Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Kamis, 27 Maret 2014, esaiku berjudul Roman dan Diskriminasi tampil di Koran Tempo. Esai kecil, sesak kutipan. Wagu! Aku sengaja memiliki pamrih menulis esai mengenai “kesejarahan” penggunaan sebutan Cina, China, Tiongkok, Tionghoa. Penggarapan esai sesuai dengan pengetahuan terbatas. Aku tak bermaksud tampil sebagai sejarawan, peneliti, pakar. Aku cuma saudagar buku. Ha! Di bawah nama, aku mencantumkan keterangan sebagai saudagar buku, berharap tak ada “tuntutan” berlebihan dari pembaca untuk argumentasi-argumentasi di tulisan.

Aku menulis esai bermula dari buku lawas, berjudul Mata Gelap: Tjerita Jang Soenggoeh Kedjadian Ditanah Djawa (Drukkerij Insulinde, Bandung, 1914) garapan Mas Marco Kartodikromo. Di sampul buku cuma ditulis Mas Marco, Redakteur Doenia-Bergerak di Solo. Roman memicu polemik, menguak kerawanan konflik di Hindia Belanda, awal aad XX. Kebijakan pemerintah kolonial dan situasi kehidupan di negeri penjajah memungkinkan pelbagai pihak berkonflik atau bertoleransi, mengacu ke bahasa, identitas, agama, etnis, ideologi. Mata Gelap menjadi teks penting, mengisahkan kehidupan di Hindia Belanda berlatar waktu 1910.

Mata Gelap 1

Orang-orang sering mengenali Marco Kartodikromo adalah pengarang novel Student Hidjo. Di awal tahun, Pawon sengaja mengadakan obrolan tentang Marco Kartodikromo dan Student Hidjo, berhasrat membuka lembaran-lembaran sejarah Solo melalui novel berlatar Solo. Aku sudah berulang membaca Student Hidjo, menulis esai-esai menggunakan referensi Student Hidjo. Edisi Student Hijdo terbitan Bentang menjadi pilihan. Aku belum pernah melihat, memegang edisi asli Student Hidjo. Aku tak jemu berdoa agar dipertemukan dengan Student Hidjo, memegang dengan haru dan membaca dengan takzim. Oh!

Aku cuma memiliki edisi asli Mata Gelap. Wah! Novel lawas, mendahului Student Hijdo. Dulu, aku mendapatkan Mata Gelap dengan mata terang-bersinar meski matahari di atas kepala. Mata Gelap berumur seabad. Hari demi hari dilewati oleh buku lawas, berisi cerita asmara dan cumbuan menggairahkan. Ah, Mata Gelap memang pantas jadi referensi mengenang asmaranisme di Hindia Belanda. Asmara dalam pengaruh adat, agama, kolonialisme, modernitas. Aku belum berani menganggap Mata Gelap adalah “cermes” alias cerita mesum atau awalan sastra beraroma seks garapan pengarang bumiputera. Aku tak ingin melanjutkan urusan berahi. Esaiku di Koran Tempo menggarap urusan diskriminasi. Tema tak pernah usang.

Mata Gelap 2

Mata Gelap pernah dimuat di Selompret Melajoe, Semarang. Pemuatan tak sampai selesai. Penjelasan Marco Kartodikromo: “Maka dari sebab soerat kabar terseboet soedah tidak diterbitkan lagi, terpaksa toean-toean pembatja Selompret Melajoe tidak bisa mengetahoei kesoedahannja ini tjerita. Dengan pertoeloengannja handai taulan kami jang dengan ridla hati soeka membeli ini soerat tjeritera, sekarang bisa kami terbitkan tiap-tiap boelan sekali sampe habis.” Aku suka dengan penggunaan istilah “soerat tjeritera”. Puitis! Informasi di pelbagai surat kabar masa 1910-an menganggap Mata Gelap adalah “roman”.

Dulu, ada jalinan erat pers dan sastra. Marco Kartodikromo sadar sejak mula, predikat sebagai jurnalis dan pengarang memberi intimitas dalam pelbagai kerja literasi. Penulisan dan penerbitan Mata Gelap pun berkaitan pers. Marco Kartodikromo menulis: “Keoentoengan bersih dari pendapatannja ini soerat tjeritera kami dermakan kepada perhimpoenan (Inlandsche) J(ournalisten) B(ond) di Solo.” Ah, Marco Kartodikromo memang manusia tangguh, memiliki kemuliaan dan kehormatan. Pembeli dan pembaca Mata Gelap pun berperan “membesarkan” misi kaum jurnalis berlatar masa kolonialisme. Aku berarti juga pemberi kehormatan untuk Marco Kartodikromo meski terlambat puluhan tahun.

Mata Gelap 3

Aku belum ingin membuat sinopsis Mata Gelap. Pilihanku adalah membuat esai-esai kecil, mengutip bagian-bagian dalam Mata Gelap. Pelbagai tema bisa menggunakan referensi dari Mata Gelap. Aku sengaja ingin bermesraan dulu dengan Mata Gelap ketimbang Student Hidjo, berharap mendapat tuah dari “soerat bertjeritera”. Ha! Sastra bisa bertuah, memberi “pencerahan”. Di Mata Gelap, aku bisa mengimajinasikan Semarang, Bandung, Hindia Belanda… Aku merasa ada panggilan untuk singgah di lakon-lakon asmara dan desah berahi dari para tokoh, kaum muda di zaman “kemadjoean”. Aku pernah “bergetar” saat membaca Mata Gelap, merasa ada sensasi tak lekas sirna.

Aku perlu mengutip esai di Koran Tempo, representasi gairahku “memuliakan” Mata Gelap agar bisa mempertemukan masa lalu dan masa sekarang: “Marco Kartodikromo telah memberi sengatan tentang kerawanan bahasa dan makna. Roman telah mengingatkan dan mengajak kita untuk mengerti sejarah diskriminasi…” Di awal esai, aku menulis: “Seabad silam, Marco Kartodikromo mempersembahkan roman Mata Gelap: Tjerita Jang Soenggoeh Kedjadian Ditanah Jawa… Ada pengisahan asmara, modernisasi, kuasa uang. Roman menimbulkan polemik, menguak pelbagai persoalan genting di Hindia Belanda…”

Esai telah disajikan ke publik. Aku masih merasa malu sebelum bisa “memberi” selusin esai, bereferensi Mata Gelap. Hari demi hari, mengolah tema dan menulis. Esai-esai mesti ditulis dengan gairah. Menulis tak berputus asa, berdalih meneladani etos literasi dari Marco Kartodikromo. Begitu.

Iklan