Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Dulu, Balai Pustaka menerbitkan buku tipis dan sederhana. Tebal buku 16 halaman, ukuran buku kecil. Sampul tak bergambar. Di atas judul tercantum keterangan Seri Sastera Modern. Aku tak perlu membuat tuduhan. Keterangan mendingan diterima dengan tatapan mata paling genit. Di halaman sampul, ada judul dan nama pengarang. Buku berjudul Penghuni Pohon (1963) garapan Trisno Sumardjo adalah suguhan kecil, satu cerita pendek menjadi buku. Weh! Harga buku tentu murah: 25 rupiah.

Aku mulai ingin membandingkan dengan penerbitan buku kumpulan cerpen mutakhir. Penerbit mengemas kumpulan cerpen dengan apik, menggoda mata pembaca. Di toko buku, aku sering memandang, sejenak memegang dan membaca sekian menit. Buku-buku kumpulan cerpen pantas jadi bacaan dan koleksi, bergantung… Ingat, tak melulu harga. Buku kumpulan cerpen adalah buku dokumentasi dari cerpen-cerpen, setelah dimuat di koran atau majalah. Aku tak mendapati lagi penerbitan satu cerita pendek, belum pernah dimuat di koran atau majalah. Penerbit tentu berhitung, tak ingin menerbitkan buku-buku tipis. Pengandaian: Gramedia menerbitkan cerpen, tebal 20 halaman, harga 3 ribu atau 4 ribu. Ha!

 Pohon 1

Minggu bertemu cerpen-cerpen di koran. Bersabarlah! Hari demi hari berganti. Cerpen-cerpen itu terbit menjadi buku. Aku biasa menikmati cerpen meski berubah bentuk sajian. Ah, tak usah diperkarakan secara rumit. Aku memilih memberi pujian untuk Balai Pustaka, berani menerbitkan buku tipis bercap Seri Sastra Modern. Para pembaca buku lawas atau pembelajar sastra “pasti” mengenal nama Trisno Sumardjo. Anggapanku bisa salah. Aku pantas bertaruh sekian ribu: “Para cerpenis mutakhir tak mengenal Trisno Sumardjo.” Mereka tentu mengenal Agus Noor, Eka Kurniawan, Triyanto Triwikromo, Linda C, AS Laksana….

Trisno Sumardjo bercerita tentang sedih dan dendam si penghuni pohon. Aroma mistik ada meski perlahan merangsang imajinasi pembaca ke persoalan ekonomi, ekologi, tatanan sosial-kultural. Penghuni pohon merasa sulit mendapat tempat bermukim, menghidupi dua anak. Manusia selalu “mengusir” dan “memusuhi” penghuni pohon. Anggapan aneh ditujukan bagi pohon berpenghuni makhluk halus. Peristiwa-peristiwa berlangsung dengan konflik antara penghuni pohon dan manusia, di sekitar pohon. Aku menikmati cerita, dari pengisah “aku” penghuni pohon dan aku manusia selaku saksi. Ah, aku mulai masuk ke urusan apresiasi.

 Pohon 2

Dulu, aku pernah menulis esai pohon di Kompas dan Suara Merdeka, belum menggunakan cerpen garapan Trisno Sumardjo untuk ilustrasi. Tuduhan dan permusuhan atas makhluk penghuni pohon masih terjadi sampai sekarang. Pelbagai ritual dilakukan demi mengusir atau “minta izin”. Pohon mulai dianggap sebagai “rumah”, sakral dan angker. Aku mesti menulis lagi esai tentang pohon, berharap tak klise dan buruk.

Kutipan puitis: “Penghuni pohon tinggal tak terganggu dimahkota pohon berupa dedaunan serta buah-buahan lebat; dia bangga akan kedudukannja disitu, dia malah merasa telah dapat memahkotai keluarga jang berdiam dibawah tempat semajamnja, dua orang tua jang landjut usia serta dua anak gadis mereka jang masih remadja.” Puitis tapi menimbulkan ragu atas kemampuan pengarang mendeskripsikan tokoh. Aku bingung mengartikan “dua anak gadis mereka jang masih remadja”. Mereka itu “landjut usia”. Aku tentu tak bisa menemui Trisno Sumardjo untuk minta keterangan.

Pohon 3

Aku penasaran, siapa pernah melakukan kajian atas cerpen Penghuni Pohon? Esai, makalah, skripsi? Membaca cerpen dengan latar penerbitan 1960-an tentu memiliki permainan simbol, berkaitan situasi zaman. Aku perlu membandingkan pengertian pohon berlatar Orde Baru. Lho! Aku menduga urusan pohon menguat dan sensasional saat Orde Baru ketimbang Orde Lama. Pembangunan membuat pohon-pohon besar dan angker harus hilang untuk pendirian perumahan, perkantoran, pusat perbelanjaan, kantor pemerintah. Keangkeran pohon diladeni dengan percampuran doktrin politik dan mistik. Pohon-pohon dimusnahkan tapi pohon juga menjadi simbol besar dari Soeharto dan lakon rezim Orde Baru. Pohon itu tampil sebagai simbol organisasi (politik) bernama Golkar: beringin. Di cerpen Trisno Sumardjo, tak ada cerita pohon beringin. Ingat Golkar, ingat esaiku di Suara Merdeka, 9 April 2014. Esai untuk partisipasi dalam pemilu meski aku mendekam di rumah, tak bergerak ke TPS. Di rumah, menikmati batuk dan pilek. Oh, demokrasi itu batuk dan pilek!

Buku tipis terbitan Balai Pustaka membuatku termenung. Wah, aku jadi si perenung, berlagak filosof atau pujangga. Sekarang, buku-buku tipis perlu diterbitkan untuk menandingi buku-buku tebal berharga mahal. Aku ingin buku sastra memberi “panggilan” tanpa beban untuk publik. Mereka sanggup membeli, membaca, mengapresiasi. Buku tipis tak mengurangi bobot atau kehormatan. Aku beranggapan buku tipis malah “mengentengkan” kemauan orang-orang bersentuhan dengan sastra. Aduh, kalimat-kalimatku mirip birokrat sedang memberi pembinaan untuk guru dan sastrawan. Maaf.

Pohon angker membuat manusia sulit menebang dan merubuhkan akibat pelbagai pertimbangan. Di akhir cerita, Trisno Sumardjo memberi pengisahan tanpa ulah manusia: “Wanita itu tak tahu bahwa ketika itu djuga dikota lain ada pula badai sedang menjambar-njambar dan pada detik tertentu melontarkan petir kesebatang pohon mengkudu serta membakarnja habis sampai ketanah.” Akhir cerita agar pembaca lega. Begitu.

Iklan