Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Aku belum bosan meributkan pendidikan di Indonesia. Gelar kesarjanaanku memang berkaitan pendidikan meski keilmuanku tak mumpuni. Selama kuliah, nilai-nilai untuk perkuliahan pendidikan tak pernah sempurna. Aku merasa sulit menerima penjelasan dari para dosen. Buku-buku perkuliahan juga tak sedap dipandang, tak mengundang berahi literasi. Weh!

Sekian hari silam, aku menerbitkan buku berjudul Pendidikan: Tokoh, Makna, Peristiwa, berisi 41 esai. Tebal 150 halaman. Buku kecil untuk mendokumentasikan esai-esaiku tentang pendidikan, 2009-2014. Sekian esai belum ditemukan di komputer atau tumpukan koran. Aku memang tak rapi dalam “mengarsip” tulisan. Penerbitan buku menjadi siasat agar ada materialisasi kerja literasi.

Susila 1
Aku berencana bakal menerbitkan buku lagi, berisi ulasan-ulasan kecil mengenai buku-buku pendidikan lawas. Amin. Aku sudah mulai sejak dulu tapi belum ditata rapi. Sekarang, aku mengurusi buku lawas berjudul Sedjarah Pendidikan (J.B. Wolters Groningen, 1956) susunan Mohammad Said. Buku berpenampilan sederhana. Tebal 84 halaman. Di Indonesia, buku Sedjarah Pendidikan mungkin hampir punah. Aku jarang menemukan pengutipan isi buku dalam tulisan para intelektual dan pengamat pendidikan.

Said melakukan pembelajaran atas pemikiran sekian tokoh penting untuk mempersembahkan bacaan penting dalam rencana pelajaran di SGA. Pengakuan Said: “Dalam penjelenggaraan buku ini kita banjak-banjak mengutjapkan terima kasih kepada Tuan Jac. Bijl, dosen Universitas Negeri Gadjah Mada, jang telah membatja dan memberi saran-saran guna perbaikan buku ini, Bapa De Queljoe, inspektur pendidikan guru, jang telah membatja naskah ini dan djuga memberi saran untuk memperlengkapkannja dengan fasal jang penghabisan dari buku ini serta Bapa Ki Hadjar, jang telah membatja dan memperbaiki karangan beliau sendiri dalam peladjaran ke-18.”

Susila 2

Said mengulas pemikiran-pemikiran dari 17 tokoh. Aku mengenal sekian tokoh terkenal di dunia: John Locke, Jean Jacques Rousseu, Friedrich Frobel, John Dewey, Maria Montessori, Rabindranath Tagore. Tokoh Indonesia ditaruh di urutan belakang, menggenapi perbincangan tokoh-tokoh lawas. Tokoh Indonesia itu bernama Ki Hadjar Dewantara, dimuat di peladjaran ke-18. Said menulis dengan bantuan koreksi dari Ki Hadjar Dewantara. Dua tokoh berkoalisi. Sip!

Aku mesti membaca ulang keterangan-keterangan penting dalam pelajaran ke-18. Aku perlu mengutip perjalanan Ki Hadjar Dewantara di jagat politik dan jagat pendidikan: “Umur 23 tahun, mendjadi pemimpin Indische partij (IP) bersama-sama Dr. Douwes Dekker dan Dr. Tjipto… Umur 33 tahun, Taman Siswa didirikan oleh Ki Hadjar, jang bernama mula-mulanja National Onderwijs Instituut Taman Siswa.. Umur 39 tahun, R.M. Suwardi Suryaningrat berganti nama mendjadi Ki Hadjar Dewantara…. Menerbitkan madjalah Wasita.” Keputusuan-keputusan penting diwujudkan saat sang tokoh masih berusia muda. Ah, aku tak bisa seambisius Ki Hadjar Dewantara. Mengapa? Oh, mengapa? Bandung Mawardi terus menua tapi tak memiliki peristiwa-peristiwa “penting” bagi Indonesia. Terlalu!

Susila 3

Aku lanjutkan dengan membaca pelajaran-pelajaran di depan. Tokoh bernama John Locke sudah aku kenali sejak SMA. Said memilih Locke dalam konteks pendidikan. Locke, manusia dari abad XVII, memberi warisan gagasan-gagasan besar. Locke menjelaskan tujuan pendidikan: “… jang penting dari pendidikan ialah untuk pembentukan pribadi jang susila. Ini terletak pada penguasaan diri sendiri; akal berkuasa hendaknja daripada nafsu… Jang perlu diberikan pada anak-anak ialah kebenaran, kebidjaksanaan, tjara hidup jang baik dan ilmu pengetahuan.” Eh, ilmu pengetahuan ditaruh belakang. Ingat, sekolah-sekolah di Indonesia malah sering menaruh ilmu pengetahuan di depan. Tujuan pendidikan adalah susila. Mengapa Nuh menginginkan jutaan murid dan mahasiswa di Indonesia pintar atau cerdas?

Aku tak bisa melupakan Tagore. Aku harus mengutip penjelasan-penjelasan tentang Tagore. Pilihan Said aku sepekati. Tagore adalah tokoh pendidikan tulen. Ada keterangan: “Umur 39 tahun, sekolahnja di Shantiniketan, 3 km diluar kota Balpur, dibukanja dengan 4 orang murid. Maksudnja bukan sekolah sadja, tetapi sebuah rumah peristirahatan bagi pemimpin-pemimpin India, jang sedang berdjuang, sebab waktu itu sedang rusuh, lebih-lebih di Benggala… Umur 60 tahun, ke Eropah lagi – sekembalinja ke India membuka Visva Bharati, perpustakaan dunia untuk India.” Tuhan, perkenankanlah Bandung Mawardi alias Kabut “meniru” tindakan-tindakan Tagore: mendirikan “sekolah” dan perpustakaan. Amin. Amin. Amin.

Buku Sedjarah Pendidikan tentu bacaan penting di masa 1950-an. Para murid, calon guru, guru mendapat bacaan bermutu, menggugah gairah untuk menggerakkan pendidikan di Indonesia. Ingat, pendidikan berbasis religisositas, adab-susila, ilmu. Penulisan buku-buku bertema pendidikan turut menentukan diskursus pendidikan saat Indonesia ingin menjadi bangsa mulia. Said sudah mempersembahkan buku meski memiliki ketergantungan dengan referensi-referensi asing. Pembelajaran pemikiran-pemikiran dari tokoh dunia memang penting. Aku cuma menunduk-ragu saat mendapati tokoh dari Indonesia cuma tunggal: Ki Hadjar Dewantara. Aduh! Indonesia terlalu dipenuhi tokoh-tokoh politik ketimbang tokoh pendidikan. Sekarang, tokoh penting di Indonesia adalah artis dan ustadz. Begitu.

Iklan