Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Iklan politik di televisi pernah memunculkan Aburizal Bakrie berkisah tentang sang bapak, bernama Achmad Bakrie. Cerita disampaikan ke murid. Sang capres tentu berniat agar murid memiliki semangat dalam belajar dan menggapai cita-cita menjadi pengusaha atau penguasa. Wah! Aku jadi penasaran dengan siasat berpolitik di Indonesia. ARB memerlukan pengisahan sang bapak untuk membujuk publik memberi suara dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden. Sang capres termasuk terlambat dalam mengikutkan bapak dalam berimajinasi politik. Seingatku, penghadiran sang bapak dalam politik dilakukan oleh anak-anak Soekarno dan anak-anak Soeharto, dari dulu sampai sekarang.

Megawati bisa menghadirkan sang bapak. Joko Widodo? Ah, aku ragu jika sang capres asal Solo berani memunculkan foto dan narasi sang bapak. Aku malah kaget saat dolan ke Gramedia: melihat ada buku kecil berisi biografi ibunda Joko Widodo. Lihatlah, di pelbagai toko buku, buku-buku biografi Joko Widodo sudah berlimpah. Eh, bertambah ada buku biografi sang ibu. Hebat! Ah, aku jadi ingat nasibku. Aku ke Gramedia, beralasan berteduh dan melihat buku. Di tas, ada uang cuma 500. Aku beranikan parkir motor, berharap bertemu teman dan mendapat rezeki. Eh, tak terjadi. Aku pun mencari lelaki kalem bernama Sukidi, pekerja di Balai Soedjatmoko. Bertemu! Aku minta uang seribu. Alhamdulillah. Sukidi memang lelaki baik. Aku meminta, tak berhutang. Seribu rupiah membuatku bisa keluar dari parkiran Gramedia. Lupakan!

Sumitro 1

Sekarang, aku ingin mengingat Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Orang-orang pasti sudah tahu peran sang profesor, sejak masa Orde Lama sampai Orde Baru. Aku memiliki buku sang profesor, berjudul Ekonomi Umum: Azas-Azas Teori dan Kebidjaksanaan (Pembangunan, 1957). Buku dengan tebal 165 halaman. Buku bersejarah saat mengenang gairah orang-orang Indonesia belajar ilmu ekonomi. Dulu sampai sekarang, jumlah mahasiswa di fakultas ekonomi terus meningkat. Di kampusku dulu, mahasiswa ekonomi kadang bersombong bakal bernasib baik: mendapat pekerjaan ketimbang lulusan fakultas-fakultas lain. Aduh! Mereka tentu berimajinasi tentang nasib sarjana ekonomi di masa Orde Baru.

Apakah Prabowo Subianto tak menginginkan beriklan dengan menghadirkan sang bapak? Aku tak mungkin memberi jawab. Barangkali Prabowo ingin tampil tangguh, tak perlu bernaung dalam imajinasi sang bapak saat berpolitik. Sang profesor adalah tokoh ekonomi. Sang anak adalah tokoh militer dan politik. Ah, aku tak mau terlalu menggosip Prabowo. Aku harus tetap konsisten mengurusi buku garapan sang profesor ketimbang terseret urusan politik mutakhir.

Sumitro 2

Sang profesor menjelaskan: “Buku ini akan berfaedah kiranja bagi para mahasiswa, jang mempersiapkan diri untuk udjian tingkat sardjana-muda dalam ilmu ekonomi. Djadi, mereka jang termasuk tahun-tahun peladjaran pertama, kedua dan ketiga dalam lingkungan universiter; chusus dalam rangka susunan peladjaran seperti jang didjalankan oleh Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Djakarta.” Aku bukanlah sarjana ekonomi. Nilai-nilai pelajaran ekonomi selama di SMA jelek. Aku juga tak pernah berhasrat masuk fakultas ekonomi. Minatku belajar ekonomi mirip penghiburan bagi si miskin. Lho!

Si miskin sering berurusan dengan uang. Apakah uang? Bagiku, ekonomi adalah uang seribu pemberian Sukidi agar bisa merampungi beban parkir. Ekonomi tentu ilmu rumit bagi si pemilik uang 500 jika ingin belanja buku dan jajan bakso. Sang profesor menjelaskan uang: “Uang sebagai alat penukar berhubungan erat dengan perkembangan masjarakat. Dalam pergaulan hidup jang sederhana diwaktu dahulu masih belum terasa kebutuhan memakai alat penukar…. kini uang dipakai sebagai kesatuan hitung. Chalajak ramai menghitung nilai dan harga barang-barang dan djasa-djasa dalam uang jang telah dipakai sebagai alat penukar.”

Sumitro 3

Aku mengandaikan sang profesor masih hidup dan mengamati situasi demokrasi di Indonesia. Barangkali muncul pengertian baru: “Uang adalah alat penukar demokrasi.” Waduh, pikiranku mulai klise. Aku ingin para dosen ekonomi membuat mata kuliah baru berjudul “uang demokrasi”. Harapanku agar uang tak melulu berurusan dengan barang dan jasa secara lazim. Eh, aku memastikan bahwa para caleg dan capres adalah ahli ekonomi atau ahli uang meski tak kuliah di fakultas ekonomi dan bergelar sarjana ekonomi.

Aku membuka halaman-halaman berisi materi tentang investasi. Aduh! Aku paling sedih jika mendapat istilah investasi. Solo pernah berjuluk “kota investasi terbaik”. Pelbagai kota dan negara tentu bersaing menjadi “kota investasi” dan “negara investasi” melalui pelbagai kebijakan dan siasat, mulai mengadakan festival sampai seminar. Tuhan, aku selalu risih dengan berita-berita investasi dan omongan-omongan pejabat, presiden, pengusaha, intelektual tentang investasi. Apakah investasi bisa dimusnahkan dari kamus-kamus di bumi. Tuhan, aku berharap investasi dimasukkan saja ke neraka. Oh, pikiranku mulai kacau.

Sang profesor memberi penjelasan agar aku tak khilaf: “Usaha untuk mendjalankan investasi mempunjai sifat jang berlainan daripada usaha menabung. Seperti kita mengetahui investasi meliputi: (1) pendirian gedung-gedung, pabrik baru; (2) barang-barang mesin sebagai peralatan modal; (3) persediaan barang-barang” Aku pun berlagak mengerti dan melamunkan mimpi-mimpi para investor. Begitu.

Iklan