Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Dulu, aku mengenal Soeharto adalah presiden dengan watak militer. Selama menjadi penguasa, Soeharto tampak njawani dan militeristik. Pengetahuan dangkal ini sering membuatku “membenci” Soeharto. Aku tak ingin membenci tapi telanjur mengerti pelbagai informasi dari para ahli politik. Soeharto tak pantas mendapat kebencian absolut. Lho! Aku cuma berpikiran tentang Soeharto saat masih bocah dan remaja. Aku tak selalu memandang Soeharto adalah orang militer atau presiden.

Soeharto 2

Di buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (G. Dwipayana dan Ramadhan K.H.,  1989) ada pengakuan: “Setelah sekian banyak jalan yang saya tempuh, akhirnya saya diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Walaupun saya tidak begitu senang dengan pekerjaan ini, saya anggap lebih baik melakukannya daripada nganggur di tengah suasana yang muram.” Soeharto saat remaja, setelah menamatkan sekolah “schakel” Muhammadiyah memutuskan mencari nafkah di Bank Desa (Wonogiri). Wah!

Aku jadi tertarik dengan ingatan Soeharto selama menjalani pekerjaan: “Saya mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda dengan mengenakan pakaian Jawa lengkap, dengan kain blangkon dan baju beskap… Mantri Bank Desa itu mengakui, bahwa otak saya encer. Tidak sampai dua bulan saya sudah menguasai seluruh pembukuan.” Aku mengakui jika Soeharto pintar! Apakah memori bekerja di Bank Desa jadi bekal Soeharto menjalankan pembangunan dengan pembukuan raksasa? Ah, aku anggap ada pengaruh meski tak besar.

Bank Desa 1

Aku mengutip biografi Soeharto agar memberi “sensasi” dari pembacaanku untuk buku berjudul Penoendjoek Oentoek Mengatoer, Mengoeasai dan Memeriksa Pekerdjaan Bank Desa (Landsdrukkerij, 1917). Apakah Soeharto pernah membaca buku ini? Aku tak tahu. Soeharto tamat dari sekolah, 1939. Soeharto bekerja di Bank Desa setelah 20 tahun penerbitan buku.

Apa peran Bank Desa bagi kaum bumiputra dan pemerintah selama masa kolonialisme? Aku pernah membaca keterangan pendek di buku Robert van Niel. Aku ingat! Aku temukan keterangan tentang Bank Desa di buku Penoendjoek… : “Djika pada waktoe hari koempoelan bank-desa, ambtenaar-ambtenaar toeroet datang sekali-sekali, atau mereka bertanja-tanja pada orang-orang jang beroetang dan orang-orang jang mengoeasai bank-desa itoe, nistjajalah pemerintah desa itoe selaloe mengingat , bahwa K. Pemerintah Agoeng sangat menghargakan volkscredietwezen itoe goena memadjoekan sekalian karesidenan disini.”

Bank Desa 2

Bank Desa aku anggap institusi ganjil di Hindia Belanda. Di awal abad XX, bank tentu memiliki pengaruh besar, ejawantah nalar ekonomi dan perbankan Barat merasuki kehidupan kaum terjajah. Bank Desa tentu diadakan dengan misi-misi di desa, berkesesuaian dengan ambisi-ambisi kolonialisme, kapitalisme, “kemadjoean”. Di desa-desa ada bank, ada kesadaran tentang uang, simpan-pinjam, modal, laba…. Wah, pemerintah kolonial pasti “cerdas”, memodernisasi desa-desa di Hindia Belanda.

Aku perlu mengutip penjelasan tentang dua macam Bank Desa: “Adapoen bank-desa itoe ada doea matjam, jaitoe b.d.d.g. (bank-desa-boeat-dagang) dan b.d.t. (bank-desa-boeat-tani). B.d.d.g. jaitoe bermaksoed pertama-tama akan memberi oetang pada orang-orang desa jang mendapat izin boeat pindjam, goena bekerdja dagang atau lain pekerdjaan; sedang b.d.t.  itoe goenanja boeat memberi pindjam goena keperloean peroesahaan tanah (tani)… kalaoe oetang pada b.d.d.g. pembajaran penitjilan (ansoeran) ketjil-ketjil, tetapi banjak-banjak kali; sedang oetang pada b.d.t. pembajaran penitjilan (ansoeran) itoe hanja satoe kali atau lebih sadja, tetapi tempohnjapoen lebih lama.”

Bank Desa 3

Bank mengesankan utang. Aku sering bingung mengartikan bank, sejak aku masih bocah sampai sekarang. Dulu, pemerintah membuat propaganda agar murid-murid SD menabung. Ada program Tabanas. Aku tak bisa ikut menabung. Sekolah saja tidak diberi uang saku. Murid sulit jajan. Aku mulai berurusan dengan bank saat mulai menulis esai-esai di pelbagai koran. Honor disetor ke rekening. Aku diharuskan memiliki nomor rekening bank. Aduh! Aku bingung, memerlukan konsultasi ke sekian orang. Hari demi hari berganti. Aku berhasil berurusan dengan bank, memilih jenis simpanan tak mentereng. Uang setoran awal 50 ribu. Aku pun mulai rajin ke bank, mengambil rezeki kata-kata. Aku cuma mengambil, tak menabung. Tahun demi tahun berganti. Petugas bank “memaksa” aku harus membuat kartu ATM. Ha! Aku dilarang untuk dolan lagi ke bank, bertemu satpam, petugas, warga: bertukar sapa dan bercakap. Aku dianjurkan agar mengambil uang di mesin ajaib, di kamar berkaca. Oh! Sekarang, aku tetap malu berhadapan dengan mesin ajaib.

Di buku Penoendjoek…. ada cerita-cerita perjumpaan petugas Bank Desa dan para nasabah atau penduduk di desa. Urusan uang adalah urusan bergerak, bertemu, bercakap…. Soeharto saat bekerja di Bank Desa sering berkeliling desa-desa, berkumpul warga di kantor-kantor lurah. Eh, Soeharto saat itu berperan sebagai “djoeroe toelis” atau penginthil? Ada keterangan berkaitan pegawai di Bank Desa: “Jang haroes diangkat djadi djoeroe toelis b.d., jaitoe orang-orang jang menoeroet pikiran kepala dictrict dan ambtenaar Volkscredietwezen tjokoep pengetahoeannja dan tida mendjaoehkan dirinja daripada orang ketjil, pertama-tama jaitoe orang-orang jang telah tammat di sekolah klas 2 serta soedah djadi leerling dan mengerti betoel segala pekerdjaan djoeroe toelis.” Ah, aku tak mau melanjutkan urusan Bank Desa. Aku jadi ingat utang, Indonesia, gaji, hadiah, bunga, perempuan cantik, kartu kredit, perampokan,  mesin ajaib. Begitu.

Iklan