Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Masa 1950-an, Indonesia sedang “membangun”, menjalankan revolusi. Ingat, revolusi belum selesai! Indonesia dipenuhi pidato-pidato, kegiatan-kegiatan, ungkapan-ungkapan. Indonesia harus berubah! Misi perubahan tak cuma berlangsung di kota. Perubahan juga harus berlangsung di desa, basis “ekonomi pertanian” di Indonesia.

Buku apik berjudul Ekonomi Pertanian Indonesia (Pembangunan, 1953) garapan Prof. Dr. Ir. J.P. Van Aartsen. Buku dari sarjana asing disadur ke bahasa Indonesia oleh Ir. T.B. Bachtiar Rifai. Gelar penulis mengingatkanku dengan foto alat peraga dan tulisan di Koran Tempo. Para petinggi Partai Demokrat mengajari massa mencoblos gambar-foto-nomor dengan keterangan sangar. Daftar caleg, dari atas sampai bawah, bergelar Prof. Dr. Ir. Ah, partai berisi kaum bergelar. Fantastis. Aku tak mau masuk dalam kumpulan orang pintar. Aku juga memiliki gelar tapi tak keren, sulit mendapat pengakuan negara. Sang menteri malah mengimpikan Indonesia memiliki ribuan orang bergelar master dan doktor, menggunakan Beasiswa Presiden Republik Indonesia. Aku tak ingin menjadi orang bergelar master atau doktor dari 50 universitas terbaik di dunia. Aku berharapan tetap berindonesia meski tak sesuai harapn sang menteri dan presiden. Ingat, presiden bergelar doktor. Eh, aku mau mengurusi buku saja.

Pertanian 1

Prof. Dr. Ir. J.P. Van Aartsen dalam “pengantar kalam” memberikan keterangan: “Kesukaran jang saja hadapi dalam pengadjaran mengenai geografi dan ekonomi pertanian pada Fakultet Pertanian dari Universitet Indonesia di Bogor ialah bahwa tak ada terdapat sebuah buku modern jang tjukup menjimpulkan tjabang-tjabang ilmu pengetahuan tersebut, jang djuga memperhatikan keadaan-keadaan di Indonesia ataupun didaerah tropis pada umumnja.” Para terpelajar di kampus memerlukan “buku modern” agar tidak bebal dan merana. Oh!

Aku masih perlu mendapat pengertian pertanian. Di halaman 10, ada penjelasan: “Pertanian adalah dipergunakannja kegiatan manusia jang ditudjukan untuk memperoleh hasil jang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan/atau hewan, hal mana pertama-tama ditjapai dengan djalan dengan sengadja menjempurnakan segala kemungkinan jang diberikan alam untuk mengembang-biakkan tumbuh-tumbuhan dan/atau hewan.” Aku menerima saja penjelasan dari sang profesor. Seingatku, pengertian pertanian sudah aku abaikan sejak lama, sejak bersekolah. Aku mulai memiliki minat membaca buku-buku pertanian saat kuliah. Minat kecil tanpa ambisi menjadi pengamat pertanian. Ikhtiarku ingin turut mengenang desaku jika sudah berubah menjadi kota. Desa tanpa petani, sawah, kerbau, kambing, tanaman….

Pertanian 2

Ada pelbagai jenis usaha pertanian. Sang profesor memberi keterangan tentang berladang di hutan. Alinea panjang mengingatkan nasib hutan-hutan di Sumatra dan Kalimantan. Sang profesor menjelaskan: “Djika orang berladang disebidang hutan jang dipilihnja, maka ditebanglah pohon-pohon ketjil dan semak-semak, serta diusahakan pula dengan lain-lain djalan (mendjiret atau belting a tree) supaja pohon-pohon jang besarpun mati; bila sesuatunja sudah agak kering, maka mulailah orang membakar. Dan djika tak dapat terbakar semuanja, maka sisanja atjapkali dikumpulkan, didjemur dan kemudian dibakar lagi…” Sekarang, pembakaran hutan sering dilakukan para pengusaha keparat demi perkebunan berlaba besar dengan modal irit. Indonesia pun mendapat tuduhan sebagai negeri penghasil asap oleh pembakaran hutan. Aduh!

Ingat hutan, ingat sejarah perkebunan tembakau di Sumatra-Timur. Dulu, perkebunan tembakau menghasilkan untung besar, mengesahkan modernitas dan kapitalisme di negeri terjajah. Sang profesor mengingatkan: “Dahulu ketika tembakau untuk pertama kali ditanam didaerah tsb. Jang dipakai hanjalah tanah-tanah hutan asli; setelah kwalitet hasil penanaman jang kedua kalinja ditanah itu ternjata berkurang, maka tanahnja kemudian diserahkan ke penduduk. Inilah sebabnja bahwa pada achir abad jang lalu, Deli djadi terdiri dari padang alang-alang jang luas, jang tak menghasilkan tembakau jang berkwalitet baik bila dibuka lagi….”

Pertanian 3

Oh, Deli. Aku jadi ingat nasib orang-orang Jawa, ditipu para pejabat dan pengusaha untuk mau pergi ke negeri berlimpah uang. Mereka tergoda, berangkat dengan impian muluk. Naik kapal ke Sumatra, mewujudkan hasrat panen uang. Di Deli, mereka menjadi “koeli”, dipekerjakan dengan gaji kecil dan disituasikan terjerat dengan kontrak. Sejarah berairmata. Aku tak tega jika membaca kesaksian-kesaksian para koeli di Deli. Derita mereka pernah muncul di sekian novel dan buku sejarah tentang perburuhan.

Sejarah ganjil juga berlangsung di Jawa. Sistem pertanian di Jawa mengalami perubahan akibat perang dan modernitas. Sang profesor menjelaskan: “Di desa-desa jang baru di Djawa Tengah dan lebih-lebih lagi di Djawa Barat sudah tak terdapat lagi machluk-machluk halus dari desa, pesta-pesta panen dari desa, pesemaian padi bersama-sama dan sebagainja; sedang tolong-menolongpun terutama hanja ditudjukan pada pekerdjaan untuk desanja sendiri dan para pangrehnja…” Waduh, di Jawa sudah terjadi episode kepudaran nilai-nilai tradisional dalam pertanian.

Buku berjudul Ekonomi Pertanian Indonesia adalah “buku modern”. Aku membaca saat sudah berganti tahun dan abad. Sekarang, aku sulit menganggap buku garapan sang profesor adalah “buku modern” jika disandingkan keilmuan mutakhir. Buku dari sang profesor termasuk andalanku untuk mengenang lakon pertanian di Indonesia. Begitu.

Iklan