Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

The Liang Gie. Dulu, aku merasa aneh setiap mendapatkan buku dengan nama penulis: The Liang Gie. Keterangan kecil di buku: Dosen Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Nama panggilan? Pak The atau Pak Liang atau Pak Gie? Ah, aku tak pernah bertemu The Liang Gie, penulis puluhan buku, pelbagai tema. Buku-buku The Liang Gie tampil sederhana, gampang diingat mata.

Aku membaca buku berjudul Tjara Beladjar jang Efisien (Djambatan, 1961). The Liang Gie memberi persembahan: “Kepada mahasiswa Indonesia.” Buku bersampul hijau, 102 halaman. Aku memegang dan membaca dengan setumpuk penasaran tentang lakon mahasiswa di masa lalu. Para mahasiswa “memerlukan” buku panduan untuk belajar. The Liang Gie memberi panduan dengan maksud membuat mahasiswa “rajin” dan berhasil menjalani kuliah.

The Liang Gie 1

Keterangan The Liang Gie, berkonteks Indonesia: “Setiap tahun beribu-ribu peladjar memasuki pelbagai perguruan tinggi. Tetapi tidak semuanja dapat menjelesaikan peladjaran itu. Banjak diantara mereka kandas ditengah djalan karena tidak mengetahui tjara beladjar jang baik. Bahkan mahasiswa-mahasiswa jang tergolong sangat radjin dan tjerdas, banjak pula jang gagal dalam udjian disebabkan karena kurang kepandaian dan pengetahuannja dalam teknik beladjar.” Fakta! The Liang Gie bermula dari fakta, menulis buku agar ada perubahan nasib para mahasiswa. The Liang Gie tentu bertujuan mulia. Di halaman awal, The Liang Gie mengingatkan bahwa buku ini tak “memuat resep-resep adjaib”.

Dulu, aku kuliah tanpa membaca buku Tjara Beladjar jang Efisien. Aku membeli dan membaca buku ini setelah bergelar sarjana tak cerdas. Aku berkepentingan membaca demi menjawab penasaran tentang “teknik belajar” di kalangan mahasiswa saat ada “impian” menjadi kaum intelektual di Indonesia. Buku ini penting: dokumentasi untuk pendidikan dan referensi mengenai mahasiswa.

The Liang Gie 2

The Liang Gie menjelaskan: “Pengetahuan mengenai tjara beladjar tidaklah untuk menghapuskan usaha beladjar jang harus dilakukan oleh para mahasiswa. Tidak ada rumus-rumus adjaib untuk membebaskan mereka dari kewadjiban untuk tetap bekerdja keras. Jang ada hanjalah petundjuk-petundjuk mengenai bekerdja setjara efektif jang akan membuat djerih pajah itu memberikan hasil jang sebaik-baiknja. Tjara beladjar jang baik akan mentjegah waktu dan tenaga terbuang dengan sia-sia.” Aku menganggap The Liang Gie adalah “sang penasihat”. Nasihat-nasihat pantas dibaca ulang oleh para mahasiswa abad XXI, mahasiswa pemalas dan goblok. Di Indonesia, ada jutaan mahasiswa dan sarjana goblok! Mereka memang kuliah tapi tak belajar. Mereka tak beradegan membaca buku atau berpikir. Aduh, aku terlalu kasar memberi tuduhan dan konklusi!

Nasihat biasa dari The Liang Gie: “Selama dikelas hendaknja seseorang mahasiswa mendengarkan uraian dosen dengan penuh perhatian. Djangan sekali-kali mempunjai sikap atjuh-tak-atjuh karena merasa telah mengetahui apa jang dibitjarakan itu atau karena beranggapan bahwa dosen itu tidak begitu pandai atau tidak dapat mengadjar dengan baik. Lebih-lebih djangan mengatjaukan suasana kelas dengan berbitjara atau berbisik-bisik dengan kawan-kawan.” Aku ingat masa kuliah. Selama empat tahun, kebiasaan masuk kelas untuk mengikuti kuliah mirip “olah kesabaran”. Aku jarang menikmati uraian dosen tapi aku memenuhi nasihat: rajin dan tertib. Wah! Dulu, aku lelaki gondrong, berbaju kumal, perokok berat, berbau apek, penderita lapar. Segala kejelekan itu ditebus dengan rajin kuliah. Hebat! Aku pun lulus meski tak membaca buku Tjara Beladjar jang Efisien.

The Liang Gie 3

Nasihat terpenting dari The Liang Gie. Camkanlah! The Liang Gie memberi nasihat mengacu realitas tak terbantah: “Djanganlah terlampau banjak membuang waktu untuk mengobrol hal-hal jang tidak berguna. Terutama bagi para mahasiswa jang tinggal diasrama atau rumah pemondokan jang menampung banjak peladjar, hendaknja dapat mengadakan disiplin terhadap diri sendiri, untuk membatasi kesempatan mengobrol berdjam-djam dengan kawan-kawan. Alangkah baiknja kalau kegemaran untuk mengobrol tentang mahasiswa anu jang tjantik atau ganteng dan sebagainja, dialihkan untuk memperbintjangkan peladjaran jang tengah dituntut. Ini pasti akan mendekatkan seseorang mahasiswa kepada tjita-tjita untuk menjelesaikan peladjaran diperguruan tinggi dengan berhasil.”

Pasti! Ingat, aku tak termasuk mahasiswa sebagai tukang ngobrol “mahasiswa anu jang tjantik” meski aku sering bercakap dengan para mahasiswa cantik. Mereka biasa mengajak diriku sarapan, santap siang, santap malam. Aku berperan sebagai tukang cerita. Mereka bertugas “mengongkosi” makanan, minuman, rokok. Ah, aku tentu lelaki memalukan! Aku memang lelaki jelek tapi akrab dengan para mahasiswa cantik, berbekal cerita dan bualan dari novel, puisi, cerpen, film, lagu. Aku pun sering ngoceh tentang pendidikan, politik, sejarah, feminisme, filsafat. Lelaki pembual menanggung kemiskinan tapi memiliki arti di mata para mahasiswa cantik. Sombong! Maaf, aku tak bermaksud sombong.

Nasihat di halaman terakhir dari The Liang Gie: “… hasil daripada usaha jang sukses bukan sadja berupa idjasah, ilmu pengetahuan dan pengakuan masjarakat kepadanja sebagai seorang sardjana, melainkan djuga perasaan puas terhadap diri sendiri karena telah dapat mengatasi semua tantangan dan kesukaran diperguruan tinggi.” Aku membaca buku garapan The Liang Gie tanpa sempat mengamalkan segala nasihat dengan baik. Aku telanjur menjadi sarjana saat bertemu dengan buku tanpa “resep-resep adjaib”. Begitu.

Iklan