Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Jumat, 14 Maret 2014, enam orang mahasiswa dolan ke Bilik Literasi. Penampilan necis dan lagak tubuh mengesankan “kaum intelektual”. Obrolan, mulai siang sampai sore. Aku ikut ngoceh saat sore. Pri, Set, Mut telah menghasut mereka dengan pelbagai urusan pendidikan, kampus, buku…. Aku ingin melihat dan mendengar tapi tak tahan. Enam mahasiswa ingin membuat penelitian, bertema bencana dan pendidikan-karakter. Aku mulai membuka obrolan. Mereka pun tampak bingung, diam, sulit. Di ujung obrolan, ada perkataan dari mahasiswa usai melihat buku-buku berserakan di Bilik Literasi: “Apakah semua buku sudah dibaca?” Aku diam sejenak, berkata: “Silakan menemui Pak RT.” Aku berharap Pak RT mau memberi formulir dan penerangan. Pa RT juga berhak memberi tandang tangan dan stempel. Lho!

Karakter. Istilah ini sempat membuatku jenuh, akibat sering diucapkan oleh dosen, guru, mahasiswa. Mereka beranggapan pendidikan karakter adalah misi mutakhir di dunia pendidikan mutakhir. Di toko buku, puluhan buku menggunakan istilah karakter. Seminar-seminar dengan pembicara-pembicara bertitel doktor atau lulusan universitas asing bertema pendidikan karakter. Ah, membosankan!

Aku memilih buku lawas, mengingat model pendidikan budi pekerti di masa 1940-an. Pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter. Aku merasa ada kesan puitik jika menggunakan istilah pendidikan budi pekerti, mendekatkan memori ke pelajaran membaca saat SD: “ini budi… ini ibu budi….” Budi telanjur terkenal sejak lama, mendekam di ingatan jutaan orang. Oh, budi…

Buku berjudul Tjeritera Goeroe diterbitkan oleh Kantor Pengadjaran, Jakarta, 2603. Buku ini disajikan “oentoek kelas III sekolah rendah”. Buku bersampul coklat, tebal 90 halaman. Tampilan buku sederhana. Di buku, tak ada gambar. Wah, murid-murid sekarang pasti mengeluh. Buku tak ada gambar, ibarat mata tak menemu kemanjaan. Di halaman “Pendahoeloean” ada keterangan lugas: “Didalam rentjana peladjaran sekolah sekarang ada terdapat peladjaran boedi pekerti. Mendidik boedi pekerti itoe dahoeloe hanja tersambil sadja. Tetapi sekarang disediakan waktoe, jang hanja oentoek itoe sadja goenanja.” Bagaimana cara melaksanakan pendidikan budi pekerti? Jawaban singkat: bercerita.

Goeroe 1

Buku Tjeritera Goeroe berisi cerita-cerita, tak ada soal atau penerangan. Semua cerita! Buku jadi pedoman bagi guru: “Mentjeriterakannja tentoe sekali ta’ perloe menoeroet seperti jang tertoelis didalamnja. Itoe terserah kepada goeroe masing-masing. Boleh ditambah dan dioebahi menoeroet keadaan tempat masing-masing, sehingga betoel bagi moerid. Waktoe mentjeriterakan itoe dipakai bahasa daerah tempat sekolah itoe. Sekali-kali ta’ boleh tjeritera itoe dibatjakan kepada moerid-moerid. Anak-anakpoen ta’ perloe poela disoeroeh mentjeriterakan kembali.” Wah, model pendidikan di masa lalu tentu menghibur, merangsang imajinasi anak tanpa perintah dan soal-soal. Sekarang, adakah guru-guru masih bisa bercerita? Para guru sudah terlalu sibuk. Mereka menghibur diri dengan menonton sinetron, gosip, acara picisan televisi saat mendekam di rumah. Bercerita tentu sulit. Mereka tak berbekal buku, enggan belajar. Ingat, para guru harus rajin belajar! Rajin pangkal pandai…. Laksanakan!

Goeroe 3

Ada cerita berjudul Selaloe Berpoetoes Asa. Cerita tentang bocah berputus asa menjadi bocah bersemangat. Simaklah: “Si Siman moerid kelas tiga disekolah rendah. Ia seorang anak jang amat pemaloe dan moedah berpoetoes asa… Kalau dilihatnja peladjaran disekolah agak soesah sedikit, berhenti sadja ia bekerdja. Ah, ta’ dapat saja memboeatnja….” Diri berputus asa terjadi dalam pelajaran, permainan, pekerjaan. Goeroe berkata: “Siman, kamoe selaloe sadja berpoetoes asa. Beloem kamoe pikirkan, soedah kamoe katakan kamoe ta’ pandai memboeatnja. Apakah akan djadinja kamoe kelak, kalau kamoe soedah besar?” Aku tak ingin mengejek Siman. Dulu, aku juga seperti Siman. Aku sering berputus asa dalam pelbagai hal. Dari masa SD sampai kuliah, aku tak gampang menghilangkan putus asa. Aku pun tak memiliki masa depan dengan menjadi dokter, presiden, pilot, profesor, pengusaha. Antologi putus asa membuatku hidup tanpa mobil mewah, pakaian mahal, rumah-istana… Oh, kasihan. Ingat, berputus asa menjauhkan dari kesuksesan! Sukses itu istilah milik para peserta seminar “lucu-haru” dan pembaca fanatik buku-buku motivasi. Ha!

Goeroe 2

 Siman berubah melalui peristiwa “aneh”. Siman memiliki ungkapan andalan: “Saja sanggoep, saja sanggoep.” Barangkali ungkapan Siman ditiru oleh ribuan orang: sanggup menjadi anggota DPR dengan pikiran dangkal dan bermisi laba. Ungkapan Siman juga dipakai para tokoh kondang: sanggup jadi presiden. Aku tak malu meniru Siman: sanggup makan bebek goreng, sanggup minum teh, sanggup membaca buku, sanggup makan rambak, sanggup menikmati film Perahu Kertas, sanggup….

Aku kaget saat membaca cerita berjudul Soerat dari Soerga. Aku ingat cerpen asing, pernah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, terbit di Bernas. Garin Nugroho juga pernah “mengutip” cerpen itu dalam garapan film. Karim diceritakan cuma beribu. Bapak telah meninggal tapi Karim tak tahu. Ibu tak pernah bercerita. Karim berkirim surat ke bapak, beralamat surga. Surat dibaca oleh pegawai pos.  Haru. Pegawai pos memberi jawab, disertakan uang seringgit. Surat balasan berisi pesan agar uang dipakai untuk membeli baju. Ibu terharu, kaget dan insaf saat Karim berhasil mendapat balasan dari surga. Ibu pun berpesan: “Kesoerga tidak boleh orang berkirim soerat doea kali, hanja sekali sadja. Kantor pos ta’kan maoe menjampaikannja lagi, sebab tempatnja terlampau djaoeh. Djika dikirim djoega, nanti kita didendanja. Iboe ta’ ada oeang oentoek pembajar.” Begitu.

Iklan