Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Aku telah selesai membaca novel Remy Sylado, Malaikat Lereng Tidar (Kompas, 2014). Novel apik, lucu, edukatif. Di halaman-halaman akhir, pengarang sempat memberi ulasan kecil tentang garuda. Ada humor politis, berkaitan garuda: kiri. Ah, aku tak usah terus melanjutkan ketakjubanku membava novel setebal 544 halaman. Harga 98 ribu. Novel dari pengarang aneh.

Djiwa Baru 1

Aku ingat garuda saat membaca majalah tipis, berjudul Djiwa Baru No. 7, Tahun III. Juli 1953. Di sampul, ada gambar garuda. Cakep! Djiwa Baru adalah majalah bulanan mengenai pembangunan dan pendidikan, diterbitkan oleh Jajasan Djiwa Baru, Jogjakarta. Susunan redaksi: S. Bradjanegara, Notobroto, L. Kartasoebrata, R.D. Sastrawirja, F. Ontoengrahardjo. Edisi ini memuat tulisan panjang: Lahirnja Pantjasila oleh Soekarno. Wah, majalah tipis malah dipenuhi uraian tentang pancasila. Penting lho. Oh, pancasila itu penting. Yudi Latif pun menganggap penting, menerbitkan buku baru mengenai Pancasila. Yudi Latif memang pemikir ampuh, Pancasilais.

Sekarang, Pancasila sedang dipropagandakan oleh lembaga-lembaga negara, pejabat, elite partai politik, kaum intelektual, kaum seniman…. Mereka ingin Pancasila dipahami dan diamalkan secara “baik” dan “benar”. Wah! Aku jadi ingat adegan setiap arisan RT di desa. Di awal, ada pembacaan Pancasila, ditirukan oleh warga dengan suara keras dan posisi berdiri. Pancasila tak boleh dilupakan. Sejak aku masih bocah sampai usia menua terus diingatkan tentang Pancasila. Barangkali Pancasila termasuk bekal masuk surga. Aku pun berharap kaum Pancasilais masuk surga. Amin.

Soekarno berkata: “Didalam Indonesia Merdeka itu perdjoangan kita harus berdjalan terus hanja lain sifatnja dengan perdjoangan sekarang, lain tjoraknja. Nanti kita, bersama-sama, sebagai bangsa jang bersatu-padu, berdjoang terus menjelenggarakan apa jang kita tjita-tjitakan didalam Pantja Sila.” Buku tentang pidato Pancasila telah muncul dari pelbagai penerbit, dari tahun ke tahun. Majalah-majalah juga memuat pidato Soekarno. Aku tak bisa ingkar, Pancasila itu penting.

Djiwa Baru 2

S. Bradjanagara dalam artikel berjudul Pergerakan Rakjat Indonesia dan Pendidikan National menerangkan: “Sistim pendidikan Barat, jang dilaksanakan ditanah air kita untuk bangsa kita, sudah barang tentu mempengaruhi djalan pikiran, dan kemauan sebagian ketjil dari bangsa kita, sehingga kaum terpeladjar itu kadang-kadang melebihi bangsa pendjadjah tentang kebaratannja. Tetapi bagaimanapun djuga keadaannja, pengetahuan jang kita peroleh membuka mata hati kita terhadap masjarakat jang sewadjarnja….” Wah, apa maksud dari kalimat-kalimat dramatis dari pengamat pendidikan? Aku merasa sedang membaca petikan novel-esai. Eh, novel-esai? Aku tak ingin berlagak mengerti puisi esai dengan memunculkan novel-esai. Aku ingat novel-esai dari Iwan Simatupang.

Ingat sejarah pendidikan, aku ingat keinginan mengumpulkan buku-buku pendidikan lawas. Aku bakal membaca dan membuat catatan-catatan kecil, mengetahui sistim pendidikan dan resepsi publik, dari masa kolonialisme sampai masa 1970-an. Pengumpulan buku perlu digenapi dengan majalah-majalah. Djiwa Baru tentu termasuk dari daftar bacaan bagi ambisi penulisan esai-esai pendidikan masa lalu.

S. Bradjanagara adalah pemimpin redaksi dan penulis rajin. Aku bertemu lagi artikel S. Bradjanagara, berjudul Kebudajaan dan Pendidikan. Aku tak ingin mengutip dari artikel biasa, tak ada greget. Uraian runtut tapi aku menganggap sudah tahu. Barangkali pembaca di masa 1950-an menilai artikel itu berbobot dan bermutu. Aku mesti sadar diri. Aku juga termasuk penulis tak berbobot. Mengapa aku mengejek S. Bradjanagara? Eh, ejekan adalah hiburan sejenak bagi arogansi penulis.

Djiwa baru 3

Aku tertarik dengan halaman berita. Isi berita mengenai pelaksanaan Kongres Pendidikan Nasional di Bandung. Panitia memberi pesan: “Mengingat akan penting dan hangatnja soal pendidikan bagi anak-anak kita, maka kami berseru kepada para kaum pendidik, orang tua umumnja dan para guru chususnja, sudilah turut serta meramaikan Kongres Pendidikan Nasional itu nanti. Saran-saran, pendapat, dan keinginan-keinginan saudaralah jang dapat menentukan bentuk dan arah pendidikan bagi kebahagiaan negara dan masjarakat.” Aku paling suka ungkapan terakhir “kebahagiaan negara”. Ungkapan ini sudah jarang aku dapati dalam pidato presiden, menteri, pengamat pendidikan…. Ah, ungkapan elok. Apakah M. Nuh bisa menerangkan kebahagiaan negara? Ah, aku menduga sang menteri sudah kehilangan khazanah ungkapan lawas dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Aku menemukan nama S. Bradjanagara. Di bawah berita, ada keterangan ketua dari Pengurus Harian BKPI: S. Bradjanagara. Hebat! Aku harus memuji dan menghormati S. Bradjanagara: tokoh bertanggung jawab untuk pendidikan. Tokoh penentu dari keberartian Djiwa Baru. Aku ingin membuat majalah pendidikan. Pemimpin redaksi adalah Bandung Mawardi. Penulis 5 artikel di majalah tentu Bandung Mawardi. Aku ingin hebat. Ha! Apakah tak ada penulis selain S. Bradjanagara di edisi-edisi Djiwa Baru?

Di masa 1950-an, terbit sekian majalah tentang pendidikan. Ada Djiwa Baru, Sekolah Kita, Suara Pendidikan Masjarakat, Suara Guru. Sekarang, apakah sang menteri, pejabat, kaum intelektual memiliki kehendak mengurusi pendidikan dengan penerbitan majalah-majalah? Masa lalu sering membuatku memberi pujian setinggi langit. Begitu.

Iklan