Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Peristiwa bersejarah janganlah dilupakan. 19 April 1967, Soeharto berpidato dalam Sidang Kabinet Ampera. Sang pejabat presiden memberi paparan besar mengenai Orde Baru. Aku pasti tak bisa melupakan Soeharto dan Orde Baru jika mempelajari sejarah Indonesia. Orang-orang di Partai Golkar saja engggan melupakan Soeharto dan Orde Baru.

Peristiwa sejarah tercatat dalam buku tipis alias brosur, berjudul Orde Baru (Grip, 1967) oleh Soeharto. Tebal 16 halaman. Ukuran buku: kecil. Judul buku pastilah memukau di masa lalu. Maksud penerbit: “… menjebarluaskan sebanjak-banjaknja kepada masjarakat dengan harga jang sesuai dengan daja beli rakjat ketjil, adalah benar-benar memenuhi kebutuhan akan pegangan dan pedoman guna membantu pemerintah menegakkan Orde Baru dan mensukseskan program Kabinet Ampera.” Dulu, penerbit berperan ikut “membesarkan” Orde Baru. Penerbitan buku murah pasti memiliki efek besar ketimbang dengan seminar atau diklat.

Soeharto 1

Pelajaran-pelajaran saat sekolah sudah lupa. Di buku-buku, pengertian dan tujuan Orde Baru adalah materi penting saat Soeharto masih berkuasa. Aku bisa buktikan melalui suguhan soal-soal ujian. Murid “diharuskan” menjawab pelbagai hal tentang Orde Baru, Pancasila, Soeharto, UUD 1945, pembangunan…. Sekarang, buku kecil berjudul Orde Baru bisa menjadi bekal membuka dan menata ingatan-ingatan masa lalu.

Pengertian Orde Baru: “ (1) … tatanan seluruh perikehidupan rakjat, bangsa, dan negara Republik Indonesia jang diletakkan kepada kemurnian pelaksanaan Pantjasila dan Undang-Undang Dasar 1945; (2) Dilihat dari prosesnja, lahirnja tjita-tjita mewudjudkan Orde Baru itu merupakan suatu reaksi dan koreksi prinsipiil terhadap praktek-praktek penjelewengan jang telah terdjadi pada waktu-waktu jang lampau, lazim disebut zaman Orde Lama; (3) Oleh karena itu, pengertian Orde Baru jang terpenting adalah suatu Orde jang mempunjai sikap dan tekad mental dan iktikad baik jang mendalam untuk mengabdi kepada rakjat, mengabdi kepada kepentingan nasional jang dilandasi oleh falsafah Pantjasila dan jang mendjundjung tinggi azas dan sendi Undang-Undang Dasar 1945.”

Soeharto 2

Soeharto menampilkan diri sebagai orang baik, pintar, bersih. Orde Baru berbeda dengan Orde Lama. Soeharto menjelaskan dengan pelbagai idealitas. Aku terpesona dengan pengertian-pengertian Orde Baru. Soeharto sanggup menggunakan kata-kata indah dan manis, berbau intelektual. Wah, Soeharto bisa mengartikan Orde Baru melebihi profesor-profesor di Indonesia. Ha! Ingat, Soeharto tak termasuk kaum intelektual tapi berhasil mengumpulkan dan mematuhkan kaum intelektual untuk menggerakkan Orde Baru. Soeharto pernah menjadi tuan bagi kumpulan orang pandai. Waduh!

Bagaimana operasionalisasi Orde Baru sejak 1967? Aku beruntung mendapat penjelasan gamblang dari Soeharto: “Masjarakat kita dewasa ini, sadar atau tidak sadar telah terkena pula oleh sifat-sifat dan sikap mental jang negatif sebagai warisan jang ditinggalkan oleh masa-masa jang lalu.” Di mata Soeharto, Orde Lama dan Soekarno adalah salah, aib, buruk… Soeharto ingin ada agenda menghilangkan hal-hal berkaitan Orde Lama. Soekarno memberi pengaruh negatif. Soeharto tentu memberi pengaruh positif. Bohong!

Soeharto 3

Pola operasi pembinaan Orde Baru: (1) pengembangan kekuatan-kekuatan jang memungkinkan tertjiptanja Orde Baru; (2) Pemeliharaan daja tahan daripada kekuatan-kekuatan itu sendiri; (3) Pengamanan disegala bidang”. Aku merasa ada watak militer dalam pembinaan Orde Baru. Harold Crouch pun telah mengingatkan bahwa Orde Baru itu Soeharto dan militer: kolaborasi paling canggih di Indonesia. Mereka adalah pencipta dan penggerak Orde Baru. Oh!

Aku jadi menginginkan ada orang menulis disertasi tentang Orde Baru, setebal 300 halaman. Maksudku, para sarjana asing dan Indonesia memang sudah menulis pelbagai tema berkaitan Orde Baru. Aku ingin ada disertasi tentang bahasa dan politik, mengacu Orde Baru, dari 1967 sampai 1998. Aku pasti bakal membaca dengan bersuka cita, merasa bisa mengetahui sejarah Indonesia. Aku pun pasti mencampurkan kagum dan benci bagi Soeharto. Lho!

Orde Baru adalah orde ambisius! Aku menemukan ada sejenis represi dan obsesi mencapai keberhasilan Orde Baru. Soeharto menerangkan: “Walaupun pembinaan Orde Baru tidak mengenal kontradiksi, namun perlu ada batas pemisah antara kekuatan-kekuatan Orde Baru dan kekuatan-kekuatan jang bukan Orde Baru. Batas itu, pada instansi pertama terletak dalam sikapnja terhadap Pantjasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Siapa jang menolak, pernah mengchianati atau menerima Pantjasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai taktik belaka, bukanlah kekuatan Orde Baru.” Ah, penjelasan berisi ancaman.

Soeharto mencipta musuh-musuh. Publik diajak mengenali musuh-musuh. Orang-orang PKI tentu musuh. Soeharto menjelaskan dengan ungkapan “Pancasila sakti”, kemenangan Pancasila atas pengkhianatan PKI, 1945. Soeharto memamg cerdas, ajukan manipulasi dan permainan sejarah berisiko. Oh, Soeharto…

Buku kecil berjudul Orde Baru mengalami tiga kali cetak, tahun 1967. Aku menduga buku laris di pasar. Publik membeli dan membaca. Wah, berarti pendirian Orde Baru berbau literasi. Buku berharga murah dan berkertas buram bisa menjadi alat propaganda untuk kebesaran Soeharto dan kesuksesan Orde Baru. Sangar! Eh, setahuku dari pelbagai buku dan koran, Soeharto bukanlah pembaca buku. Mengapa pengultusan Soeharto dan Orde Baru justru dipengaruhi oleh sebaran buku? Aku belum bisa menjawab. Aku tak mau memberi jawab serampangan. Begitu.

Iklan