Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Di Solo, ada universitas terkenal di … Aku pernah ingin berkuliah di UNS. Gagal. Di biografiku, tak bakal ada catatan aku pernah berpredikat mahasiswa di UNS. Aku tak menangis atau meratap. Eh, aku malah kuliah di STAIN, tak rampung. Di STAIN Solo berlagak mempelajari filsafat dan agama. Kuliah selesai dini tapi terus berkeliaran di kampus STAIN, mengurusi teater, sastra, diskusi intelektual. Wah! Berlanjut kuliah di UMS, mempelajari bahasa dan sastra. Aku bisa lulus tanpa wisuda. Hore!

Sekian hari silam, 11 Maret 2014, UNS mengadakan peringatan ulang tahun. Ada acara-acara sangar, menandai kebesaran dan kemonceran UNS. Aku justru masih bingung saat ingin mengerti sejarah UNS, kontribusi UNS untuk Solo, kebermaknaan UNS bagiku. Sekian tahun, aku memang kadang dolan ke UNS: menjadi pembicara di pelbagai fakultas atau “bermukim” di perpustakaan. Di UNS, aku sulit mendapat keterangan-keterang kesejarahan. Siapa mau mengisahkan?

UNS 1

Ingin terjawab oleh majalah Tempo edisi 6 Maret 1976. Ada ulasan dua halaman, berkaitan detik-detik pendirian UNS. Apakah pihak UNS memiliki kliping dari Tempo dan mengumumkan ke para dosen dan mahasiswa? Aku tak tahu. Inginku, bertemu rektor UNS, memberikan dokumentasi berita dari Tempo agar jadi bacaan untuk semakin meraih popularitas di dunia pendidikan Indonesia. Eh, di Asia!

Di halaman 16 dan 17, ada berita berjudul UGS: Ibarat Perkawinan. Judul tidak lekas membimbing pembaca untuk berpikir tentang pendidikan atau universitas. Semula, aku menduga berita di halaman pendidikan Tempo memuat inf0rmasi perkawinan-perkawinan “bermutu” bagi warga kampus. Lho! Ada informasi: “Bahkan kabarnya, bulan Maret mendatang ini sedang ditunggu hadirnya Universitas Gabungan Surakarta di kota Sala yang kini sudah memiliki 8 fakultas. Kegiatan ke arah terbentuknya universitas negeri yang merupakan gabungan antara beberapa universitas swasta dan IKIP Negeri Sala itu, memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.” Oh, aku mulai mengerti ada sejarah “serius” untuk pendirian UGS, belum bernama UNS.

UNS 2

Aku terkejut saat membaca usulan-usulan nama untuk universitas negeri di Solo. Ada sekian nama pilihan: Universitas Samber Nyowo, Universitas UUD 45, Universitas Kartanagara, Universitas Centhini, Universitas Ronggowarsito, Universitas Yosodipuro, Universitas Negeri Surakarta. Nama pilihan justru Universitas Sebelas Maret. Wah, aku malah mengimpikan ada perubahan nama, menjadi Universitas Centhini. Aku berimajinasi nama Universitas Centhini bisa merangsang dosen dan mahasiswa mengerti literasi ketimbang Sebelas Maret: keramat-politis. Aduh, aku terlalu mengurusi UNS. Maaf.

Aku beralih ke halaman 32. Ada resensi untuk novel Kooong (1975) garapan Iwan Simatupang. Penulis resensi RS (Ras Siregar). Aku tentu sudah selesai membaca Kooong, sejak dulu. Aku pengagum tulisan-tulisan Iwan Simatupang! RS menulis: “Novel ini memang tidak sebagus Ziarah, Merahnya Merah, maupun Kering. Tetapi dibandingkan dengan novel-novel tersebut, Koong punya sikap yang lain dan mengandung ide yang jelas, gamblang dan mudah dicernakan. Sinismenya tidak kasar!” Aku mengoleksi novel Koong edisi awal. Edisi cetak ulang 2013 berganti gambar sampul, diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan Djarum Foundation.

UNS 3

Aku ingin membuat dokumentasi untuk tulisan-tulisan Iwan Simatupang, diimbuhi tulisan-tulisan tentang Iwan Simatupang. Dulu, saat obrolan bersama Joss Wibisono di Solo, ada pengakuan tentang keampuhan dari kepengarangan Iwan Simatupang. Sastra di Indonesia memiliki pengarang aneh dan intelektual, menulis novel-novel keren, cerpen-cerpen impresif, esai-esai “nakal”, dan puisi-puisi tak terkenal. Ah, Iwan Simatupang, “manusia hotel”….

Di halaman lain ada informasi penting. Aku bisa menggunakan sebagai kutipan jika menggarap esai tentang TTS (teka teki silang). Ha! Tempo pernah memuat TTS, menimbulkan polemik di kalangan pembaca. Pemuatan surat pembaca dalam edisi 6 Maret 1977 bisa jadi “bukti kecil” dari polemik TTS. Surat pembaca berjudul TTS, Latah? memuat protes: “Sebagai salah seorang pencinta TEMPO saya tidak setuju dengan penyediaan ruangan TTS, seperti pada TEMPO 31 Januari ’76 No.48.” Mengapa pembaca bernama Toha (Jogjakarta) tidak setuju.

Toha menulis: “Dengan adanya ruangan TTS TEMPO seakan-akan sudah mulai menjurus ke arah tipe majalah hiburan. Apakah TEMPO sudah mulai latah atau kekurangan bahan untuk mengisi halaman-halamannya? Kalau begitu kurangi saja halamannya.” Oh! TTS dianggap membuat majalah bisa bercap hiburan, ecek-ecek. Protes keras dan lucu. Aku merasa TTS penting dalam perkembangan industri koran dan majalah di Indonesia. Di terminal dan kios, TTS malah terbit dalam bentuk buku tipis, bergambar perempuan cantik, seksi, bahenol: mengundang berahi. TTS tetap penting bagi pembaca meski ada protes tak diperkenankan hadir di Tempo.

Pilihan membaca majalah-majalah lawas sering memberi kejutan-kejutan, berkaitan informasi-informasi kecil atau besar. Aku pun mulai mengoleksi pelbagai majalah lawas, berharap menjadi sumber untuk mengingat dan mengimajinasikan masa silam. Majalah-majalah lawas kadang memberiku godaan menggarap esai-esai wagu untuk disajikan ke pembaca. Esai-esai mengandung kutipan dari berita, surat pembaca, artikel, iklan, resensi di majalah-majalah lawas. Begitu.

 

Iklan