Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

15 April 2014, aku bergerak ke Semarang bersama batuk dan pilek. Lho. Di bis berjalan pelan, aku menikmati sakit dan pagi aneh. Aku mau berkhotbah tentang Surga Sungsang di Universitas Katolik Soegijapranata. Di sana, ada “sang pengarang”, Doni D, Joss Wibisono… Pagi, aku memilih tidak sarapan ketimbang nanti di bis menahan ngising. Eh, sampai di kampus terlambat meski sudah diantar Wiwid, si bakul buku dan esais. Tubuh masih tak beres. Aku pun mengoceh panjang. Berhenti, usai diingatkan moderator. Wah!

Sejenak dalam perjalanan, aku sempat membaca Koran Tempo, Joglosemar, Media Indonesia. Di Joglosemar, ada esaiku berjudul Berbahasa, Berbangsa, Bernegara. Esai mengenai Pancasila. Aku sudah sering menulis Pancasila, tak berniat bersaing dengan Yudi Latif, si pemikir kebangsaan dan kenegaraan. Semula, esai dari honor esaiku bakal dipakai untuk membeli buku Mata Air Keteladanan…. (Mizan, 2014) garapan Yudi Latif. Harga 125 ribu. Aku masih mendapat sisa untuk beli bebek goreng. Rencana belum berhasil diwujudkan. Aku mulai ragu untuk membeli Mata Air Keteladanan… agar melengkapi Negara Paripurna.

Penebusan dilakukan meski tak bakal mengesahkan diriku sebagai Pancasilais. Ha! Aku memang mengoleksi buku-buku Pancasila tanpa harus menjadi juru propaganda empat pilar kebangsaan. Eh, istilah sangar dari MPR sudah dibatalkan oleh MK! Aku mengerti dan mengerti. Aku tetap mempelajari Pancasila.

Dulu, Ki Hadjar Dewantara menulis buku berjudul Pantjasila (UP Indonesia, 1950), berbentuk kecil dan sederhana. Tebal cuma 34 halaman, tak setebal buku-buku garapan Yudi Latif. Aku mesti memberi hormat atas tafsir Ki Hadjar Dewantara agar tak tergesa mengecap Yudi Latif adalah penafsir tangguh Pancasila di abad XXI. Ki Hadjar Dewantara menerangkan: “Pantja-sila tak kurang dan tak lebih menundjukkan sifat keluhuran serta kehalusan budi bangsa kita, menggambarkan dengan singkat, namun djelas, apa jang hidup didalam djiwa bangsa kita. Pantja-sila mendjelaskan serta menegaskan tjorak-warna atau watak rakjat kita sebagai bangsa: bangsa jang beradab, bangsa jang berkebudajaan, bangsa jang menginsafi keluhuran dan kehalusan hidup manusia, serta sanggup menjesuaikan hidup kebangsaannja dengan dasar peri-kemanusiaan jang universal, meliputi seluruh alam kemanusiaan tjiptaan Tuhan.” Pilihan kata mirip pembukaan dalam pementasan teater kebangsaan.

Pancasila 1

Ingat, Ki Hadjar Dewantara tak cuma pakar pendidikan. Sejak mula, Ki Hadjar Dewantara turut membesarkan Pancasila di jalan politik, pendidikan, kultural. Ki Hadjar Dewantara memang manusia ampuh! Soekarno tentu berterimakasih atas jasa-jasa Ki Hadjar Dewantara dalam “membumikan” Pancasila. Peran besar ingin ditiru oleh Yudi Latif. Pujian dari para tokoh bisa dibaca di buku-buku Yudi Latif. Di buku Ki Hadjar Dewantara tak ada halaman memuat komentar. Aku juga tak melihat ada komentar para tokoh di sampul buku bagian belakang. Dulu, buku tak “dicemari” dengan pameran komentar!

Penjelasan lanjutan: “… Pantja-sila kita itu kerapkali dengan terang-terangan dipakai sebagai ‘dasar’, ‘sendi’ atau ‘pembatasan’, misalnja dalam menjusun anggaran-dasar atau peraturan-peraturan lainnja, baik oleh pihak partikulir maupun oleh badan-badan pemerintah jang resmi.” Di buku, tak ada istilah “pilar”. Aneh! Orang-orang di MPR justru membuat istilah “pilar”, disosialisasikan dengan anggaran negara melalui seminar, penerbitan buku, cerdas cermat… Eh, ada penggugat penggunaan istilah “pilar” untuk Pancasila di MK. Aku pun jadi ingat, Soeharto menggunakan istilah “asas”. Pancasila menjadi asas tunggal. Ah, ingat Soeharto. Aku memilih ingat Ki Hadjar Dewantara.

Pancasila 2

Ki Hadjar Dewantara berpesan: “… untuk dapat mengerti bagaimana nanti terwudjudnja Pantja-sila itu belum tjukuplah kita hanja memahami benar-benar arti, isi maksud dan tudjuan Pantja-sila tadi, namun masih perlulah kita mengenali suasana jang meliputi seluruh masjarakat kita jang kini sedangnja berdjuang itu, pula watak dari bangsa kita pada umumnja.” Pesan luhur dan jelas. Eh, Soeharto malah membuat penjelasan berbeda di tahun 1967. Soeharto ingin menegakkan dan mengamalkan Pancasila secara konsekuen. Aku paling ingat dengan istilah “konsekuen”. Soeharto sengaja menggunakan istilah sangar untuk menuduh Soekarno tak bisa mengamalkan Pancasila dengan benar. Pengamal Pancasila paling konsekuen di Indonesi tentu Soeharto. Wah, sombong!

Aku belum jenuh mempelajari Pancasila. Dulu, semasa sekolah dan kuliah tak ada minat mempelajari Pancasila dengan tujuan mendapat nilai tinggi. Sekian tahun, aku tergoda Pancasila akibat bertemu buku-buku lawas. Ah! Seingatku, ada puluhan esaiku tentang pancasila. Aku bisa menerbitkan sebagai buku kecil, mirip buku Ki Hadjar Dewantara dan berbeda dengan buku Yudi Latif. Aku bakal menerbitkan tanpa harus menggunakan dana negara. Amin.

Pancasila 3

Di akhir tulisan, Ki Hadjar Dewantara menjelaskan arti “demokrasi” dan “keadilan sosial”. Matahari digunakan sebagai ibarat. Puitis! Simaklah: “Matahari memberi sinarnja kepada semua tumbuh-tumbuhan dan machluk, jang memerlukan sinarnja. Pemberian sinar matahari berlaku dengan merata dan adil, sesuai dengan sembojan ‘demokrasi’ dan ‘keadilan sosial”, jang dapat diganti dengan utjapan sama rata, sama rasa.” Aku paling suka dengan salam terakhir dari Ki Hadjar Dewantara, bukti dari watak pergerakan tak pernah pudar. Begitu.

Iklan