Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

23 Maret 2014, esaiku berjudul Santun tampil di Media Indonesia. Esai kecil mengenai penggunaan istilah santun dalam puisi Prabowo Subianto. Capres dari Partai Gerindra membaca puisi di Bali, menggoda imajinasi publik. Puisi berisi “ejekan” dan “sindiran”. Aku tentu tak bakal menganggap puisi gubahan Prabowo sebagai puisi paling berpengaruh di Indonesia. Wah, aku mulai tergoda lagi mengurusi perdebatan sastra. Eh, ada lima buku puisi esai telah terbit. Biarlah!

Aku menggunakan tiga kamus untuk mendapat pengertian santun. Pengertian dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia (1952) susunan Sutan Muhammad Zain, aku anggap “bermutu” ketimbang KUBI atau KBBI. Sekian esaiku di koran mulai menggunakan pengertian-pengertian dari kamus susunan Sutan Muhammad Zain. Mengapa? Aku belum bisa menjawab sekarang. Ingat Sutan Muhammad Zain, ingat buku berjudul Djalan Bahasa Indonesia (Dharma, 1952). Buku garapan Sutan Muhammad Zain di masa pendudukan Jepang, berpengaruh besar dalam perkembangan bahasa Indonesia. Konon, Djalan Bahasa Indonesia “bersaing” pengaruh dengan Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia garapan Sutan Takdir Alisjahbana. Dua tokoh paling berpengaruh dalam pengembangan bahasa Indonesia. Aduh! Aku menggunakan lagi ungkapan “tokoh paling berpengaruh”.

1

Buku koleksiku cetakan ke-8. Buku Djalan Bahasa Indonesia tentu laris, digunakan di sekolah dan kampus. Di masa lalu, buku pernah laris dan terkenal. Aneh, sejak aku di SMP sampai kuliah, buku garapan Sutan Muhammad Zain tak pernah disebut oleh guru dan dosen. Apakah mereka tak tahu? Apakah mereka lupa? Ah, mereka pasti sulit menjawab. Seingatku, ketokohan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai pengarang dan ahli bahasa cenderung moncer ketimbang Sutan Muhammad Zain di dunia pendidikan, sejak masa Orde Baru.

Sutan Muhammad Zain menjelaskan: “Kitab ini dikarangkan untuk Sekolah Menengah, Sekolah Guru dan untuk mereka jang hendak mendalamkan pengetahuannja dalam bahasa Indonesia.” Buku Djalan Bahasa Indonesia mungkin sudah dibaca ribuan orang. Apakah orang-orang dari masa lalu masih memiliki ingatan tentang isi buku? Buku memberi pengaruh dalam pembelajaran bahasa Indonesia, bermula di sekolah. Aku bisa mengartikan dengan pujian: Sutan Muhammad Zain pantas mendapat penghormatan dari negara mengacu kontribusi dalam pengembangan bahasa Indonesia. Buku Djalan Bahasa Indonesia pun perlu dijadikan dokumentasi dan referensi saat menilik kesejarahan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. Siapa masih mengoleksi? Siapa masih menggunakan buku Djalan Bahasa Indonesia untuk referensi artikel, skripsi, tesis, disertasi?

2
Penjelasan lanjutan dari Sutan Muhammad Zain: “Kitab ini kami bagi atas tiga bab, jaitu bab I dari hal batjaan, edjaan, tekanan, dan tanda-tanda batja; bab II dari hal kedjadian kata-kata; bab III dari hal djalan-bahasa, sebab dalam tiap-tiap bahasa ketiga perkara itulah jang lebih dipentingkan. Dalam kitab-kitab peladjaran bahasa Indonesia, bab jang ke III sampai sekarang agak dianak tirikan orang, padahaln sebenarnja disanalah letaknja rahasia bahasa jang sedalam-dalamnja.” Oh! Ungkapan “rahasia hati” membuatku ingat lagu-lagu asmara. Aku juga ingat “rahasia hati” dari esais wagu saat mendapat berita bahwa sang artis pujaan menikah dengan Dude Herlino. Esais itu bersedih, berniat membuat esai pendek tentang lara mengidolakan artis. Ungkapan “rahasia hati” pantas jadi judul.

Urusan lelaki-esais dan artis pujaan? Aku perlu mengutip uraian Sutan Muhammad Zain mengenai “perbedaan laki-laki dan perempuan, djantan dan betina”. Penjelasan awal: “Ada bahasa jang membedakan kata benda atas tiga matjam, setengahnja masuk djenis laki-laki, setengahnja masuk djenis perempua dan setengahnja masuk djenis bantji, artinja bukan laki-laki dan bukan perempuan. Tiap-tiap kata benda harus masuk salah satu dari pada djenis jang tiga itu dan tiap-tiap djenis itu ada tanda-tandanja atau sifat-sifatnja sendiri.” Aku kurang mengerti dengan penjelasan Sutan Muhammad Zain. Bahasa dari masa lalu memang memerlukan “ketabahan” untuk dipahami orang dengan bahasa Indonesia “bercap” mutakhir.

3
Aku juga tertarik dengan materi tentang “kata penundjuk jang”. Sekian tahun, aku berikhtiar tidak menggunakan “kata penundjuk jang”, kecuali jika memuat kutipan. Aku terus membuat esai tanpa … , berharap ada ketabahan dan keajiban dalam berbahasa. Penjelasan dari Sutan Muhammad Zain berkaitan “guna kata jang”: (1) akan menundjukkan sematjam perlawanan… (2) beberapa kata sifat, kalau didahului jang, artinja sungguh-sungguh menurut arti jang sebenarnja dan kalau tidak didahului jang, artinja arti kiasan…; (3) terutama sekali jang itu dipakai akan memulai anak kalimat jang mendjadi keterangan pada sesuatu kata-benda.” Apakah aku sanggup mempeladjari “guna kata jang”?

Buku Djalan Bahasa Indonesia telah jadi bacaan dan koleksi. Di Bilik Literasi, aku kadang menganjurkan teman-teman agar membaca buku-buku lawas. Mereka bakal berhadapan dengan bahasa-bahasa lawas, mengimajinasikan masa lalu menggunakan “tata bahasa” aneh dan sulit. Risiko membaca buku-buku lawas adalah “tersesat di jalan”. Sutan Muhammad Zain tentu tak membiarkanku tersesat di jalan. Buku Djalan Bahasa Indonesia justru memberi jalan ke masa lalu, jalan untuk membuka “rahasia hati”. Begitu.

Iklan