Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Pergi ke Jogjakarta. Rabu, 7 Mei 2014, aku bertugas menjadi moderator untuk Forum Mangunwijaya IX di Hotel Santika. Acara diselenggarakan oleh DED dan Kompas. Aku telah menganggap peranku salah saat dihubungi panitia. Apakah mereka tak salah memilihku menjadi moderator? Kebiasaanku sering mengacaukan diskusi dengan gojek dan tawa. Ah, mereka pasti salah dalam menentukan posisiku sebagai moderator.

Eh, apakah Tuhan memang serius mengutusku untuk menjadi moderator? Aku memang sering ditugasi sebagai moderator meski membuat acara berantakan. Ha! Aku masih ingat peristiwa lucu dan menegangkan dalam acara obrolan buku tentang Mangkunegaran di Balai Soedjatmoko, Solo. Di daftar acara, ada keterangan Wiranto memberi sambutan sebelum diskusi. Lho! Keputusan cepat harus aku sampaikan ke publik. Aku pun menganjurkan ke Wiranto agar menikmati diskusi dan membuat catatan. Di akhir acara, aku jadwalkan Wiranto berkhotbah. Wah, panitia dan publik agak bingung dengan kenekatanku menempatkan Wiranto di akhir. Wiranto pun tampak “tersinggung”. Aku cuma mesem, tak memberi balasan ungkapan saat kita bersalaman. Aku terkenang masa lalu. Ulah itu membuatku harus mawas diri agar tak sembrono dalam memerankan diri sebagai moderator.

Mawas Diri 1

Di Hotel Santika, St. Sularto memberi sambutan. Lelaki bertubuh kecil dan kepala botak. Sambutan agak resmi. Aku mengetahui St. Sularto adalah orang penting di Kompas. Di mimbar, St. Sularto menceritakan pelbagai alasan dan misi mengadakan Forum Mangunwijaya dan penerbitan buku-buku Romo Mangun. Ambisius! Sambutan selesai. Tepuk tangan. Jatahku tampil sebagai moderator. Empat pembicara aku persilakan duduk. Di tengah, ada kursi kosong. Aku sengaja tak mau duduk di kursi moderator. Tuhan, aku tentu gemetar duduk di kursi tengah. Lihat, di sebelah kanan ada Prof. Dr. A. Sudiarja dan di sebelah kiri ada Prof. Dr. Bakdi Soemanto. Aku memilih berdiri di mimbar, bersaing pesona dengan cara berpidato St. Sularto. Weh! Acara pun kacau. Di ujung diskusi, aku memohon maaf ke panitia, pembicara, publik. Aku mengaku tak memiliki “tata bahasa” dan “tata krama”. Mereka tetap saja tertawa. Aku dianggap bukan moderator. Aku adalah pendagel. Aduh! Aku tak mawas diri.

Usai acara, aku berbincang sejenak dengan St. Sularto. “Apakah njenengan pernah menulis artikel-artikel di majalah Mawas Diri tahun 1970-an?” St. Sularto cepat menjawab: “Ya”. Dia agak bingung menghadapi ucapan-ucapanku. “Aku membaca esai-esaimu. Aku membaca dan mengoleksi majalah Mawas Diri?” St. Sularto memandang sekejap. “Mas membaca majalah-majalah lawas?” Aku mesem saja.

Mawas Diri 2

Mawas Diri, majalah pimpinan S.K. Trimurti: berisi masalah dan analisa kejiwaan dipandang dari sudut ilmiah, filsafat, psikologi, keagamaan, aliran kepercayaan. Terbit sejak 1972. Alamat penerbit: Jalan Kramat Lontar H-7, Jakarta. Di kata pengantar edisi perdana, tercantum keterangan: “Mengapa kami memberanikan diri untuk menerbitkan madjalah ini? Karena kami menjadari, bahwa sampai sekarang, kenjataannja, memang masih banjak orang-orang jang tidak mengenal dirinja sendiri, meskipun orang itu mungkin sudah mengenal ilmu jang setinggi-tingginja.” Aku terlambat membaca Mawas Diri. Keterlambatam aku tebus dengan mencari, mempelajari, mengoleksi puluhan majalah Mawas Diri.

Aku membaca Mawas Diri No. 9, 15 September 1973. Di sampul depan bagian dalam, ada iklan sehalaman: Pertamina. Apakah hubungan Pertamina dengan Mawas Diri? Aku jelas tak tahu. Ada artikel berjudul Pola-Pola Kepemimpinan di Indonesia garapan Soerjono Soekanto. Orang-orang Indonesia pasti mengenal sang penulis buku laris untuk perkuliahan sosiologi. Artikel berisi uraian biasa. Aku tak mungkin menggunakan sebagai kutipan untuk garapan esai-esai jelang pilpres.

Aku tertarik membaca artikel dari A. Djaffar berjudul Pengertian Ketuhanan Didalam Bhagavad Gita. Eh, aku malah ingat buku garapan Prof. Dr. A. Sudiarja tentang Bahgavad Gita, terbitan USD Jogjakarta. Uraian filosofis. Aku telah membaca, bermaksud menata buku-buku mengenai ulasan Bhagavad Gita di Indonesia, sejak Kwee Tek Hoay. Aku sudah memiliki puluhan buku. Kapan digarap menjadi esai-esai bertema Bhagavad Gita? Ah, kapan-kapan saja.

Mawas Diri 3

Aku beralih membaca esai kecil berjudul Renungan Tentang Cinta garapan St. Sularto. Wah, Mawas Diri juga memiliki rubrik asmaranisme! Seru! St. Sularto masih muda, berfilsafat tentang cinta. Sangar. Aku menemukan kutipan-kutipan dari Sartre, Drijarkara, Empedokles, Felix Dantec, Thomas Moore… St. Sularto pasti lelaki cerdas. Sekarang, aku melihat St. Sularto tampil secara rapi, sopan, berwibawa, bijak. Aku pernah mengingat St. Sularto adalah Kompas. Ingatan bertambah, St. Sularto adalah Mawas Diri. St. Sularto menulis: “Jelas bahwa kita sebagai manusia membutuhkan cinta orang lain dan cinta kita pun dibutuhkan orang lain. Di sini bukan diartikan cinta untuk persona tetapi untuk sesama.” Lho! Konklusi St. Sularto mirip nasihat-nasihat Romo Mangun: cinta, religiositas, humanisme….

Aku mesti mawas diri meski tak sempat setor esai-esai ke majalah Mawas Diri. Ungkapan khas dan mengingatkan agar diriku tak selalu khilaf dan berdosa. Di Hotel Santika, aku terbukti belum mawas diri. Begitu.

Iklan