Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Agenda mengingat Kartini dilakukan para mahasiswa di Universitas Negeri Gadjah Mada Jogjakarta, 1954. Peringatan oleh mahasiswa tentu berbeda dengan murid SD: mengenakan baju-baju tradisional. Bocah-bocah TK juga sudah diajari mengenakan baju-baju tradisonal. Ah, apakah hubungan Kartini dengan baju tradisional? Mahasiswa adalah kaum melek aksara. Barangkali acara peringatan Kartini dianggap sesuai dengan persembahan tulisan-tulisan dan seminar. Mahasiswa tanpa menulis? Bebal! Mahasiswa tak pernah ikut seminar? Sibuk. Dua jawaban pendek tanpa bukti dan argumentasi kuat. Aku asal menjawab saja.

Di buku tipis berjudul Kenang-Kenangan 21 April 1954 (UNGM, 1954) tercantum tiga tujuan peringatan Hari Kartini: “(1) Memperingati hari lahir alm. R.A. Kartini, pendukung idee jang mula-mula ditjampak dilemparkan, tetapi kini ternjata telah membawa Puteri Indonesia kealam bebas, bebas dalam arti: leluasa mengembangkan bakat menudju harmonie hidup; (2) Memperkenalkan bagian baru dalam lingkungan D.M.U.N.G.M.: Bag. Keputrian, jang merupakan pusat activitiet mahasiswa puteri; (3) Merupakan langkah pertama untuk menjalurkan isi hati & fikiran mahasiswa puteri dengan menjediakan ruangan: mahasiswa puteri menulis…” aku membaca di akhir: menulis. Sip! Sekarang, peringatan Kartini adalah ajakan bagi kaum puteri belanja baju atau ke salon dengan dalih ada pengumuman potongan harga, bermaksud menghormati jasa-jasa Kartini. Oh!

Kartini 1

Acara resmi di Universitas Negeri Gadjah Mada mengharuskan ada sambutan dari atasan, bernama Prof. Dr. Sardjito. Buku terbitan kampus memang sering disesaki sambutan dari para pejabat. Ah, membosankan! Sardjito menulis: “Dengan penerbitan kitab Kenang-Kenangan 21 April 1954 ini kami merasa berkewadjiban menjambutnja dengan memberikan sepatah dua kata penghormatan, mengingat beban kami jang begitu berat untuk turut mengemudikan mahasiswa. Diantaranja ratusan mahasiswa puteri, supaja mereka mendjadi warga negara susila jang berguna bagi masjarakat, pula jang dapat mengabdi kepada negara dan bangsa.” Tugas atasan alias pejabat adalah “mengemudikan mahasiswa”. Tugas mulia! Pengertian atas peringatan Kartini berudjung pembentukan “warga negara susila”. Aku merasa aneh. Urusan para mahasiwa adalah Kartini, bukan “Susila”.

Sambutan juga diberikan oleh Ibu Sardjito. Apakah sambutan ibu berbeda dengan bapak? Buktikan! Ibu Sardjito berpesan: “Ibu Kartini telah 50 tahun lamanja meninggalkan kita, tetapi djiwa beliau tetap menjala didalam tiap-tiap puteri Indonesia. Dan tjita-tjita jang terkandung didalamnja semoga senantiasa menjuluhi djalan perdjuangan kita menudju kearah mendjundjung deradjat wanita Indonesia.” Ada nuansa berbeda antara pesan bapak dan ibu. Penjelasan ibu terasa lembut.

Kartini 2

Peringatan Kartini mengikutkan pengumuman tentang tujuan Bagian Keputerian Dewan Mahasiswa UNGM: “Memperhatikan segala sesuatu jang berhubungan dengan kepentingan, kewadjiban dan kedudukan wanita, baik selaku mahasiswa maupun selaku anggauta masjarakat.” Usaha untuk mencapai tujuan: “Memberi bimbingan jang bersifat pendidikan kewanitaan, pengetahuan umum, kemasjarakatan dan lain-lain jang selaras dengan tudjuan tersebut.” Apakah kaum aktivis perempuan di UGM, UI, ITB, IPB, UNS… masih ingat ada ikhtiar gerakan “keputerian” di kampus, mengacu ke Bagian Keputerian Dewan Mahasiswa UNGM? Sekarang, gagasan “keputerian” tentu aneh jika diterapkan di kampus, beralasan situasi politik dan pendidikan sudah berbeda. Aku malah merindukan ada unit kegiatan mahasiswa sebagai ahli waris dari tujuan “Memperhatikan segala sesuatu jang berhubungan dengan kepentingan, kewadjiban dan kedudukan wanita, baik selaku mahasiswa maupun selaku anggauta masjarakat.”

Ah, tak usah digubris kerinduanku. Aku jarang bisa memuji kegiatan-kegiatan para mahasiswa di kampus. Lho! Aku merasa ada gelagat tak beres dari ulah para aktivis di kampus. Mereka selalu girang menjadi panitia, mengenakan jaket atau kaus berlogo UKM, sibuk beracara…

Kartini 3

Aku berikan kutipan hasil dari misi mahasiswa putri menulis. Puisi berjudul Api Mati gubahan Utji Tjitraasmara: Lagi api pernah besar/ bersinar menerangi segala lubang/ dalam ruang/ tak ada detik berkata/ atau mega bertachta/ atau geledeg bersabda/ bahwa hudjan akan turun…. Puisi bisa dinikmati meski tak bisa dianggap apik. Ada juga puisi berjudul Bekal Berdjalan gubahan Moer. Puisi panjang dengan nuansa estetika lawas: Bukan disenjum manis madu/ digelak berdentjing girang/ dilambaian lenggang gemulai/ pandang rapuh saju dibuat/ kata-kata memikat iman.

Aku ingin banget menjadikan petikan puisi menjadi lagu dangdut. Wah! Aku sudah bisa mengandaikan komposisi musik dan si pelantun. Eh, pengandaian batal. Aku tak bisa bermain gitar dan ketipung. Aku cuma bisa mendengarkan dangdut, sepanjang hari. Tetangga sebelah rumah selalu menghiburku dengan alunan dangdut koplo, dari pagi sampai malam. Ah, aku merasa girang jika Kartini sempat mengalami zaman dangdut di Indonesia. Aku tentu bakal membaca surat panjang berisi uraian tentang dangdut dan perempuan. Begitu.

Iklan