Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Konon, bocah adalah pemilik kebahagiaan. Apakah aku pernah bahagia saat bocah? Aku harus menjawab dengan jujur: pernah. Bahagia berasal dari permainan bersama teman-teman. Dulu, di desaku masih memiliki jalan-jalan tanah: lebar dan bersih. Orang-orang masih memiliki halaman luas. Di jalan dan halaman, kita bermain dan berbahagia. Seingatku, mereka tak memagari rumah dengan bata, besi, batu… Pagar-pagar berupa tanaman, berwarna hijau dan rimbun. Aku kangen dengan rumah-rumah berpagar tanaman. Sekarang, orang-orang berlomba membuat pagar: kokoh dan tinggi. Ada pintu gerbang. Pagar dan pintu gerbang mengandung pesan: “Janganlah masuk untuk dolan!” Eh, ada penambahan anjing sebagai penjaga. Indonesia bisa remuk bermula dari pameran dan arogansi pagar! Aku terlalu meramal! Pagar dan gerbang membuatku tidak berbahagia. Lho! Aku tak perlu melanjutkan marah untuk ambisi orang melindungi rumah. Aku bisa berdosa.

Aku mengurusi buku lawas saja berjudul Mari Bermain (J.B. Wolters-Groningen Jakarta, 1950) susunan J.H. Dobbenga dan F.H.A. Claessen disertai S. Zainuddin dan P. Soriradja. Apa maksud “disertai” dan penulisan buku? Ah, aku tak mengerti. Apakah permainan bagi bocah? Di buku ada penjelasan: “Pada kanak-kanak permainan itu adalah suatu pendjelmaan batinnja jang tak dibuat-buat; suatu pernjataan dan pembentukan usaha rohaninja jang mula-mula; adalah kerdja sendiri jang mula pertama dalam padang ketjerdasan. Maka sebab itulah pula permainan itu amat menggembirakan kanak-kanak, dan dalam permainan itu terasa padanja kekuatannja bertambah dan berkembang.” Oh, penjelasan “terlalu” puitis dan filosofis. Ah, bahasa membuai angan dan kerinduan masa lalu.

Bermain 1

Aku menginginkan pengertian tentang permainan bisa dikutip ulang dalam penerbitan buku-buku bacaan untuk anak. Para orang tua sudah tega membelikan anak-anak buku latihan soal ujian. Mereka mesti membeli buku-buku permainan agar bocah berbahagia. Buku pelajaran dan soal ujian membuat bocah frustrasi dan menderita berkepanjangan. Bermainlah! Bermainlah! Eh, anjuranku tak bakal mempan. Bocah-bocah di SD bermutu memberi pelajaran sampai sore. Bocah pulang ke rumah untuk istirahat sejenak. Berlanjut, les dan mengerjakan PR. Kebahagiaan paling akhir adalah terkapar di ranjang. Aduh! Dulu aku sering bermain ketimbang belajar. Aku tak bodoh, naik kelas dan lulus. Berbahagia meski jelek dan miskin.

Permainan adalah bagian dalam pendidikan. Ada pesan bagi guru jika mengajak anak bermain atau menggunakan alat permainan dalam mengajar. Simaklah: “Tiap-tiap guru insaf bahwa untuk kepetingan pengadjaran hendaklah ia dalam beberapa hal mentjari daja-upaja, jang mendjamin peri djalan jang teratur dan hasil pengadjaran. Sekadar masih umum sifatnja, maka hal itu diperbintjangkan dalam pengadjaran ilmu mendidik dan padalah dengan memulangkan hal itu kesana sadja. Tetapi terhadap tiap-tiap mata peladjaran dan terhadap segala bagian pendidikan badan, ditjari orang serba upaja chas….” Aku sulit mengerti dari kalimat ruwet para penulis. Perkara paling jelas adalah pengetahuan tentang badan murid diperlukan dalam pengajaran dan permainan. Oh, bermain memerlukan badan sehat dan semangat! Ingat, bermain tak boleh melupakan doa dan kuasa Tuhan. Bermain mengandung cobaan dan godaan untuk curang atau melanggar etika. Ha!

Bermain 2

Sekarang, permainan bisa serupa olahraga. Di buku Mari Bermain, ada penjelasan cara dan aturan bermain lempar bola, kucing dan tikus, ular-ularan kasti… Permainan dan olahraga membuat bocah bergembira dan sehat. Modal dari gembira dan sehat: tubuh harus tak lapar dan kondisi jiwa tidak sedang mengidap frustrasi akibat gagal mengerjakan soal-soal ujian.

Sekolah wajib memiliki lapangan untuk bermain atau olah raga. Simaklah penjelasan dari para penulis: “Djika kita bertanjakan, berapa besar lapangan bermain itu mestinja, maka adalah menurut zamannja djika kita mengemukakan ukuran-ukuran jang seketjil-ketjilnja jang dapat memenuhi sjarat sekadarnja. Untuk sekolah rendah ukuran jang seketjil-ketjilnja ialah 35 x 60 m. Untuk sekolah guru, pada umumnja untuk tiap-tiap sekolah berasrama, adalah lapangan sendiri itu suatu keperluan jang tak dapat tiada harus dipenuhi.” Apakah sekolah-sekolah di kota-kota masih memiliki halaman luas atau lapangan? Tanah berharga mahal. Barangkali sekolah berharta saja sanggup memiliki fasilitas halaman dan lapangan. Wah! Lihatlah di spanduk-spanduk penerimaan murid baru. Aku jarang melihat ada pencantuman fasilitas: lapangan dan halaman. Sekolah-sekolah bersaing pamer fasilitas: ruang bermesin pendingin, perpustakaan, laboratorium, kantin, internet….

Bermain 3

Bersekolah untuk berbahagia. Aku masih ingat saat SD. Aku memang berbahagia ketimbang bersedih. Belajar di sekolah dan bermain dengan teman-teman. Orangtua kadang marah saat bermain sampai sore atau malam. Kemarahan bisa reda tanpa menghancurkan kebahagiaan. Sekarang, bocah-bocah tak lagi bermain di jalan, lapangan, kebun, sungai… Mereka mendekam di rumah atau warnet. Tangan bergerak, mulut berteriak, tubuh tegang, waktu melintas cepat…. Orangtua tentu berbahagia melihat sang bocah melek teknologi permainan mutakhir. Ajakan “mari bermain” mulai dipahami dengan menghadapi komputer atau beribadah di warnet. Begitu.

Iklan