Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Majalah tipis, gambar di sampul adalah Gedung Pusat Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan di Jakarta. Di gedung megah, pelbagai kebijakan penting tentu dibahas dan dikeluarkan oleh para pejabat. Majalah bernama Sekolah Kita, No. 1 – Mei 1951, mengingatkanku dengan “cerita-cerita” pendidikan di Indonesia. Pendidikan di masa 1950-an berbeda jauh dengan keributan masalah-masalah pendidikan abad XXI. Sekarang, sang menteri dan para pejabat sering membuat kebijakan-kebijakan “aneh” dan “lucu”, meruwetkan situasi pendidikan. Wah, aku membuat perbandingan tak adil.

Inspektur Djenderal Kepala Djawatan Pengadjaran Kementerian P.P.K menerangkan maksud penerbitan Sekolah Kita. Ada empat maksud. Aku mengutip urutan kedua: “Saja berharap agar dapat timbul pada para pengadjar disekolah-sekolah kita hasrat untuk menjelidiki djalan dan tjara-tjara kita memberikan pendidikan dan pengadjaran pada anak-anak kita, agar dengan begitu dalam waktu sesingkat-singkatnja dengan djalan kerdja sama antara segala orang jang merasa bertanggung djawab tentang pendidikan dan pengadjaran ditanah air kita, dapat tertjapai sesuatu sistim pengadjaran serta isinja jang sebaik-baiknja untuk sekolah-sekolah kita dan jang sesuai dengan tjita-tjita bangsa kita.” Aku kelelahan membaca satu kalimat dari pejabat. Ah, aku bisa menduga si pejabat mendapat nilai jelek untuk pelajaran bahasa Indonesia, saat sekolah atau kuliah. Sejak dulu, para pejabat sulit membuat kalimat “enak” dan “elok”. Sekarang, para pejabat semakin tak bisa membuat kalimat-kalimat cerdas. Ha!

Sekolah 1

Aku mulai menikmati artikel berjudul Sekolah dan Rumah. Di bawah judul, ada keterangan gamblang: “Orang tua itu ialah pendidik jang sewadjarnja bagi anak-anak.” Aku suka dengan keterangan lanjutan: “Sekolah itu hendaklah dipandang sebagai lembaga-pembantu pada pendidikan.” Dua kalimat ini milik masa lalu. Di masa sekarang, sekolah dianggap paling penting ketimbang rumah. Guru adalah orang sakti dan pintar ketimbang bapak dan ibu di rumah. Lho! Sekolah telah menjadi institusi dominatif, “memangsa” anak selama puluhan tahun. Sekolah itu derita. Di rumah, pendidikan telah menghilang, berganti “pembiaran”. Aduh! Kalimat-kalimatku jelek.

Ada penjelasan apik: “Kepertjajaan dari rumah kesekolah ada dua matjam. Jang pertama sekali mempertjajai kesanggupan, kepandaian guru. Kita pun tak berkeberatan untuk mengakui, bahwa sekarang banjak guru jang masih muda, jang telah menerima idjazah resmi untuk mendjadi pendidik… Selandjutnja hendaklah ada suatu kepertjajaan kepada keichlasan guru jang mengadjar dikelas itu…” Ingat, rumah harus menjadi masalah pokok untuk pelbagai kebijakan pendidikan. Eh, para pejabat justru menganggap sekolah itu terpenting.

Sekolah 2

Aku beralih ke halaman pengumuman. Pihak redaksi Sekolah Kita memberi ajakan dan penjelasan hal-hal berkaitan isi majalah: “Lebih-lebih hendaklah dipusatkan sungguh-sungguh pada nasihat-nasihat dan petundjuk-petundjuk jang diberikan, jang bersift praktis. Meskipun pengumuman dengan sendirinja nanti akan diberikan djuga ditempat-tempat lain, mengenai lapangan pengadjaran dan pendidikan, tetapi telah mendjadi hasrat kami akan menulis karangan-karangan jang akan mendatangkan faedah bagi pekerdjaan sehari-hari untuk pengadjar-pengadjar jang sedang menghadapi sekolah.” Aku tak hidup di masa 1950-an. Aku tentu mau jadi penulis artikel-artikel bernasihat dan berfaedah di Sekolah Kita.

Penerbitan majalah dan buku-buku pendidikan di masa 1950-an sering membuatku cemburu. Aku sudah memiliki koleksi puluhan majalah dan buku, merasa ada gairah pejabat dan publik mengurusi pendidikan. Majalah memiliki peran besar, memuat dan mengedarkan pelbagai gagasan ke publik, mengantar informasi-informasi. Siapa pembaca Sekolah Kita? Mereka tentu orang-orang melek aksara, bertanggung jawab dengan pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Aku mengimajinasikan para guru dan orang tua berlangganan majalah Sekolah Kita, mempercakapkan di sekolah dan rumah. Majalah ditaruh di atas meja, dipandang siapa saja, diperbolehkan untuk dibaca siapa saja. Mereka adalah kaum beruntung, mengurusi pendidikan dan pengajaran dengan majalah, representasi kerja literasi.

Sekolah 3

2014, aku merindukan ada penerbitan majalah, bersahaja dan berfaedah. Majalah Sekolah Kita adalah buku kerja literasi pendidikan dari masa lalu. Aku beranggapan majalah bisa merangsang para guru, murid, orang tua, pengamat pendidikan, mahasiswa, dosen, pejabat …. berbagi tulisan, menghadirkan diri sebagai penentu nasib pendidikan. Sekarang, majalah (pendidikan) tak ada di sekolah dan rumah. Tabloid gosip dan majalah hiburan mungkin masuk sekolah dan rumah. Penguasa besar di sekolah dan rumah adalah televisi! Literasi berganti menonton.

Ada penjelasan pilihan nama untuk majalah: “Kami menghendaki kerdjasama dengan saudara-saudara jang banjak sedikitnja ada perhubungan dengan pengadjaran dari jang rendah sampai kepada jang tinggi,–dengan tak menghiraukan masuk haluan manapun djuga– perhubungan dengan pengadjaran pada Sekolah Rakjat, Sekolah Menengah, Sekolah Guru, Sekolah Kepandaian Putri, sekolah-sekolah dalam kota dan didesa, sekolah-sekolah umum dan partikulir. Kami menghendaki kerdjasama jang sungguh-sungguh hati dengan semuanja jang memangku djabatan  disekolah Indonesia. Itulah seruan kami.” Seruan ini lebih bermutu ketimbang seruan para caleg dan capres, berlagak cerdas dan santun tapi tak mengerti pendidikan. Begitu.

Iklan