu seniman ampuh dan penggoda perempuan. Ha! Aku anggap kebiasaan membuat-membaca puisi, bermain teater, nongkrong mengesahkan seniman adalah penggoda perempuan. Aduh, aku tak bermaksud membuat konklusi picisan.

Aku mengingat lelaki di masa lalu itu setelah mengurusi buku Kisah Daripada Bahasa (Bhratara, 1971) garapan Mario Pei. Penerjemahan ke bahasa Indonesia oleh Nugroho Notosusanto. Buku ini pernah jadi kegandrungan lelaki-pujangga. Sekarang, lelaki itu hidup di Gorontalo, berpredikat wartawan. Buku aneh, setebal 461 halaman. Apakah lelaki-wartawan itu berhasil memiliki buku ini saat menjalani hidup bersama istri dan anak di Gorontalo?

Bahasa 1

Di halaman awal, ada secarik kertas ditempel bagian pinggir memuat keterangan: “Buku ini dicetak dalam Ejaan Yang Belum Disempurnakan. Harap pembaca maklum.” Barangkali penerbit mengira pembaca bakal terkutuk akibat membaca tulisan tanpa EYD. Keterangan itu membuatku tertawa. Ingat, aku sering membuat kliping artikel-artikel tentang ejaan di pelbagai majalah, koran, jurnal. Aku juga sudah mengoleksi puluhan buku mengenai ejaan.

Aku merasa enak membaca edisi terjemahan tanpa EYD. Penerbitan dengan kertas buram semakin membuat mata memberi perhatian. Aroma buku lawas membuat hidung “bersin huruf”. Oh, bahasa… Tema ini belum membuat bosan.

Mario Pei menjelaskan: “Tradisi bahasa-tulisan memberikan pengaruh mengstabilkan kepada bahasa, melambatkan irama perubahannja dengan djalan mentjiptakan standard jang oleh pengarang maupun pembitjara dirasakan harus diikuti. Tradisi bahasa-tulisan itu djuga menimbulkan konsep-konsep bitjara jang ‘betul’ dan ‘tidak betul’  jang bagaimanapun sewenang-wenang nampaknja pada permulannja tak lama kemudian memperoleh sangsi dari tradisi dan adat istiadat.” Wah, bahasa-tulisan mengubah manusia dan kehidupan? Aku pernah merenung tak mendalam. Ha! Aku terpaksa menggunakan kata “merenung” agar ada pengakuan pernah memikirkan efek bahasa-tulisan.

Bahasa 2

Awal menulis esai-esai, aku menginginkan ada pembedaan dengan kebiasaan menggunakan bahasa-lisan. Renungan itu menantangku membuat pembuktian. Bisa? Aku merasa kesulitan meski belum kapok. Ah, tak usah aku lanjutkan renungan tak mendalam. Penjelasan-penjelasan Mario Pei masih membutuhkan perhatian. Di halaman 134, Mario Pei menulis: “Pada masa ini sudah mendjadi pendapat umum jang diadjukan oleh banjak wartawan jang ternama bahwa salah satu diantara halangan-halangan utama bagi saling mengerti dengan pihak Sovjet adalah ‘suatu krisis semantik’. Orang Barat djuga mengerti isi-semantik daripada terminologi Marxis, sedangkan orang Rusia tidak mengerti konsep-konsep pikiran Barat, meskipun kedua belah pihak tegar menggunakan apa jang sepintas lalu adalah kata-kata jang identik.”

Kutipan ini tidak usang jika dipakai di Indonesia. Orang-orang atau kelompok-kelompok sering berselisih akibat terminologi Marxis. Istilah “komunis” dan “kiri” telanjur dipahami orang-orang berkonteks agama ketimbang ide-gagasan. Mereka pun mengimbuhi sejarah manipulatif berdalih Pancasila. Krisis semantik selama puluhan tahun menimbulkan pengaruh buruk. Penerbitan buku tentang PKI, diskusi mengenai tokoh dan pemikiran komunis, pemberian penghargaan bagi seniman sering berurusan dengan “krisis semantik”. Aksi dari krisis semantik adalah pembakaran buku, pembubaran diskusi, hujatan ke tokoh, pembatalan pemberian penghargaan…. Aduh!

Bahasa 3

Ah, berganti tema saja. Mario Pei menghadirkan ilustrasi sejarah politikdi negara-kota Yunani dan Roma: relasi antara bahasa dan demokrasi-modern. Mario Pei menerangkan: “… Disini pulalah interaksi antara bahasa dan politik sepenuhnja diperlihatkan; karena sedangkan politik menjumbangkan kepada bahasa suatu peristilahan mengenai lapangannja, bahasa sebaliknja mendjadi pembawa-pandji dan penjebar-slogan daripada tjita-tjita politik. Kata-kata seperti ‘presiden’, ‘dewan legislatif’, ‘sidang’, ‘mosi’, ‘amandemen’, mempunjai sedjarahnja…

Sekian kata itu bermigrasi dari Yunani dan Eropa ke Indonesia. Sejak awal abad XX, politik menggunakan kata-kata dari khazanah asing. Kata-kata itu ada sampai sekarang. Orang-orang goblok berjuluk caleg mulai pamer omong dan tulisan menggunakan kata-kata klise, berlagak melek politik dan demokrasi. Aku pun bisa menuduh para peserta konvensi di Partai Demokrat memerlukan kecerewetan menggunakan bahasa sebagai “pembawa-pandji” dan “penjebar-slogan” agar menjadi presiden. Kecerewetan itu tentu diramalkan sulit membujuk publik memberi suara dan doa. Begitu.

Iklan