Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Buku sejarah kota, buku idamanku. Aku mulai berminat membaca buku-buku sejarah kota setelah berhasil melepaskan diri dari keminderan sebagai wong desa. Buku-buku sejarah Solo, Jakarta, Bandung, Surabaya, Jember, Makassar, Jogjakarta, Padang, Medan… Buku-buku selalu memberi imajinasi-historis, memicu anganku untuk bisa mendatangi kota-kota di Indonesia tanpa alasan pelesiran. Aku ingin berkelana berdalih literasi. Adegan berfoto atau memanjakan diri dengan pelesiran semoga bisa dihindari. Lho! Aku cuma berkeinginan singgah ke kota-kota, berlanjut mengenang dengan tubuh dan kata.

Aku memiliki buku berjudul Sam Po susunan Kam Seng Kioe, terbitan Toko Buku Liong, Semarang. Buku dengan garapan sederhana, tebal 224 halaman dan diimbuhi lampiran berisi iklan dan gambar. Aku jarang ke Semarang. Pengetahuanku tentang Semarang terbatas. Aku tahu Semarang saat SMA. Sekolahku berantakan dan memiliki seribu masalah. Aku memutuskan berhenti sekolah. Keluarga tak setuju. Aku minggat! Aku ke Terminal Kartasura. Ada bus ke Semarang. Aku naik, bergerak ke Semarang. Minggat ke kota tak dikenal. Aku tidur di masjid di daerah Banyumanik, sekian hari. Berkeliaran dengan kepala gundul, merokok, berlagak preman. Aku sempat mampir ke Psar Johar, belanja novel Romo Mangun dan setumpuk majalah Horison lawas. Uang untuk minggat dan belanja adalah uang SPP tiga bulan. Ha! Pengetahuanku tentang Semarang perlahan bertambah dari novel-novel Nh Dini, diimbuhi buku-buku.

Sam Po 1

Sekarang, aku mengimajinasikan Semarang melalui pengisahan Kam Seng Kioe. Buku ini “dipersembahkan bagi jang berminat”. Aku berminat! Ada informasi-informasi berfaedah untuk mengerti Semarang di masa lalu. Kam Seng Kioe menulis: “Orang-orang Tionghoa jang merantau ke Semarang mula-mula menetap disekitar Sam Po Tong atau Gedung Batu, karena pada masa itu Semarang berupa tegalan sedangkan penduduknja masih sangat sedikit dan berdiam didalam beberapa gubuk-gubuk ketjil jang tersebar disana-sini.” Ah, gambaran memelas. Aku belum pernah ke Gedung Batu. Semarang masih kalimat-kalimat di buku. Aku belum berkelana ke Semarang, berbekal peta (imajinasi) sejarah.

Buku ini aneh, berisi dongeng-dongeng, informasi sejarah, tata cara peribadatan…. Aku masih meemerlukan infromasi pelbagai hal agar bisa mengerti isi buku. Di awal, ada “Dongeng Sam Po Taij Djin”. Ada juga halaman-halamn berisi “seddikit asal-usulnja nama djalan dalam kota Semarang”. Di bagian II, ada uraian tentang “bersembahjang dikelenteng”. Waduh, aku memang orang bodoh, tak mengerti keunikan buku.

Sam Po 2

Kam Seng kioe menulis: “Satu malam sebelumnja kita akan datang sembahjang dikelenteng Sam Po Tong, kita harus sembahjang dahulu dirumah dan bersudjud kepada Sam Po Taij Djin serta mengutarakan maksud permohonan kita. Sembahjang dirumah ini sangat sederhana, djika kita ada pelihara Twa-pek-kong, sembahjang ini sama dengan jang biasanja dilakukan pada saban The-it dan Tjap-go.” Ah, aku tak tahu. Barangkali temanku, si peneliti ampuh, di Jogja bisa memberikan penjelasan. Konon, si peneliti ampuh sedang meneliti tentang Tionghoa di Solo. Aku berharap ada hal-hal berkaitan untuk memberi keterangan padaku.

Aku beralih saja ke halaman-halaman lampiran. Eh, ada halam berisi iklan rokok. Ada dua merek rokok: Prau Lajar dan Potong Padi. Apa hubungan rokok dengan imajinasi di samudra dan sawah? Ada keterangan: “Rasanja terkenal/ tetap enak/ dan harum.” Perintah dari si pengiklan: “Isaplah selalu rokok….” Dua rkok ini dibuat oleh perusahaan tembakau bernama Thio No Moi & Co., beralamat di Purwodinatan Utara 15, Semarang.

Sam Po 3

Ada iklan toko buku, di halaman hampir akhir. Ha! Semarang tentu termasuk kota besar di masa lalu. Keberadaan toko buku tentu penting, menandai ada peradaban literasi di zaman modern. Kota tanpa toko buku bisa dianggap kota tak berhuruf. Aduh! Aku terlalu gampang membuat istilah sembrono. Simaklah permulaan iklan: Toko Buku HO KIM YOE, beralamat di Purwodinatan I/22 Semarang.” Isi iklan: “Hanja menjediakan/ Buku-buku batjaan/ Jang sehat dan/ Bermanfaat/ untuk Masjarakat.” Di bagian bawah ada gambar buku tebak dililit naga. Sangar!

Penerbitan buku-buku dari kalangan Tionghoa di masa lalu sering melibatkan pelbagai iklan atau sponsor. Buku berarti suguhan informasi dan pengetahuan, mendapat bonus iklan-iklan komersial. Siasat kerja sama ini memungkinkan ada faedah bersama. Buku tak cuma buku. Buku bisa berarti tanda ikatan atau solidaritas. Buku juga berarti representasi dari adab literasi, tanggap atas zaman.

Sam Po 4

Aku merasa buku Sam Po ini adalah warisan dari komunitas Tionghoa untuk memberi arti Semarang, bermula dari dongeng-sejarah ke sajian iklan-iklan. Kesadaran hidup di Semarang dengan bisnis memungkinkan komunitas Tionghoa memiliki “kelebihan” dalam urusan “modernisasi”. Pilihan menulis dan menerbitkan buku menjadi pembuktian ada adab literasi, tak melulu berbisnis atau berdagang. Kehadiran buku pun ditentukan oleh intelektualitas, fasilitas, modal. Bisnis atau perdagangan menjadi penentu, dari urusan menerbitkan sampai mencipta komunitas pembaca. Aku pantas memberi pujian meski tak memiliki pengetahuan komplet tentang sejarah adab literasi komunitas Tinghoa di pelbagai kota di Indonesia, dari masa ke masa. Begitu.

Iklan