Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Selusin hari, aku sakit. Kasihan. Pusing sering datang tiba-tiba. Tubuh sering mengigil. Malam-malam, batuk menjadi melodi tak merdu. Umbel di hidup belum habis. Aku mengandaikan bahwa umbelku sudah seliter jika diwadahi. Ha! Hari demi hari, tubuh berguncang. Tidur tak lelap. Membaca dan menulis diselingi mengurusi umbel. Hi! Jijik! Aku sudah tak mengerti jijik. Obat sudah diminum. Brambang bakar sudah ditelan. Kencur sudah diminum. Doa telah disampaikan. Eh, sakit ingin memberiku pesan agar tak sembarangan dengan tubuh, pikiran, alam… Oh, Tuhan sembuhkanlah diriku. Amin.

Aku sering batuk saat mengoceh di Pangajian Malem Senin dan Tadarus Buku-Malem Jumat. Malu. Aku malu dengan kata-kata bercampur batuk dan umbel diwadahi teman-teman. Gorengan selalu menggoda. Aku menahan diri. Eh, ada bebek goreng, kiriman esai-ustadz dari Klaten. Santap! Bebek belum turut berpartisipasi untuk mengurangi jumlah batuk dan umbel. Wah, aku memerlukan bebek goreng lagi agar ada efek. Oh, bebek goreng…

Sakit 1

Aku tersipu membaca buku lawas, berjudul Ilmu Kesehatan (J.B. Wolters-Groningen, 1952) garapan P. Peverelli, cetakan ketujuh. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Sutan Saleh. Ilustrasi oleh T. Dalton. Buku (terlalu) bermakna. Oh! Buku bacaan untuk orang sakit. Lihatlah, tubuhku lesu. Selera makan tak keruan. Sakit tak membuatku meninggalkan ibadah harian, dari mencuci sampai menguras tandon air. Aku sulit mencari surat keterangan dokter untuk cuti dari pekerjaan harian. Eh, aku berikhlas dengan peristiwa-peristiwa harianku.

Peverelli memberiku khotbah: “Kesehatan! Alangkah merdunja bunji perkataan ini. Alangkah mudjurnja mempunjai kesehatan itu. Bukankah kesehatan itu harta kita jang terbesar dan kadang-kadang hanja itulah harta kita?” Waduh, aku jadi ingat tuturan manis para ustadz. Mereka sering berucap nikmat kesehatan, nikmat besar dalam kehidupan manusia. Nikmat sehat biasa digandeng nikmat sempat. Para ustadz apakah mencomot dari buku Ilmu Kesehatan? Dulu, aku juga sering mengawali khotbah dalam pengajian umum dengan istilah “nikmat sehat”.

Sakit 2

Ingatan atas peradaban manusia masa lalu: “Belumlah berapa lamanja orang mengetahui, bagaimana kedjadian penjakit itu. Pada zaman dahulu kala, kalau penjakit wabah berdjangkit dan banjak membawa orang kepintu kubur, banjaklah orang melarikan dirinja dengan meninggalkan harta bendanja, karena sangat takut akan penjakit itu.” Zaman telah berganti. Orang-orang berilmu menemukan teori dan metode pengobatan. Di Barat dan Timur, sakit adalah tema besar. Kaum pandai tampil dengan seruan perawatan kesehatan dan taktik mengurusi orang-orang sakit.

Ikhtiar menjaga kesehatan bisa dimulai dengan memperhatikan tidur. Peverelli menjelaskan: “Bilik tempat tidur itu hendaklah sedapat-dapatnja luas dan tjukup udara baik masuk kedalamnja. Hendaklah sunji didalamnja. Tidurlah didalam gelap. Begitulah jang sebaik-baiknja dan lagi ta’ ada bahaja kebakaran dan ta’ ada hawa jang busuk karena lampu minjak atau pelita. Didalam bilik itu ta’ boleh ada bunga-bungaan jang berbau harum.” Anjuran aneh. Aku sulit mengerti dengan penjelasan sang dokter. Ada “sunji”, “lampu minjak”, “bunga”. Aku terbiasa tidur dengan bauk kata-kata. Adegan jelang memejam mata, membaca buku. Apakah adeganku tak diperbolehkan? Dulu, aku juga sering mengiringi peristiwa membaca dengan lagu-lagu dari radio. Wah, tak hening.

Sakit 3

Orang memerlukan makan agar sehat. Makanan juga tak harus selalu disimpan di perut. Makanan mesti menjadi energi untuk pelbagai tindakan. Makan untuk tidur tentu dilakukan para pemalas. Makan untuk menulis dan membaca. Sip! Di buku, ada gambar dua perempuan menumbuk padi. Mereka melakukan kerja, bermodal dari makanan sebagai energi. Bekerja memerlukan makanan. Tubuh bergerak. Keringat bercucuran… Makan memiliki makna.

Tata cara makan harus diperhatikan. Penjelasan Peverelli tentu serius: “Selainnja dari makanan jang dimasak, hendaklah kita makan djuga makanan jang tidak dimasak, misalnja buah-buahan. Djangan makan terburu-buru, kunjahlah makanan itu lumat-lumat. Djanganlah sematjam sadja mempergunakan makanan dan tetapkanlah waktu makan. Djanganlah terlalu banjak minum saat makan…” Aku ingin sehat? Anjuran-anjuran sang dokter mesti dipatuhi. Lihat, penjelasan sang dokter memiliki dua gambar: dua penjual makanan pikulan. Oh, jadi ingat masa lalu, saat aku masih bocah. Dulu, para pedagang pikulan sering lewat rumahku. Aku tak membeli. Uang tak ada.

Sakit 4

Buku Ilmu Kesehatan dibaca lelaki sakit. Uraian di halaman-halaman akhir biasa aku dapati dari ocehan guru saat SD sampai ocehan bidan di desa. Peverelli mengingatkan: “Kita dapat mentjegah dan mendjauhkan penjakit, apabila kita tahu apa jang menjebabkan penjakit itu. Apabila kita tahu bagaimana djalannja penjakit tersiar, bagaimana bibit penjakit masuk kedalam badan dan bagaimana orang menahan penjakit itu.” Tuhan, berilah ketabahan dan kesembuhan. Aku ingin waras. Aku ingin lekas memberesi buku-buku berserakan di Bilik Literasi. Aku bersegera membaca setumpuk buku. Aku bersegera menulis esai-esai dan resensi-resensi. Malam-malamku ingin sepi. Malam bergelimang kata dan mimpi. Begitu.

Iklan