Tag

, , ,

Bandung Mawardi

10 Mei, aku dan Pri menempuh perjalanan dengan naik bis, dari Solo ke Kudus. Dulu, aku selalu mengimajinasikan Kudus adalah “Kota Suci”. Kudus, orang ingat Menara Kudus, rokok, jenang…. Aku ingat Kudus, ingat para pembelajar dan esais. Sekian tahun silam kehadiranku ke Kudus sering berkaitan literasi. Aku cuma memiliki memori literasi. Aku jarang mendapat memori religius. Di Kudus, aku belum pernah berziarah ke makam-makam. Eh, perjalanan ke Kudus justru membuatku membuka memoori masa remaja. Di bis, ada lagu-lagu kenangan Indonesia. Aku menikmati dengan sendu dan kekangenan diri saat masih berlaku menjadi remaja lugu: dibuai imajinasi asmara. Oh!

Di Kudus, aku berkhotbah tentang esai. Aku sering memberi selingan lagu dan cerita-cerita “jorok”, bermaksud mengajak teman-teman enteng mengurusi esai. Aku sengaja menggunakan siasat “kasar” agar ada tawa dan wajah-wajah semringah. Siang memberi keringat, mengucur deras. Kata-kata pun terucap dengan bergairah, dari detik ke detik. Siang berganti sore. Aku tak sempat mendendangkan lagu-lagu agamis untuk teman-teman.

Agama 1
Aku ingin menebus dengan petikan-petikan lagu dalam buku lawas berjudul Lagu-Lagu Sekolah Agama (Noordhoff-Kolff, 1953). Cerita oleh Usman Gani. Lagu dan “sjair” oleh Kasim St. M. Sjah. Buku “penting” tapi aku belum pernah mendengar ada orang melantunkan lagu-lagu di hadapanku. Lagu cuma berumah di buku? Aku perlu mencari informasi dari orang-orang. Lagu menjadi urusan besar, berlatar pendidikan dan situasi keberagamaan masa 1950-an. Siapa bisa memberi keterangan-keterangan padaku? Aku tentu bakal memberi hadiah buku sebagai tanda terima kasih.
Di halaman kata pengantar, ada penjelasan: “Oleh karena mendengarkan saran-saran dari guru-guru jang mengadjar di madrasah-madrasah serta kawan-kawan dalam kalangan Djawatan Pendidikan Agama, jang menjatakan djuga dibutuhkan njanjian-njanjian disekolah-sekolah agama, maka kami susunlah lagu-lagu ini, jang kata-katanja sebahagian besar menggambarkan kebesaran agama Islam dan perdjuangan-perdjuangan Nabi besar kita Muhammad s.a.w berserta pengikut-pengikut beliau dan nabi-nabi lain pada menegakan agama Allah.” Berlagu, beragama. Aku pernah sering melantunkan lagu-lagu bernuansa Islam saat remaja meski imanku tak terlalu meningkat. Ha!

Agama 2
Aku ingin memberi petikan lirik lagu berjudul Al Amin. Lagu tentang sifat Muhammad: Sekali peristiwa Ka’bah orang dapati/ Sudah tua hampir ‘kan runtuh/ Pendapat orang ramai Ka’bah patut diganti/ Kerja gotong rojong dan patuh/ tetapi hajrul aswad ‘nimbulkan sengketa hebat/ Orang Kuraisj berebut mengangkat batu mulia/ Menundjukkan bukti m’reka setia// Oleh ribut berebut terjadilah sengketa/ Semua menjangka hak dia/ Hampir darah tertumpah, djika tidak berkata/ Seorang jang landjut usia:/ Al Amin kita tjari/ Putusannjalah dengari/ Siapa jang masuk mesdjid dulu sekali/ Itulah jang berhak ‘kan mengadili. Dulu, aku pernah ikut TPA di Masjid Al Ma’mur, Blulukan, Colomadu. Guru mengaji berkata bahwa Al Amin adalah julukan sifat bagi Muhammad. Sekarang, aku sudah besar tepi belum bisa meniru sifat-sifat Muhammad.
Aku mendapati lirik-lirik lagu adalah cerita, berbeda dengan lagu-lagu pujian di desa. Bercerita dengan lagu. Berlagu untuk iman dan takwa. Aku sudah lama tak berlagu agama. Aku sering melantunkan lagu-lagu Ratih Purwasih, Ella, D. Dores… Lagu-lagu asmara. Aku tak pernah bermaksud memberi kepastian bahwa lagu-lagu asmara bisa meningkatkan iman dan takwa.
Aku sajikan lirik lagu berjudul Mentjari Tuhan, bernuansa filosofis. Simaklah: Ketika malam sudah datang/ Langit bertabur bintang/ Gemilang tjemerlang laksana permata/ Nabi Ibrahim pun berkata/ O, inikah kiranja Tuhan/ Jang bersifat rahim dan rahman/ Tempat kita berdoa tempat meminta/ Jang mentjiptakan alam semesta/ Bintang segra hilang lenjap tidak kekal tak abadi/ Melihat jang begitu Ibrahim menjatakan menjembahnja tak sudi/ Bulan terbit besar dan penuh/ Menjinari alam seluruh/ Tetapi ini pun tidak kekal/ Tidak ‘kan tetap ia tinggal. Lagu bercerita tentang ikhtiar Ibrahim mencari Tuhan. Sangar! Lagu mungkin tak merdu tapi cerita bisa membuatku mempelajari lagi biografi Ibrahim: “Bapak Monotheisme.”

Agama 3
Pelajaran agama melalui cerita dan lagu tentu memberi pikat bagi murid. Dulu, aku mendapati mata pelajaran agama bernuansa perintah dan larangan. Guru agama jarang tampil memukau, memberi ajakan mempelajari agama dengan gembira. Di kelas, belajar agama mirip belajar untuk membesarkan takut dan menguatkan kepatuhan berdalih ajaran-ajaran dalam agama. Pelajaran tanpa lagu dan cerita. Aku justru sering disituasikan mengingat dosa dan neraka. Hi!
Aku memang harus ingat dosa, berikhtiar memperbaiki diri agar lolos dalam ujian masuk surga. Lirik dalam lagu berjudul Sadarlah mesti jadi renunganku: Dikala langit hantjur/ Semesta alam lebur/ Berserak s’mua bintang/ Tanda saatnja datang/ Saat dunia kiamat/ Jang hebat dahsjat amat/ Semua remuk redam/ Berahirlah riwajat alam… Mengapa cerita kiamat tak romantis dan indah? Aku selalu mendapat gambaran-gambaran seram. Aku ingin ada pujangga atau novelis mengisahkan kiamat dengan bahasa-bahasa lembut dan lugu. Begitu.

Iklan