Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Siapa masih ingat RIS? Ah, aku pasti masih ingat. RIS = Republik Indonesia Serikat. Aku tak bisa melupakan pelajaran sejarah di SMA. Singkatan RIS masuk di buku pelajaran, tersaji di soal-soal ujian. Aku membaca dan menggarap soal-soal ujian. Ingatan masa SMA masih ada sampai sekarang. Dulu, aku murid pintar. Wah, sombong! Sekarang…..

Aku ingat RIS setelah membaca buku berjudul Soal Agama dalam Negara Modern (Tintamas, 1950) garapan Abu Hanifah. Buku berukuran kecil, tebal 64 halaman. Sampul berwarna kuning. Ah, sendu dan lembut. Ingat, buku ini berurusan negara, tak berkaitan perasaan-perasaan romantis! Buku dari masa lalu tentu membawa aroma zaman, memuat pengertian-pengertian berlatar situasi politik di Indonesia. Buku tak pernah mubadzir. Aku ingat RIS, ingat “kecemasan” mengenai nasib Indonesia. Oh! Sejarah Indonesia pernah menanggung kecemasan.

RIS 1

Abu Hanifah (1949) mengakui: “Karangan ini ditulis buat menghadapi soal-soal kebudajaan dan agama jang terang akan timbul, bilamana Republik Indonesia serikat telah mendjadi kenjataan. Soal agama dalam negara jang modern pada dewasa ini mendjadi amat hangat, karena berdampingan, melahan terikat sangat kepada dasar kebudajaan dan ideologie satu negara.” Aku mengimajinasi Abu Hanifah menulis kalimat-kalimat itu saat pagi terasa dingin dan aneh. Imajinasi bandingan: kalimat-kalimat ditulis saat malam berbulan pucat dan memelas. Abu Hanifah sudah memiliki ramalan dan siasat menghadapi pendirian RIS. Abu Hanifah adalah orang hebat. Eh, aku pakai kata “hebat”. Aku malu. Lho! Kata “hebat” telah menjadi milik partai politik. Lihatlah spanduk atau iklan politik! Kata itu digunakan untuk partai besar di Indonesia. Mereka menggunakan ungkapan sangar: “Indonesia Hebat!”

Abu Hanifah berpesan pada pembaca di pengantar cetakan kedua: “Saja harap buku ketjil ini dapat menimbulkan pikiran-pikiran jang berfaedah mengenai soal agama dalam negara modern itu.” Wah, buku tentu laris, dibaca ribuan orang. Aku belum tahu jumlah buku dicetak, peredaran di pelbagai kota, pengaruh untuk pembaca. Fakta buku dicetak ulang sudah membuatku kagum, memuji kaum terdahulu: melek literasi. Sekarang, aku sulit memberi pujian. Aku masih belum mendapat informasi mengenai jumlah pembaca buku Selalu Ada Pilihan (2014) garapan SBY. Waduh, aku terlalu ingat SBY.

RIS 2

Abu Hanifah memberi uraian sejarah dari Barat, mengaitkan agama dan negara, dari abad ke abad. Pengetahuan Abu Hanifah pantas dipuji jika menilik relevansi sejarah negara-negara besar di Eropa dan ramalan nasib Indonesia saat menjadi RIS. Pola perbandingan berbekal referensi, memberi penjelasan-penjelasan agar tak tergesa ke konklusi. Abu Hanifah menganggap kasus pembentukan RIS mesti berkaitan dengan situasi dunia. Kesadaran ini membuat ada relasi dengan kasus-kasus mutakhir di pelbagai negara. Abu Hanifah melek buku, bisa berbahasa asing, lihai membuat analisis. Aku pun memuji. Sip!

Aku tertarik dengan penjelasan peran pendidikan dan agama dalam negara. Abu Hanifah menerangkan: “Soal pendidikan dan agama memang soal penting, dan oleh karena soal pendidikan umumnja adalah soal pemerintahan, maka penting pula pendidikan satu pemerintah terhadap agama; dan tidak mengherankan kalau rakjat jang masih jakin kepada agama berusaha mendjamin hak-hak agama dalam negara dengan membentuk kekuatan-kekuatan jang tertentu, seperti partai politik.”

Bagaimana kasus di Indonesia? Pemberlakuan UUD 1945 berbeda dengan UUD RIS. Abu Hanifah memberi penilaian: “Disini djelas, bahwa antara bangsa Indonesia dari pelbagai daerah dan dari pelbagai agama tidak akan ada pertjektjokan jang berarti, bilamana mereka diberi kesempatan leluasa buat menentukan nasib sendiri. Dasarnja hanja djanganlah orang-orang luar turut tjampur.” Pandangan itu berlaku di masa  lalu. Apakah berlaku di masa sekarang? Aku sulit memastikan pendidikan dan agama di Indonesia tak dipengaruhi oleh orang, institusi, negara asing. Aku saja sering bingung menilai model pendidikan Islam tampak “mengarab” ketimbang “mengindonesia”. Ah, tuduhanku saja. Urusan agama pun mulai menonjolkan hal-hal asing ketimbang mengerti agama berlatar Indonesia, bercap pribumisasi atau kontekstual-kultural. Aduh, aku menggunakan istilah tak beres.

RIS 3

Aku tetap harus memahami penjelasan Abu Hanifah agar tak tersesat mengikuti risalah-risalah politik di Indonesia. Kalimat-kalimat Abu Hanifah sering gamblang tak harus segera dipahami dengan nalar mutakhir. Aku memerlukan menjadi manusia masa silam, acuan pertimbangan untuk penerimaan atau penolakan atas penjelasan. Abu Hanifah menulis: “Bagaimanapun djuga, oleh karena Pantjasila adalah aliran hidup bangsa Indonesia pada umumnja, maka dengan sendirinja bangsa Indonesia menjatakan: tidak netral terhadap agama, melainkan berpihak kepada agama. Dan ini tidak usah berarti, bahwa Indonesia adalah negeri terbelakang dan sebagainja.”

Buku sebagai dokumentasi “kecemasan” dan “harapan”. Aku menganggap latar politik penulisan dan penerbitan buku Soal Agama dalam Negara Modern penting diketahui agar mengerti kebermaknaan buku, peran penulis, resepsi publik. Apakah buku ini dipamerkan di Islamic Book Fair, Jakarta? Buku itu tak dicetak ulang, tak tampil di pameran buku bercap Islam. Para pengunjung dan kaum intelektual mungkin tak pernah mengetahui ada buku Soal Agama dalam Negara Modern. Mereka sulit dianggap telah melupakan. Begitu.

Iklan