Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Aku sering melewati SD Negeri Blulukan I jika dolan ke rumah simbok. Dulu, aku bersekolah di SD Blulukan I sebagai bocah kalem dan pintar. Aku memiliki memori setebal 100 halaman mengenai peristiwa dan tokoh. Seingatku, saat di SD aku mendapat perhatian dari guru dan teman-teman akibat aku pintar. Wah, sombong! Aku tak pernah mendapat peringkat 1, dari kelas 1 sampai 6. Prestasiku cuma NEM terbaik: 45 untuk 5 mata pelajaran. Ah, aku tak ingin mengenang pelajaran dan nilai. Aku ingin mengingat perempuan bernama… Dulu, teman-teman berebut perhatian dari … Aku tak ikut berebut. Aku malah mendapat perhatian dari…

Murid baru di kelas 6, pindahan dari Palembang. Aku sering diajak belajar bersama. Gadis berambut panjang, mendendangkan lagu apik dari Franky: “Rembulan di malam hari, lelaki diam seribu kata…” Ada juga lagu dangdut: “Di pesta panen ini kita bertemu kembali….” Barangkali kondisi kejiwaanku saat SD terganggu. Aku tak berharapan jadi bocah pintar atau mendefinisikan diri sebagai lelaki pujaan meski sekian teman perempuan memberi perhatian. Kejiwaanku masih lugu. Bohong! Eh, perempuan berambut panjang itu lulus SD, pindah ke kota lain. Aku tak pernah bertemu lagi.

Djiwa 1

Peringatan Hari Pendidikan Nasional dengan membuka memori picisan saat SD. Ah, malu! Aku berlanjut mengingat buku lawas berjudul Ilmu Djiwa terbitan Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru, Bandung. Aku tak menemukan keterangan penulis dan tahun. Buku berukuran besar. Tebal 128 halaman. Buku berisi uraian tentang berpikir, gejala kehendak, perasaan. Eh, di halaman depan bagian bawah ada pesan” “Dilarang mengutip”. Aku tetap harus mengutip meski harus masuk penjara atau denda seribu rupiah.

Aku mulai dengan mengutip pengertian berani bagi anak. Ada penjelasan berbeda arti tentang berani. Ada suguhan cerita-cerita. Anak mulai berkenalan dengan istilah berani: “… perkataan berani bagi anak berarti: tidak takut akan bahaja.”Pengertian berubah akibat ada tokoh dan peristiwa berbeda. Anak mulai memiliki pengertian bahwa berani berarti: “tidak takut mengemukakan pendapat”. Wah, cara mengajar memerlukan cerita agar anak memperoleh pengertian sesuai konteks. Aku jadi ingat peristiwa obrolan di LPM Pabelan UMS, 31 April 2014. Obrolan bertema besar: pers dan kematian demokrasi. Ah, berlebihan! Aku bercerita secara kacau dan kasar. Eh, 30-orang cuma diam dan memberi tawa. Mereka tak berani beradu tanggapan atau berbalik memberi perspektif tandingan untuk ocehanku. Obrolan tak demokratis. Obrolan tanpa keberanian. Mahasiswa sudah kehilangan pengertian berani: “tidak takut mengemukakan pendapat.”

Djiwa 2

Aku tertarik dengan penjelasan hasrat. Aku sering menggunakan istilah hasrat dalam puluhan esai. Di buku Ilmu Djiwa ada penjelasan pendek mengenai hasrat: “Suatu keinginan jang tertentu itu dapat kembali selalu. Dalam hal ini keinginan itu kita sebut hasrat.” Oh! Ada suguhan contoh: “Keinginan akan makanan dapat menimbulkan kerakusan. Keinginan akan minum-minuman keras. Mendjadikan kita peminum.” Aku tak menemukan hasrat berkaitan asmara dan buku. Ah, aku mesti membuat bab lanjutan agar pembaca mendapat pencerahan tentang hasrat lelaki pada perempuan dan hasrat membaca buku sepanjang masa.

Apakah perasaan? Waduh, aku sulit menjawab. Aku malah teringat novel Afrizal Malna berjudul Kepada Apakah (2014). Aku ikut menggunakan “apakah” untuk berurusan dengan perasaan. Penjelasan terang: “Djadi pada umumnja perasaan itu menjatakan keadaan batin seseorang; ia merasa gembira; ia merasa takut. Dapat djuga perasaan itu merupakan suatu pendorong untuk berbuat sesuatu…” Aku anggap mengerti setelah membaca contoh dan penjelasan. Oh, perasaan.

Djiwa 3

Perasaan berhubungan dengan seni. Ah, tak ada penjelasan asmara. Perasaan dan seni? Di buku Ilmu Djiwa ada keterangan: “Seni ialah segala sesuatu jang dibuat oleh manusia dan menimbulkan perasaan keindahan.” Ada susulan pengertian, mengutip dari definisi seni dalam Kongres Kebudajaan Indonesia, 1951: “Seni ialah hasil dari pada getaran djiwa dan keselarasan perasaan serta pikiran jang mewudjudkan sesuatu tjiptaan jang indah dan luhur.” Orang-orang seni tentu berperasaan. Benarkah?

Di halaman-halaman akhir, muncul penjelasan perasaan kebangsaan. Aku tetap tidak menemukan halaman-halaman berisi penjelasan tentang perasaan berkonteks asmara. Ah, guru tak berhak mengajarkan asmara pada bocah-bocah. Perasaan kebangsaan? Konon, perasaan kebangsaan bagi bocah dan guru “diperkuat oleh lagu kebangsaan.” Oh, aku mulai mengerti bahwa lagu-lagu kebangsaan gubahan para komponis agung di Indonesia bermula dengan olah perasaan agar ada ajakan mencintai bangsa, negara, tanah air. Bocah-bocah pun gampang diajari lagu-lagu kebangsaan: Garuda Pancasila, Berkibarlah Benderaku, Indonesia Raya….

Buku berjudul Ilmu Djiwa, buku penting untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Di Indonesia, ada guncangan pendidikan: ujian nasional, JIS, STIP, demonstrasi guru honorer…. Ah, seribu masalah tak lekas bisa dirampungi. Aku memang turut menulis esai tentang Hari Pendidikan tapi menghindar dari tema-tema besar atau kasus-kasus heboh. Di Suara Merdeka, 2 Mei 2014, aku suguhkan esai berjudul Soalisme dan Jawabanisme. Esai bermula dari lagu Ibu Sud, penggubah lagu-lagu untuk bocah. Esai kecil agar aku tak selalu mengingat perempuan berambut panjang saat SD. Perempuan manis dan cantik tapi tak mendendangkan lagu Ibu Sud. Begitu.

Iklan