Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Aku pernah menandai halaman buku, berisi cerita peringatan Hari Buruh oleh kaum buangan di Boven Digoel, 1928. Marco Kartodikromo di pembuangan membuat catatan penting tentang kemauan peringatan Hari Buruh dengan kesenian. Aku mengimajinasikan Hari Buruh menjadi selebrasi impresif dan mengharukan. Eh, pihak kolonial malah membuat ulah. Kaum pergerakan mendapat perintah kerja eksploitatif. Hari Buruh dirusak oleh perintah dan siksa. Bangsat! Ingat Hari Buruh, ingat Boven Digoel. Sekarang, Hari Buruh sering mengingatkanku dengan aksi-aksi demonstrasi di Jakarta. Ribuan buruh berdemonstrasi! Apakah orang-orang mau mengingat ada selebrasi Hari Buruh di Boven Digoel?

Aku telah mengoleksi puluhan buku bertema buruh. Peringatan Hari Buruh mengingatkanku dengan buku tipis berjudul Merajakan Hari 1 Mei dengan Kesadaran! (Panitia Kesadaran Rakjat, Malang, 1952) garapan K. Yudha. Aku sengaja membaca dengan kepentingan mendapat kutipan untuk garapan esai-esai ke koran. Buku lawas perlu diajukan ke pembaca meski mereka berhak menganggap buku aneh.

Mei 1

Yudha menjelaskan: “Risalah ini dituliskan atas desakan keadaan, jang menundjukkan betapa djauhnja masih keinsjafan dan kesadaran jang sewadjarnja dari pada masjarakat dan bangsa kita umumnja.” Aku merasakan ada maksud berlebihan. Penggunaan ungkapan “desakan keadaan” mirip pengakuan dalam kisah asmara. Lho! Aku sering ingat “desakan” dan “keadaan” terkandung dalam novel novel-novel lawas, mengikutkan pengertian asmara dalam dilema adat dan modernitas. Eh, aku malah ingat asmara. Aduh!

Deskripsi peringatan Hari Buruh masa 1950-an: “Memang adalah mendjadi hak-kewajiban kaum buruh, jang terdiri berdjuta-djuta manusia diseluruh dunia, hak dan kewadjiban kaum pemakan-upah, kaum tidak bermilik-berkepunjaan… kaum proletar untuk memuliakan 1 Mei…” Peringatan Hari Buruh di dunia ikut mempengaruhi situasi perburuhan di Indonesia. Kaum buruh memiliki solidaritas, memperhubungkan dengan nasib jutaan kaum buruh di negeri-negeri asing. Di Indonesia, Hari Buruh adalah ekspresi untuk penghormatan dan pemartabatan.

Mei 2

Aku pernah mencoba mencari “sejarah” penggunaan istilah buruh di Indonesia melalui buku-buku lawas dan kamus. Dulu, ada istilah “koeli” saat di Sumatra ada perkebunan-perkebunan. Aku belum tahu hubungan istilah “koeli” dengan “boeroeh”. Pengetahuan latar agraris dan industri mesti dimengerti dulu sebelum sadar dengan pemaknaan istilah. Pembentukan kota-kota kolonial, pertumbuhan agenda kapitalisme, deru modernisasi pun menentukan penggunaan istilah “boeroeh”. Aku masih bergerak lamban untuk menemukan alur penggunaan istilah “boeroeh. Awal abad XX, para jurnalis dan kaum pergerakan sudah menggunakan istilah “boeroeh” dalam tulisan dan pidato.

Yudha mengingatkan: “Sedjarah hari satu Mei ditanah air Indonesia tentu sadja tak terpisahkan dari pada sedjarah tanah air dan bangsa seluruhnja. Garis-garis jang dilalui, berdjalan sedjajar, atau berdjalan diatas garis-garis sedjarah tanah air umum. Karena itu maka haruslah kita menindjau hari satu Mei dimasa kolonial, istimewa memeriksa keadaan dizaman kebangunan bangsa dengan pergerakan kebangsaannja, kemudian hari satu Mei diwaktu pendudukan Djepang, dan achirnja hari satu Mei ditahun revolusi nasional dan Republik Indonesia tjiptaan 1945, hingga dewasa ini, setelah Indonesia mendjadi negara kesatuan jang merdeka dan berdaulat.” Aku terbujuk untuk sepakat bahwa sejarah buruh “berdjalan” sejajar dengan sejarah tanah air. Konklusi tegas meski memerlukan argumentasi besar jika menilik kesejarahan kedatangan bangsa-bangsa asing dan alur kolonialisme. Aku memberi “sepakat” agar ada “sensasi” mengimajinasikan sejarah.

Mei 3

Aku memberi perhatian untuk penjelasan Hari Buruh berlatar situasi politik di Indonesia. Yudha menulis: “Sedjarah revolusi nasional sesudah tahun 1948 memperlihatkan gambaran dan halaman-halaman hitam, karena persatuan rakjat mulai retak dan diretak-petjahkan. Kaum buruh, gerakan buruh jang semula dengan ichlas-djudjur berdiri didalam suatu benteng dan suatu front dengan lain-lain golongan sebangsa menghadapi musuh, mulai mengemukakan kepentingan-kepentingannja jang chusus, mulai menuntut perwudjudan-perwudjudan ideologie-ideologienja, djuga kalau ideologie-ideologie itu tidak sesuai dan merugikan bagi negara dan masjarakat, jang masih berhadap-hadapan dengan musuh-musuh kemerdekaannja. Hari satu Mei dengan berangsur-angsur diisi, didjadikan hari perdjuangan kasta, dinamai golongan buruh dengan pimpinan pengandjur-pengandjur jang penuh berisi marxisme, leninisme, stalinisme…” Aku menduga uraian Yudha tentu berkaitan PKI. Ah, aku sering merasa ada pemaknaan besar dari PKI saat menggunakan istilah buruh. Barangkali PKI memang sengaja “membesarkan” istilah buruh agar tak dilupakan dalam sejarah Indonesia.

Soeharto pun mengakui istilah buruh mengikutkan imajinasi PKI. Ingat, Soeharto enggan menggunakan istilah buruh selama Orde Baru. Sang penguasa mengganti dengan istilah berbeda agar ada penghalusan dan “pelupaan” sejarah. Seingatku, istilah “pekerja” cenderung mengartikan siasat represif dan kontrol atas gerakan buruh agar tak mengganggu stabilitas pembangunan nasional. Soeharto pun tak memperkenankan ada peringatan Hari Buruh. Sekarang, pemerintah telah memberi warna merah untuk peringatan Hari Buruh. Libur! Kaum buruh mengisi dengan demonstrasi: bergerak dan bergemuruh. Begitu.

Iklan